Wayang Timplong, Kabupaten Nganjuk


Tolak Balak dengan Wayang timplong

Wayang Timplong0001Dalam setiap acara bersih desa, wayang timplong selalu disyaratkan untuk digelar. Konon kekuatan gaib yang dimiliki wayang ini mampu menetralisir berbagai energi negatif yang menyelimuti desa tersebut. Sambil sesekali membenahi lipatan sarung yang dikenakannya, Ki Gondo Maelan terus menata wayang-wayang yang baru dibersihkannya. Di saat sedang sepi tanggapan seperti sekarang ini, memang tidak ada kegiatan lain yang dilakukan oleh pria 73 tahun ini selain membersihkan wayang-wayang koleksinya. Sebab dia menyadari bahwa dari benda inilah, dirinya selama ini bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Sehingga sudah sewajarnyalah kalau diri­nya dengan setia merawat benda-benda ini.

Ya, Ki Gondo Maelan memang seorang dalang, yang senantiasa menghabiskan masa hidupnya untuk memainkan seni warisan leluhur itu. Namun tidak seperti halnya para da­lang yang lain, tawaran untuk pagelaran wayang yang dimainkannya relatif lebih sedikit. Sebab tidak semua orang kenal dengan jenis wa­yang yang diciptakan leluhurnya itu. Wayang timplong demikianlah nama wayang yang diyakini hanya ada di wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur itu. Berbeda dengan wayang kulit, wayang timplong terbu- at dari kayu, sehingga bentuknya hampir mirip dengan wayang klitik.

Wayang Timplong0003“Bentuk wayang timplong itu sebenarnya mirip wayang klitik, yang membedakan cuma’ dari ceritanya. Kalau wayang klitik lebih berkisar pada kisah-kisah Menak, wayang timplong justru lebih banyak berce- rita seputar sejarah kerajaan Kediri ataupun cerita Panji,” jelas Ki Mae­lan, sapaan akrab Ki Gondo Maelan saat ditemui LIBERTY di rumahnya, di Desa Getas, Kecamatan Tanjung Anom, Kabupaten Nganjuk.

Memang wayang timplong bisa dikategorikan jenis wayang klitik, karena terbuat dari bahan kayu pi- pih. Namun perbedaan mendasar di antara keduanya – yaitu pada cerita yang dibawakan, membuat wayang timplong dimasukkan dalam kategori tersendiri.

Petunjuk Gaib Wayang timplong sendiri awalnya diciptakan oleh Mbah Bancol, pada sekitar tahun 1910-an, melalui sebuah proses yang cenderung berbau mistis. Awalnya pada pria asal Grobogan itu tengah membelah sebatang pohon waru untuk kayu bakar. Namun anehnya pada satu bela- han kayu itu terlihat sebentuk gambar yang mirip wayang.

Selanjutnya seperti mendapat tuntunan gaib, Mbah Bancol selanjutnya memahat kayu itu dan mewujudkan bentuk gambar itu menjadi sebuah wayang. Dari satu wayang yang berhasil dibuat, hal itu mendorong Mbah Bancol untuk terus membuat yang lain hingga akhirnya terbentuk seperangkat. Dan sebagai pelengkap, Mbah Bancol juga menyi- apkan seperangkat gamelan sederhana untuk mengiringi wayang ini.

Wayang Timplong0002Dalam pementasannya wayang timplong memang tidak menggunakan seperangkat gamelan yang lengkap. Yang dipakai hanya berupa gambang, kempul, kendang serta sebuah gong. Dan nama timplong sendiri sebenarnya berasal dari alunan gending yang dimainkan dari se­perangkat gamelan sederhana ini. “orang-orang menyebutnya dengan nama timplongan. Karena kalau diperhatikan dengan seksama suaranya terdengar timplang., timplong.. timplang., timplong..,” terang Ki Maelan yang telah mendalang sejak tahun 60 an ini.

Mengenai cerita yang dibawakan, konon yang memiliki ide adalah R. Sariguno, seorang pujangga dari Keraton Jogjakarta. Dan Ki Maelan sendiri masih memiliki garis keturu- nan dengan R. Sariguno. Karena itulah dia begitu piawai, dalam memainkan setiap lakon cerita dalam page- laran wayang ini. Tak hanya piawai me­mainkan, Ki Maelan ternyata juga piawai menciptakan to- koh-tokoh dalam wayang ini. Bahkan di wilayah Nganjuk, untuk saat ini hanya dialah satu-satunya dalang WE* yang sekaligus merangkap sebagai pembuat wayang timplong. Dan karena prestasinya itu, Ki Maelan sempat mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, pada 2005 silam. Tak hanya itu, Ki Mae­lan juga mendapat perhatian serius dari International Biographical Centre Cam­bridge (BCC) Inggris.

Namun sayang prestasi yang ditorehkan Ki Maelan tidak sebanding dengan nasib wayang ini di masya- rakat. Sampai saat ini wayang tim­plong terkesan hanya sebagai wa­yang kampung yang pementasannya tak lepas dari acara bersih-bersih desa. Hal ini berbeda dengan wayang kulit yang hampir selalu cocok digelar untuk berbagai macam acara. Itu karena lakon yang dimainkan memang tak lepas dari sejarah perjalanan kerajaan Kediri yang tentu berkaitan erat dengan sejarah desa-desa di kawasan Nganjuk dan sekitarnya. Bahkan konon pagelaran wa­yang ini di tiap acara bersih desa, berfungsi sebagai penolak bala.

Tujuannya agar seluruh warga desa bisa senantiasa mendapat berkah keselamatan serta lancar rejeki. “Wayang ini biasanya memang digelar pada acara bersih desa. Dan seperti sudah menjadi syarat utama, setiap acara bersih desa di wilayah Nganjuk dan sekitarnya, selalu menggelar wayang timplong sebagai pengganti wayang kulit,” ungkap Ki Maelansembari menunjukkan piagam penghargaan yang diterimanya dari Gubernur Jatim, Imam Utomo.

Hal itulah yang membuat hatinya semakin gelisah di usianya yang kian senja. Sebab calon generasi penerus kesenian ini nyaris tidak ada. Yang berarti, wayang timplong di ambang kepunahan. Padahal, di Nganjuk sendiri dalang wayang timplong tak lebih dari empat orang yang kesemu- anya sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Karenanya di usianya yang se­makin senja, Ki Maelan sangat berharap adagenerasi muda yang tertarik dan mau untuk mempelajari kesenian yang satu ini. Tujuannya tak lain agar wayang timplong bisa tetap bertahan hingga di masa-masa yang akan datang.

“Kalau saya amati, salah satu cucu saya ada yang mulai tertarik dengan wayang ini. Karenanya saya berharap agar dia nantinya benar- benar bisa menjadi penerus saya. Dan untuk itu, saya terus berusaha untuk menularkan ilmu saya padanya, agar dia semakin tertarik dan benar-benar menggeluti kesenian ini,” pungkasnya. • Kl@-6

LIBERTY, 11-20 APRIL 2009, hlm. 54-55

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 2009 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s