Terbang, alat musik Banyuwangi


TerbangTerbang merupakan sebutan alat musik rebana yang dapat dijumpai dalam bahasa percakapan masyarakat Using Banyuwangi sehari-hari. Terbang artinya melayang, arti dari kata tersebut dapat dilihat melalui irama pukulan timpal terbangan gebyar kerotokan yang dilakukan dengan tenaga ekstra serta diimbangi semangat bermain yang tinggi atau dalam bahasa Usingnya disebut oyak-oyakan dengan irama cepat yang terjadi secara spontanitas, maka hal itu dapat mengelabui rasa lelah pemain hingga terasa seperti melayang tanpa mengurangi nilai ciri khas dalam permainannya.

Banyaknya jenis macam terbang hingga memiliki sebutan yang berbeda, diantaranya terbang ketimpring, marawis, biang, salun, gembrung, dan terbang Banyuwangi atau yang lainya, masing-masing terbangnya mempunyai ciri khas sendiri baik dari segi bentuk, warna bunyi hingga pada tehnik mainya. Dalam permainan terbangan Banyuwangi yang biasa di lakukan oleh senimannya yaitu memiliki tiga dasar bunyi diantaranya ( prang, bring, teng ) atau dapat di tulis menggunakan metode notasi hurup ( p-b-t ) sesuai warna bunyi terbang itu sendiri dengan bahasa senimannya bermaksud untuk mempermudah pembelajaran serta menjaga nilai-nilai tradisi yang berlaku tanpa harus mencontoh bahasa lain yang dapat mengaburkan bahasa pribumi khususnya bahasa Using Banyuwangi dengan prinsip menghargai dan mencintai kebudayaan bangsa Indonesia khususnya kebudayaan masyarakat daerahnya yaitu Banyuwangi. Melalui penggabungan tiga dasar bunyi tersebut dengan disertakan pola garap pukulannya maka terciptalah sebuah gaya-gaya pukulan timpal terbangan yang bervariasi, seperti terbangan jos, terbangan yahum, terbangan tirim, terbangan gebyar, dan terbangan melaku. Lima dari gaya terbangan tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhannya yaitu bergantung pada kreativitas senimanya, sehingga setiap group terbang yang ada memiliki variasi pukulan terbangan dengan sebutan berbeda atau biasa menggunakan bahasa sendiri seperti terbangan jos siji dan jos loro, terbangan yahum siji, yahum loro, yahum telu, dan yahum papat, terbangan tirim ombakan, tirim pencakan, dan tirim kembangan, terbangan gebyar krotokan, gebyar grudhugan, gebyar kentrogan dan gebyar kluthikan, sedangkan terbangan melaku di antaranya terbangan melaku polos dan melaku pinjalan.

Terbang salah satu alat musik klasik yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi pada umumnya difungsikan sebagai sarana alat pendukung seni, baik seni bernuansa islam maupun non islam. Seperti jenis kesenian bernuansa islam yaitu kesenian hadrah berjanji, kesenian kuntulan, dan kesenian kundharan, adapun jenis kesenian non islam yaitu kesenian Hadrah Pacul Guwang seperti yang terjadi di Desa Gambiran daerah kawasan Banyuwangi selatan ( Kamsi ) dalam permainannya hanya menggunakan empat satuan alat musik terbang diantaranya dua terbang onteng kethukan, terbang timpal gowonan dan terbang timpal lebonan, adapun lagu-lagu yang dibawakan yaitu ya waila, ya anjani, gurit mangir, lebak-lebak dan seterusnya, lain dari pada itu dalam penyajiannya membawakan lagu-lagu pantunan atau biasa disebut wangsalan dengan bentuk wangsalan humor, berikut ditutup dengan tari seblang gandrung terop yang diperankan oleh seorang laki-laki. Terbang difungsikan pula sebagai iringan tari daerah yaitu bermaksud untuk memperkaya perbendaharaan gendhing, seperti tari Ngarak Penganten, tari Gredhoan, tari Cundhuk Menur dan seterusnya, selain itu terbang di fungsikan sebagai aransemen lagu-lagu klasik versi kuntulan pada umumnya, sehingga terbang Banyuwangi yang difungsikan sebagai sarana alat pendukung seni tersebut di atas dalam komponen satuan alat musiknya berbeda-beda sesuai ciri khas keseniannya.

Terbang Banyuwangi besar kecil ukurannya bergantung pada kebutuhan atau dapat disebut menggunakan istilah gedhe-cilik artinya besar dan kecil khususnya pada besar kecil ukuran kerangkanya atau biasa disebut urung, yaitu ada urung kecil yang berukuran 70cm dan ada urung besar berukuran 80cm dimana pada kerangkanya terdapat dua lempengan bulat yang terbuat dari bahan perunggu atau monel serta dipasang secara bertumpukan dengan jumlah delapan lempengan yang biasa disebut kecrek. Besar kecil dari kerangka atau urungnya tentunya mempunyai pengaruh pada bunyi, seperti terbang yang urungnya kecil gema bunyi yang dikeluarkan pendek(cekak) dan mudah sakit di tangan serta harus keras cara memukulnya untuk menciptakan suara bunyi maksimal atau biasa disebut atos artinya keras, begitu sebaliknya dengan terbang yang urungnya besar, gema bunyi yang dikeluarkan panjang(landhung).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sunardi. Seni Tabuh Terbangan Banyuwangi, Surabaya, Upt. Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur,  Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, 2010, hlm. 4-6

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian, Th. 2010 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s