Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Sunan Ampel, Surabaya


-1999-
Masjid Sunan Ampel tepatnya berlokasi di Ampeldento yang kini berada di kawasan Surabaya Utara, tepatnya terletak di Jalan Ampel Masjid Nomor 53, Kampung Nyamplungan, Kelurahan Ampel, Kecamatan Simokerto, Kotamadia Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Bangunan masjid berbatasan dengan pemukiman dan makam di sebelah utara, di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan pemukiman dan pertokoan, di sebelah barat berbatasan dengan kompleks makam Sunan Ampel. Dahulu daerah ini merupakan daerah pinggiran sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas ke pusat Kerajaan Majapahit.

Deskripsi Bangunan Masjid Sunan Ampei memiliki luas 5.624,84 m2 yang semula hanya 2.069 m2. Di bagian barat kompleks masjid terdapat kompleks makam Sunan Ampel dan para pengikutnya. Di bagian selatan terdapat dua bangunan bertingkat dua. Lantai I merupakan mushala khusus wanita dan lantai II untuk kegiatan pengajaran bahasa Inggris. Selain untuk tempat ibadah rutin, masjid ini sering menyelenggarakan kegiatan yang sifatnya menambah wawasan umat melalui eeramah-ceramah keagamaan.

 Ruang utama
Sebelum masuk ke masjid terdapat gapura, pada bagian tengah berbentuk lengkungan sempuma dan atapnya terdapat hiasan pilaster persegi, pelipit dan lengkungan yang berukuran 80 cm x 2 x 3 m. Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding terbuat dari tembok dan berdiri diatas pondasi setinggi 0,6 m. Luas bangunan 50 x 20 m dan tinggi 5 m. Ruang utama masjid memiliki sembilan buah pintu terbuat dari kayu jati yang dicat berwama krem yang menghubungkan ruang utama dengan serambi. Tiga buah pintu terdapat pada sisi timur, sedangkan pada sisi utara terdapat tiga buah dan selatan terdapat tiga buah pintu. Di dalam seluruh pintu masuk terdapat sebuah anak tangga yang tingginya masing-masing 30 cm. Seluruh anak tangga itu seluruhnya dilapisi oleh keramik bermotif polos. Ke seluruh pintu masuk terletak terletak tidak sejajar dengan permukaan dinding luar, tetapi menjorok 30 cm ke dalam.

Selain sembilan buah pintu pada dinding ruang utama masjid, juga terdapat 10 buah jendela terbuat dari kayu jati yang dicat berwama krem. Pada dinding utara dan selatan masing-masing empat buah jendela, pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Jendela-jendela tersebut masingmasing berukuran 2 x 3 m, dan mempunyai dua buah daun jendela. Pada jendela bagian bawah terdapat kisi-kisi kayu yang terdiri dari sebilah kayu yang disusun.

Di dalam ruang utama terdapat 28 buah tiang. Seluruh tiang berbentuk empat persegi, tiang berdiri diatas umpak. Seluruh tiang dibuat dari kayu jati mempunyai hiasan susunan pelipit berbentuk segi delapan di tubuh tiang. Lantai utama tertutup keramik berwama polos yang dilapisi dengan karpet berwama hijau pada seluruh permukaan lantai.

Mimbar masjid berdiri di atas pondasi selasar terbuat dari kayu jati. Ruang mimbar berukuran 1,5 m x 90 cm x 2 m. Di dalamnya terdapat empat buah anak tangga dengan tinggi 10 cm. Pada ujung anak tangga tersebut terdapat tempat duduk dari kayu berukuran 1,1 x 0,5 m serta tingginya 50 cm. Permukaannya dihiasi oleh cat kuning emas dan bermotif sulur.

Serambi
Serambi masjid merupakan bangunan tertutup dan terbuka. Masjid Sunan Ampel memiliki serambi pada ketiga sisi ruang utama, yaitu serambi barat, utara dan selatan, masing-masing berukuran 20 x 5 x 5 m. Seluruh permukaan lantai serambi dilapisi oleh keramik. Pada ketiga serambi ini terdapat 21 tiang berbentuk bulat. Pada puncak tiang terdapat hiasan pelipit rata dan setengah lingkaran. Tiang-tiang ini dihubungkan satu sarna lain dengan lengkung penopang atap serambi. Tubuh tiang pada serambi barat dihubungkan oleh tembok sehingga merupakan serambi terbuka. Di dalam serambi juga terdapat bedug yang digantungkan pada gawangan kayu.

Latar Sejarah
Masjid Sunan Ampel ini didirikan sekitar tahun 1450 M oleh Raden Rahmatillah atau Raden Rahmat yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Untuk memulai usahanya, Raden Rahmat membuka pondok pesantren di Ampeldento, Surabaya Utara. Di tempat ini dididik para pemuda-pemuda Islam sebagai kader untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa. Menurut riwayat, Sunan Ampel adalah putera dari Maulana Malik Ibrahim dari Dewi Candrawulan. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila ia memperoleh empat orang putra yaitu: Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Dradjat), dan Puteri (istri Sunan Kalijaga).

Sunan Ampel juga tercatat sebagai perancang kerajaan Demak. Dialah yang mengangkat Raden Patah sebagai Sultan pertama Demak. Disamping itu juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak bersama wali-wali yang lain yaitu membuat salah satu dari saka guru yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M dan dimakamkan di masjid Ampel.

Masjid Sunan Ampel mengalami perluasan dan renovasi empat kali. Perluasan pertama dilakukan oleh Adipati Aryo Cokronegoro C., dengan menambah bangunan di sebelah utara bangunan lama. Pada tahun 1926 dilakukan perluasan kedua oleh Adipati Regent Raden Nitiadiningrat. Sedangkan perluasan ketiga dan keempat dilakukan pada tahun 1954 dan 1974.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.179-180, Deposit : CB-D13/1999-339.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya, Wisata Relegi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Sunan Ampel, Surabaya

  1. Ping-balik: Revitalisasi Ampel | Pusaka Jawatimuran

  2. Ahmas Syaichu berkata:

    Saya pernah sholat duhur dan asar di Masjid Jamik Sunan Ampel Surabaya yang begitu besar dan megah. Ada rasa bangga dan takjub, akan tetapi saya sedih saat jadi makmum, dimana suara imam saat mengucapkan “ALLAAHU AKBAR” tidak terdengar walaupun ada microphone, padahal saya ada si shof pertama sebelah kanan.
    Selesai sholat, saya temui isteri yang juga jadi makmum agak jauh dibelakang, tidak terdengar sama sekali, dan tentu saja jamaah perermpuan berantakan.
    Saran saya : Cari imam masjid yang lebih mudah dan grakannya gesit serta fasih dan lantang suaranya, Masjid se besar Masjid Sunan Ampel selayaknya di-imami orang yang hafid Al-Quran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s