Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Kabupaten Gresik


Silsilah Maulana Malik Ibrahim

“Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, silsilah Maulana Malik Ibrahim sampai kepada Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Tluilib. Dengan demikian maka Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Rasulullah saw, karena Ali bin Abi Thalib ra. adalah suami dari Sayyidatina Fathimah, puteri Rasulullah saw. yang kemudian menurunkan Sayyidina Husein itu.Adapun lengkapnya silsilah itu ialah sebagai berikut:

  1. Ali bin Abi Thalib ra memperisteri Fathimahtus Zahra.
  2. Berputera Sayyid Husein.
  3. Berputera Saryid Ali Zainal Abidin.
  4. Berputera Sayyid Muhammad Baqir.
  5. Berputera Sayyid Ja far Ash Shadiq.
  6. Berputera Sayyid Sayyid Muhammad Ali A1 Uraidi.
  7. Berputera Syeikh Isa Al Bashri.
  8. Berputera Syeikh Ahmad Al Muhajir.
  9. Berputera Syeikh Ubaidillah.
  10. Berputera Syeikh Muhamaad Shohib Marbaat.
  11. Berputera Syeikh Alwi
  12. Berputera Syeikh Abdul Malik. (Beliau dilahirkan di kota Ghasam dekat kota Tariem di daerah Hadramaut, lalu hijrah berdakvvah ke India dan di sana mendapat gelar Ahmad Khan).
  13. Berputera Syeikh Maulana Abdul Khan (Beliau ini lahir di India Karena ayahnya, yakni Syeikh Abdul Malik memperisterikan seorang puteri salah satu keluarga Raja, maka Maulana Abdullah Khan ini mendapat gelar Al Adjhmara (Amir Khan).
  14. Berputera Syeikh Maulana Ahmad alias Imam Ahmad Syah Jalul (Beliau menjadi muballigh yang masyhur yang daerah atau medan dakwahnya meliputi wilayah yang luas di seluruh jazirah India. Beliau akhirnya wafat di Pakistan sekarang ini).
  15. Berputera Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein. (Beliau inilah yang pertama kali berlayar ke Kamboja untuk menyiarkan Agama Islam, menikah dengan puteri Raja Kamboja).
  16. Berputera Syeikh Barebat Zainul Alam atau Syeikh Ali Nurul Alam atau Syeikh Jamaluddin Kubra. (Saudara kandungnya Syeikh Barebat Zainul Alam ada yang bernama Syeikh Ibrahim Al Ghozi alias Ibrahim Asmara yang kemudian menurunkan salah seorang Wali Songo bernama Raden Rahmat atau Sunan Ampel).
  17. Berputera Maulana Malik Ibrahim alias Maulana Maghribi, wali pertama dari Wali Songo di tanah Jawa.

Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein bersama puteranya, Syeikh Barebat Zainul Alam alias Jaaaluddin Kubra hijrah berdakwah menyiarkan Islam ke Kamboja dan berdomisili di Campa. Tetapi akhirnya Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein, nenek Maulana Malik Ibrahim, berlayar dan berdakwah ke Sulawesi dan meninggal di tanah Bugis daerah kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan”.

Metode Dakwah Maulana Malik Ibrahim
“Sesampainya di desa Sembalo, dekat Leran, Maulana Malik Ibrahim mulai hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa dan menyimak situasi medan dakwahnya. Setelah ber’nasil menyimpulkan langkah apa yang tepat untuk dilaksanakan di dalam menyiarkan Islam, maka beberapa metode dakwah pun dipraktekkan, antara lain adalah:

Berjualan keperluan hidup masyarakat sehari-hari
Berjualan dan berdagang bukanlah metode, tetapi sarana untuk melaksanakan metode yang paling tepat dengan berjualan yakni mengakrabi masyarakat. Masyarakat harus didekati dan diakrabi, hingga Maulana Malik Ibrahim mengenal mereka. Mulai nama orang, keluarganya, situasi sosial ekonomi dan kondisi kehidupannya, hobi dan wataknya serta sifat-sifatnya, bahkan hal-hal yang agak pribadi pun diketahuinya.

Hal itu memang penting untuk usaha menyentuh hati dan pemikiran mereka dari pintu yang mana bisa dimasuki unsur dakwah Islam. Maka Maulana Malik Ibrahim baru menolong atau membantu seseorang, meiigajak dan membimbing, menasehati maupun mengingatkan seseorang, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar ataupun mengajak berdialog sampai berdebat sekalipun, adalah setelah mengetahui betul-betul kondisi seseorang.

Karena itulah beliau membuka warung di desa Romo, dan juga di desa Sembalo, yang menyediakan barang-barang yang diperlukan masyarakat sehari-hari. Dengan ini beliau bisa secara langsung berhubungan dengan rakyat di segala lapisan. Dari usaha ini beliau semakin terkenal sebagai orang yang ramah, baik hati, dan baik budi, jujur dan dapat dipercara, suka menolong sesama manusia, dan sifat- sifat mulia lainnya yang memikat hati masyarakat.

Pedagang yang jujur memang menjadi pujian orang, dan apalagi bila harganya lumayan relatif murah, tentulah banyak pelanggannya. Karena berdagang dengan tujuan dakwah dan menyiarkan Agama Is­lam, tidak semata-mata mencari keuntungan saja, maka nama Maulana Malik Ibrahim cepat terkenal di kalangan luas, terutama masyarakat kecil. Anggapan atau opini masyarakat terhadap beliau inilah yang membantu cepatnya keberhasilan dakwah Islam, karena masyarakat lalu tertarik kepada agama yang beliau bawa itu.”

Menjadi Tabib
“Apalagi beliau juga pandai mengobati berbagai macam penyakit, hal ini semakin mengharumkan nama beliau. kebanyakan orang-orang yang sakit berobat atau minta obat kepada beliau, menjadi sembuh. Orang yang sembuh dari penyakit karena diobati oleh Maulana Malik Ibrahim, menjadi tersebar beritanya ke seluruh kampung. Berita itu cepat tersiardari mulut ke mulut menyebabkan beliau menjadi orang terkenal di seantero daerah Leran Gresik dan sekitarnya (Sejarah dan dakwah Islamiyah Sunan Giri, Lembaga Research Pesantren Luhur Islam, 1973, hlm. 37).

Apalagi di dalam mengobati orang sakit itu beliau mendahuluinya dengan bacaan basmallah dan dengan doa-doa yang bisa didengar oleh orang yang menyaksikannya. Hal ini menjadikan Islam semakin terkenal di tengah-tengah masyarakat yang masih memeluk kepercayaan agama Siwa dan Kejawen.

Juga di dalam mengobati orang sakit itu pada prinsipnya beliau tidak memungut bayaran. Maka orang Jawa menganggap beliau sebagai “DewaPenolong” yang diharapkan bisa menyelamatkan banyak nyawa. Hal ini menyebabkan beliau terkenal dan sebagai tokoh kharismatik yang dihormati dan disegani masyarakat. Tak ada orang yang dendam dan curiga terhadap kehadiran beliau, sehingga beliau sebagai sosok yang menjadi tumpuan banyak harapan”.

Merakyat
Bukan dinamakan seorang ulama dan mubaligh, siapa yang tidak pandai menyelami hati masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya. Demikian pula Maulana Malik Ibrahim, dengan menetapnya di desa Leran itu ia kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat ramai atau rakyat jelata.

Iapun membuat sebuah warung. Dengan caranya berjualan itu ia dapat langsung berhubungan dengan rakyat kecil. Sehari-harian ia langsung dekat dengan masyarakat sehingga masyarakat mengerti bagaimana kebaikan akhlak serta contoh-contoh kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang dicerminkan oleh pribadi Maulana Malik Ibrahim sehari-hari.

Ia rajin mempelajari bahasa rakyat atau bahasa daerah sehingga dalam waktu yang tidak lama telah mahir dan dapat menguasai bahasa rakyat

Setelah bahasa daerah dikuasainya, maka Maulana Malik Ibrahim mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Ajakannya mendapat sambutan positif dan hangat dari penduduk yang kebanyakan merupakan rakyat jelata. Makin lama semakin banyaklah pemeluk agama Islam di Leran dan sekitarnya.

Berkat taktik dan sikap yang dijalankan oleh Maulana Malik Ibrahim itu Agama Islam dapat menarik perhatian rakyat. karena Maulana Malik Ibrahim memang pandai membawakan diri, pandai menyesuaikan diri, bersikap merakyat dan bijaksana.

Ia tidak tinggi diri dan bersikap “konfrontasi” terhadap falsafah atau pandangan hidup masyarakat, tetapi ia bersikap tidak membuka “front” perbedaan pendapat antara Islam dengan falsafah Hindu-Siwa. Ia bersikap “hati-hati” dan “tut wuri handayani” (mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi) kepada masyarakat. Taktik ini rupa-rupanya berhasil, karena bila ia bersikap tajam dan dengan spontan menentang falsafah dan pandangan hidup rakyat yang Hindu-Siwa itu, tentunya mereka lari dari dakwahnya Maulana Malik Ibrahim saat itu.

Dengan keramah-tamahannya kepada masyarakat dan sikap “rendah dirinya” itu rakyat berbondong-bondong masuk Islam. Memang demikianlah taktik yang dijalankan Maulana Malik Ibrahim, dengan memikat rakyat jelata terlebih dahulu, kemudian untuk meminta pengakuan kepada baginda raja. Untunglah kalau nanti pihak atasan mau memeluk Agama Islam. Kalau toh tidak mau, Maulana Malik Ibrahim telah berhasil mendapatkan pengikut”.

Ajaran Kasta Hindu menguntungkan dakwahnya Maulana Malik Ibrahim
Di dalam dakwahnya kepada rakyat jelata, Maulana Malik Ibrahim menjelaskan kepada mereka bahwa menurut ajaran Islam tidak ada perbedaan kelas. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang taqwa dan berbuat kebaikan. Maka tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara orang berpangkat dengan rakyat kecil, antara bangsawan dengan rakyat jelata.

Ajaran Islam itu ternyata menarik perhatian masyarakat, karena kebanyakan penduduk Leran dan sekitarnya adalah kaum tani dan nelayan, yang menurut pandangan kaum Hindu adalah tergolong kaum waisya dan sudra, termasuk kelas rendahan dan bahkan kaum yang hina.

Perlu diketahui bahwa bentuk masyarakat menurut Brahma, artinya, pembagian masyarakat menurut Hindu, dibagi menjadi empat golongan atau kasta, yakni:

  1. Kasta Brahmana, adalah kastanya kaum Brahmana, yang terdiri dari kaum pemuka agama, yang kewajibannya hanyalah belajar dan mengajarkan agama kepada manusia. Merekaterdiri dari kaum pendeta, guru, kadi, dan berhak menjadi Perdana menteri dalam pemerintahan.
  2. Kasta Kesatria, yang terdiri dari golongan prajurit dan para pahlawan. Tugas-tugas kasta Kestria adalah belajar, menyungguhkan kurban-kurban, membiayai keperluan-keperluan umum, dan memanggul senjata membela kepentingan negara.
  3. Kasta Waisya, yakni terdiri dari golongan petani dan pedagang Tugas mereka adalah bercocok tanam, berniaga, membelanjai perguruan-perguruan umum dan agama.
  4. Kasta Sudra, adalah golongan yang paling bawah, terdiri dari para pekerja dan kaum buruh. Tugasnya kaum Sudra hanyalah satu. yakni berkhidmat atau mengabdi kepada ketiga golongan di atas.

Kasta Waisya dan Sudra tidak dapat menikmati hak-hak azasi manusia karena dipandang rendah. Terutama kasta Sudra, di India masih menyedihkan nasibnya. Pada bulan Oktober 1981 di India timbul berita mengejutkan dengan masuknya hampir puluhan ribu orang dari kasta Sudra ke dalam Agama Islam, karena di dalam Hindu mereka dianggap hina.

Demikianlah dakwahnya Maulana Malik Ibrahim mendapat sambutan rakyat kecil atau rakyat jelata karena ajaran Islam membela kepentingan mereka. Di dalam Islam mereka menemukan kepribadiannya. Di dalam Islam mereka merasa “sebagai manusia” lagi, sebagai manusia sewajarnya yang mempunyai hak-hak yang sama dengan manusia lain. Mereka menjadi sederajat dengan siapa saja. Dengan demikian maka Islamlah yang mengangkat derajat mereka sama seperti manusia lain.

Tentu saja banyak di antara para bangsawan dan yang merasa sebagai golongan Brahmana dan Kesatria tidak tahan menerima perlakuan murid-murid Maulana Malik Ibrahim itu. Maka banyak di antara mereka yang meninggalkan desa Leran dan sekitarnya, pergi menyingkirkan diri menuju tempat-tempat yang masih inenganggap mereka sebagai “orang atas”

Membangun Masjid dan Pesantren Pertama di Jawa
“Setelah para pengikut Islam semakin banyak, maka Maulana Malik Ibrahim mendirikan sebuah masjid untuk berjamaah dan mengaji. memperdalam Agama Islam.

Tidak ada keterangan bahwa masjid yang dibangun Maulana Malik Ibrahim itu merupakan masjid yang pertama di tanah Jawa, karena mungkin sebelumnya para Tionghoa peranakan atau Tionghoa Islam di sepanjang pesisir utara Jawa telah membuat masjid.

Kecuali membuat sebuah masjid, berhubung minat orang-orang Islam untuk menuntut ilmu-ilmu agama semakin keras, dan karena juga banyak pemeluk Islam yang datang dari luar desa Leran dengan maksud mencari ilmu atau memperdalam agama Islam, maka Maulana Malik Ibrahim pun mendirikan pesantren Islam.

Itulah pesantren Islam pertama yang didirikan di Jawa. Dari pesantren inilahkemudianditelorkan banyak mubaligh yang akhirnya mereka menyiarkan agama Islam ke berbagai daerah.

Penduduk desa Leran dan para santri tentunya membutuhkan air untuk keperluan pengairan dan keperluan lainnya. Berhubung desa tersebut sering kekurangan air untuk itu, maka atas inisiatif Mulana Malik Ibrahim, dibuatlah sebuah saluran air yang mendapat aliran dari desa atau tempat lain. Aliran air itu dinamakan “pensucian” yang menjadikan desa Leran dan sekitarnya ramai karena menjadi pusat dakwah Islam dengan ulamanya yang terkenal serta dicintai rakyat, yakni Maulana Malik Ibrahim.

Hingga sekarang tempat air itu masih ada, yakni di desa yang namanya juga Desa Pesucian. Tempat air tersebut berada di depan sebuah masjid kuna yang diperkirakan dibuat pada tahun 1311 Saka atau tahun 1389 Masehi. Tempat air tersebut berupa telaga untuk mengambil air wudhu bagi orang yang akan sholat berjamaah di masjid tersebut.”

Ingin Mengislamkan Raja Majapahit
“Setelah beberapa tahun bermukim di Leran dan sekitarnya, Maulana Malik Ibrahim dapat mengetahui agak mendalam tentang masyarakat setempat, baik tentang adat istiadat maupun sosial budayanya. Mayarakat yang termasuk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, adalah sebagaimana kehidupan yang dirasuki perasaan kepatuhan dan ketundukan bersifat feodalistis di mana pun, masyarakat Jawa merupakan cermin yang mewakilinya.

Apalagi sebuah hadits Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa rakyat itu mengikuti agama yang dipeluk rajanya, hal ini tambah meyakinkan tekad Maulana Malik Ibrahim yang menyimpan cita-cita betapa cepatnya Islam ini tersebar dan dipeluk oleh masyarakat Jawa seandainya raja Majapahit berkenan memeluk Agama Islam.

Keinginan itu pun disampaikan lewat surat kepada sultan Kedah, Sultan Mahmud Syah Alam, agar sang Sultan berkenan datang ke tanah Jawa dan bersilaturahmi kepada raja Majapahit, sekaligus mengajak raja Majapahit untuk memeluk Agama Islam.

Surat Maulana Malik Ibrahim itu disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah Alam, dan beliau memang betul-betul datang ke Gresik beserta seorang puterinya yang berparas cantik. Oleh Maulana Malik Ibrahim sang puteri tersebut diupayakan agar dapat dipersunting oleh raja Majapahit. Tetapi sayang, upaya Maulana Malik Ibrahim untuk menawarkan sang puteri ini ditolak oleh raja Majapahit, sehingga harapan untuk mengislamkan raja Majapahit tersebut tidak berhasil”.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Machi Suhadi. Makam-makam Wali Sanga di Jawa. (Jakarta): Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. hlm. 115-122. (dikutip dari kitab Riwayat Maulana Malik Ibrahim oleh Umar Hasyim, “Menara Kudus” 1981, hlm. 10-11)

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Gresik, Sosok, Th. 1981, Tokoh Agama, Ulama dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Kabupaten Gresik

  1. Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten berkata:

    Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain semoga tuhan mempercepat kebangkitan kaum Muslim, memulihkan kejayaan kaum Muslim, melindungi kaum Muslim dari kesesatan – terutama kemurtadan, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat (khususnya Maulana Malik Ibrahim / Sunan Gresik)– terutama mempertemukan kita di surga dengan Nabi Muhammad Shallahu’alaihi wa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam, juga bertemu dengan keluarga besar beliau, serta bertemu dengan para sahabat beliau. Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s