Zaman Perkembangan Islam di Madura, Jawa Timur


Madura pada jaman perkembangan Islam, masuknya Islam di lingkungan keraton diawali oleh seorang putera mahkota kerajaan Palakaran (di Arosbaya, Bangkalan) bernama Pangeran Pratanu putera dari Pangeran Pragalbo. Pada masa kejayaan Sultan Agung, Raden Praseno, cucu Pangeran Pratanu diberi wewenang untuk menguasai seluruh Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat I berkedudukan di Sampang, yang kemudian digantikan oleh puteranya bernama Raden Undakan dan bergelar Pangeran Cakraningrat II.

Pada saat itu pemerintahan di Mataram banyak dikendalikan oleh politik adu domba kompeni (VOC), sehingga Trunojoyo, anak Raden Demang Melayakesuma atau kemenakan Pangeran Cakraningrat II memberontak dan berhasil menangkap Pangeran Cakraningrat II di Mataram yang kemudian diasingkan ke Lodaya, walaupun akhirnya dikembalikan sebagai penguasa Madura barat setelah pemberontakan Trunojoyo berhasil dipadamkan. Pada saat itu pemerintahan dipindahkan dari Sampang ke Tonjung (Bangkalan).

Pangeran Cakraningrat II digantikan oleh puteranya bergelar Pangeran Cakraningrat III. Pangeran Cakraningrat III diakhiri oleh pemberontakan adiknya, bernama R.T. Suroadiningrat yang sekaligus bergelar Pangeran Cakraningrat IV dan karena menentang Kompeni maka dibuang ke Tanjung Harapan, selanjutnya diganti oleh puteranya bernama R.A. Secoadiningrat I dan bergelar Panembahan Adipati Cakraningrat V.

Pada saat itu pusat pemerintahan berada di Sembilangan, yaitu sejak dipindahkannya dari Tonjung pada masa pemerintahan Cakraningrat IV. Panembahan Adipati Cakraningrat V diganti oleh cucunya yang kemudian dengan gelar Panembahan Adipati Cakraningrat VI dan setelah meninggal digantikan oleh pamannya bergelar Pangeran Adipati Cakraningrat VII.

Sejak 1528, dimana perkembangan Islam dimulai dari Arosbaya yang merambah ke Timur , agama Islam merupakan faktor dominan yang mempengaruhi percaturan kehidupan politik di seluruh Madura. Selama itu hingga sekarang kejadian-kejadian yang menonjol dapat diamati dengan suksesi sbb :

  • Dalam tahun 1624, pasukan Sultan Agung menguasai Madura;
  • Dalam tahun 1672, Trunojoyo mengusir kembali pasukan Sultan Agung dalam pemberontakan;
  • Dalam tahun 1680, dengan bantuan Kompeni (VOC) pemberontakan dipadamkan dan pulau Madura terbagi dua, ialah Madura Barat, meliputi daerah Bangkalan dan Sampang, dibawah garis keturunan Cakraningrat dan Madura Timur meliputi Sumenep dan Pamekasan, dibawah pengaruh Mataram yang kemudian diserahkan kepada Kompeni (VOC).
  • Dibawah cengkeraman kolonial Belanda, keadaan Madura yang getir itu terus berlangsung hingga 1942, dalam keadaan Perang Dunia II, dimana rakyat harus menghadapi keadaan yang lebih pahit lagi dalam kemelaratan ekonomis dan kerja paksa dibawah kekuasaan perang pihak Jepang, hingga kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945

di Nukil=S1Wh0T0=: dari Koleksi Deposit. Tanpoaran

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Pos ini dipublikasikan di Madura, Sejarah, Th. 2013 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s