Memalu


Memalu adalah salah satu proses Pembuatan Gamelan  di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, yang disebut memalu adalah pekerjaan menempa dengan sebuah alat yang disebut palu. Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas memalu, jumlahnya tidak tetap. Hal ini tergantung dari jenis gamelan yang sedang dibuatnya.

Sementara pekerjaan berlangsung, jumlah tenaga yang bertugas memalu sekurang-kurangnya 2 orang dan sebanyak-banyaknya 4 orang. Untuk mengerjakan sebuah Gong Besar atau Gong Totogan diperlukan 4 orang pegegang palu. Bahkan seringkah dipersiapkan pula beberapa orang cadangan. Sedangkan untuk membuat jenisgamelan yang berukuran lebih kecil dari Gong -Totogan, sering dilakukan oleh 3 orang pemalu; misalnya pada saat membuat berbagai macam kempul dan kenong. Dan untuk membuat jenis bonang, bisa dilakukan oleh 2 orang pemalu.

Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas melakukan pekerjaan memalu, mempunyai sebutan sesuai dengan posisi pada saat melakukan pekerjaan. Secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: Palu -Ngarep, Palu – Tengah, Palu – Apit dan Palu – Tepong. Bila ditinjau dari kedudukan dalam arti tingkat kemampuan, dapat disebut dalam urutan sebagai berikut : Palu – Ngarep, Palu- Tepong, Palu – Tengah dan Palu – Apit.

Tenaga pande gamelan yang bertugas memegang Palu- Ngarep, pada umumnya memiliki kepandaian setingkat dibawah panji. Dalam praktek sehari-hari, seringkali membantu pekerjaan Panji, misalnya “ngider” atau membantu membentuk gamelan pada saat pekerjaan hampir selesai. Tingkat dibawah Palu – Ngarep adalah Palu – Tepong. Kendatipun dalam praktek kerja Palu – Tepong berada pada posisi yang paling akhir, tetapi ditinjau dari segi tingkat kemampuannya, setingkat lebih tinggi bila dibandingkan dengan Palu – Tengah atau Palu – Apit.

Palu – Tengah merupakan palu penutup kegiatan menempa..Bila dibandingkan dengan Palu-Ngarep, Palu- Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu yang dilakukan oleh Palu-Tepong berbeda. Untuk Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu dilakukan dengan tangan kanan berada di depan atau berada di dekat mata palu, tangan kiri berada pada ujung tangkai palu. Sedangkan untuk Palu-Tepong, justru tangan kiri berada didekat mata palu dan tangan kanan berada pada ujung tangkai palu. Pekerjaan memalu dengan tangan kanan berada didepan disebut “nengen”. Dan bila tangan kiri yang berada didepan disebut “ngiwo”.

Peranan Palu-Ngarep dan Palu-Tepong cukup penting; hal ini terlihat jelas dalam praktek sehari-hari. Dilingkungan pande gamelan jumlah pemegang palu paling banyak 4 orang, dan paling sedikit 1 orang. Keempat palu baru dipergunakan untuk membuat gamelan yang berukuran besar, misalnya Gong Totogan, Kempul Suwukan dan Kempul Dhadha. Untuk jenis gamelan berupa Kempul lainnya dan Kenong, diperlukan tiga palu, yaitu Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Tepong. dan untuk membuat bonang biasanya diperlukan 2 palu, yaitu Palu Ngarep dan Palu- Tepong. Sedangkan untuk membuat jenis Wilahan, biasanya diperlukan 1 palu.

Kerja sama antara Panji dan pemegang palu dapat diamati dengan jelas pada saat kegiatan menempa sedang berlangsung. Bagian yang harus dipukul, diarahkan oleh Panji dengan jalan memutar-mutar bakal gamelan diatas landasan atau tandes. Gerakan memutar dilakukan setelah Palu-Tepong selesai memukul. Pukulan pertama dilakukan oleh Palu-Ngarep, dilanjutkan oleh Palu-Tengah, Palu-Apit dan ditutup oleh Palu-Tepong.

Pekerjaan semacam itu berulang-ulang dilakukan sampai keadaan lakar/bakal gamelan menunjukkan tanda-tanda tidak mungkin dipukul lagi. Berapa kali rangkaian pukulan tersebut dilakukan, untuk tiap tahap tidak selalu sama dan dalam hal ini Panji yang menentukan. Bila keadaan lakar menunjukkan tanda-tanda tidak memungkinkan untuk ditempa terus, maka Panji memberi aba-aba berhenti. Dalam hal ini pemegang palu harus taat menghentikan pekerjaannya.

Biladilanggar, resikonya cukup berat karena besar kemungkinan lakar gamelan itu pecah. Untuk men nulang pekerjaan menempa, lakar harusdibakarulang. Dan pada saat pembakaran sedang berlangsung, Panji melakukan pekerjaan memutar-mutar lakar atau membalik lakar tersebut agar pembakaran merata. Sementara itu pemegang palu Ngarep mempersiapkan palu yang akan dipergunakan dan pemegang palu lainnya mempersiapkan tandes, yaitu dibersihkan atau diberi tanah liat sebagai ganjal. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan tanpa menunggu perintah, jadi berjalan secara otomatis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10-12

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Magetan, Seni Budaya, Th. 1995 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s