Kentrung, Menghindari Cap Primitif


Seni Kentrung, Ingin Menghindari Cap Primitif yang Menjual Keterbelakangan

Warisan seni tradisi Lisan Jawa (Teater Tutur) Kentrung nyaris tertinggal-bahkan terkubur oleh perjalanan jaman yang be­gitu cepat dan sarat dengan informasi, yang carut-marutnya merembet pada sub­stansi pergulatan seni yang kita miliki. Namun yang menjadi bahasan saat ini terbatas pada upaya menelusuri, sampai sejauh mana Kentrung menggeliat dalam konteks percaturan kesenian di Jawa Ti­mur saat ini, di mana semua kesenian se­dang dalam upaya membentuk sikap yang lebih aspiratif bagi kesenian itu sendiri dan seni pada umumnya.

Beberapa keterbatasan memang sa­ngat kelihatan dalam upaya ini. Namun demikian ada sebuah harapan bahwa hal yang substansial dapat menjadi wacana, kendati Seni Kentrung dalam gerak tapak langkahnya mengejar ketertinggalan dari seni yang lain tampak terseok-seok. Perkembangan Seni Kentrung di Jawa Timur, sebagaimana dipaparkan oleh al­marhum DR Suripan Sadi Hutomo, me­mang tersekat dari generasi penerusnya yang notabene memiliki lingkup jaman berbeda. Hal ini karena sang Guru yang mewariskan Kentrung pada Muridnya tidak memberi kebebasan untuk mengadakan perubahan, selama sang Guru masih hi­dup. Wajar jika akhirnya seni Kentrung berkembang sangat lambat.

“Tradisi tidak boleh dirombak semau-maunya,” kata Su­ripan dalam bukunya Kentrung Warisan Tradisi Lesan Jawa.

Pandangan ini pula yang membuat generasi baru seniman Kentrung hanya berani melakukan repetisi (pengulangan- pengulangan) dari apa yang dilakukan sang Guru semata. Tak ada koridor yang dapat dipergunakan untuk berciuman de­ngan wangi perubahan jaman, yang se­sungguhnya bisa membuat Kentrung tam­pil lebih dinamis dan inovatif. Namun agaknya kesadaran dinamisasi Seni Kentrung telah menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan, terlepas dari siapa komunitas pendukungnya. Dengan for­mula yang “peka jaman” seni Kentrung se­bagai produk kesenian tak lagi stagnan membelenggu generasi seniman Kentrung yang lahir sekarang dan di masa datang.

Tanggung jawab berat agaknya harus dipikul oleh seniman Kentrung, terutama untuk mencari jalan keluar dari kegagapan dinamika perubahan jaman. Begi-tulah nasib seni Kentrung kita, yang kini sedang menanti giliran untuk dapat sejajar dengan aksesoris kehidupan modern seperti film, TV, disko, kafe, dan lain-lain, yang saat ini sudah menjadi bagian dari atribut pergaulan masya-rakat awam. Nostalgia “Benang Putus” Pemain Kentrung  (atau lazim disebut dalang Kentrung) bukanlah sosok yang dapat menghidupi dan dihidupi oleh seni Kentrung.

Karena pekerjaan I sehari-hari dalang Kentrung mayoritas petani, maka ketika Yayasan Kehati (Ke-aneka Ragaman Hayati) yang bekerjasama dengan Pondok Pesantren “Wono-tani” dan DKS (Dewan Kesenian) Blitar mengadakan Festival Kentrung di Desa Sanan Kulon Kab Blitar yang diikuti grup kentrung dari Kediri, Tulungagung, dan Blitar padatanggal 16-17 April 2000, para pemain inirela meninggalkan pekerjaan utamanyabeberapa hari guna berkumpul lagi dengan teman-temannya untuk bermain Kentrung.

Rentang waktu yang panjang dalam kevakuman mengajak para pemain yang rata-rata berusia di atas 50 tahun itu tenggelam dalam nostalgia jaman keemasan Seni Kentrung di masa silam. Masa silam dan kevakuman yang dimaksud,  sesuai dengan apa yang dikatakan Pak Bancet, seniman Kentrung dari Desa Tembokrejo, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember (Almarhum 1990). “Kentrung iku tau jaya, tapi ya kuwi an- tarane tahun 1965 mengisor,” (Kentrung itu pernah jaya, tetapi antara tahun 1965 ke bawah)  catatan penulis ketika belajar Kentrung pada beliau, 1984.

Mereka men-ceriterakan bahwa pada saat itu pengentrung (dalang Kentrung) sangat disegani,karena disamping berprofesi sebagai KiDalang juga menjadi sesepuh yang dapat nyuwuk (menyembuhkan penyakit), me-thik (sesaji saat panen), ujub-ujub (me-mimpin selamatan/kenduri) dan seba-gainya. Tapi generasi dalang Kentrung seperti Pak Bancet sekarang tak ada lagi. Diantara dinamika jaman kentrung gagap dengan derasnya arus informasi dan desakan hidup modernisasi yang menawarkan ide-ide baru yang membawa perubahan orientasi dan ha­rapan masyarakat jauh ke depan. Singkat kata, Kentrung mandul karena kurang progresif.

Tak berlebihan jika Slamet Raharjo berpendapat, rendahnya minat masyara­kat pada kesenian tradisional disebabkan oleh adanya jenis tontonan baru yang lebih responsif dengan kondisi obyektif di masyarakat pada saat ini, dan karena pada saat ini tengah terjadi pergeseran nilai kehidupan pada masyarakat kita (Jawa , Pos, 17 Oktober 1993).  Menurut Putu Wijaya, apa yang dikerjakan oleh orang-orang teater sekarang sangat tergantung dari bagaimana dia melihat teater itu. Apakah hanya sebuah pertunjukan yang bisa menjadi barang komoditi dan bersifat menghibur, ataukah sebuah peristiwa spiritual yang meskipun dapat merupakan barang komoditi, tetapi esensi dan eksistensinya lebih ditujukan untuk keseimbangan rohani.

Dengan demikian seni teater Kentrung kita, mau tidak mau, harus berhadapan dengan paradigma baru yang bertumpu pada situasi global, yang dapat membe­rikan energi untuk dijadikan dorongan kre­atif bagi para senimannya. Selanjutnya sampai sejauh mana para seniman Ken­trung itu sendiri berani membuka dan mencari peluang untuk menjelajahi ke­mungkinan yang pada ujungnya yakin akan kemampuan yang membawa indikasi perubahan secara idiologis baik dalam konteks keseniannya maupun dengan publik yang sarat dengan produk-produk modernisasi.

Suatu perubahan memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap simbol-simbol nor­matif dan psikososial yang mau tidak mau akan memaksa pada persepsi yang instan. Disinilah ujian kreativitas ditantang dan pemenangnya adalah kekuatan kepriba­dian seniman yang dapat menjembatani wilayah kreativitas, normatif dan psiko­sosial, sehingga sejarah yang baru akan terbentuk dan menjadi bagian dari kebu­tuhan masyarakat yang mengiringnya pula. Hanya dalang Kentrung yang yakin de­ngan tangan kreatif dan mau bertaruh na­sib, yang mampu memunculkan Kentrung yang tampil dengan membawa peradaban baru, bukan Kentrung dengan cap primitif yang menjual keterbelakangan .

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: OLEH : CAKTORO
( dalang Kentrung Tinggal di Surabaya)

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s