Asal-Usul Desa Sawoo, Kabupaten Pacitan


Mengenai asal-usul desa Sawoo  ini erat hubungannya dengan Pangeran Kalipo Kusumo yang menurut kepercayaan masyarakat de­sa Sawoo dan sekitarnya dimakamkan di Gunung Bayangkaki yang letaknya tak jauh dari desa tersebut.

Siapakah sebenarnya Pangeran Kalipo Kusumo itu ?. Menurut ceritera masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya, Panger­an Kalipo Kusumo adalah put era Paku Buwono: I dari Kartosurcj. Beliau tidak menginginkan kebahagiaan duniawi, tetapi ingin mencari ketenteraman lahir dan bathin, Wntuk itu beliau mening ga-lkan kerajaan, berjalan ke arah timur dan akhirnya sampai di suatu bukit yang sekarang oernama Gunung – Bayangkaki. Gunung ter sebut terletak di wilayah Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo-. Setelah berada di tempat tersebut, pada siang hari beliau mela kmkan semedi di puncak gunung, jika malam hari telah tiba, pin dah di suatu Gua yang terletak di gunung itu juga,

Semenjak Pangeran Kalipo. Kusumo. ber.tapa di puncak Gunung Bayangkaki, keadaan masyarakat di sekitarnya kelihatan tente- ram dan damai. Bahkan sawah ladangnya pun terhindar dari serangan hama, sehingga hasilnya berlipat ganda. Pangeran Kalipo Kusumo bersifat pengasih dan penyayang kepada sesama manusia , khususnya kepada orang-orang di sekitar pertapaannya. Oleh sebab itu beliau sangat disegani dan dihormati oleh penduduk di sekitar pertapaannya.

Setelah beberapa tahun Pangeran Kalipo Kusumo bertapa di Gunung Bayangkaki, di kraton Kartosuro terjadi peperangan yang dikenal dengan istilah Perang Cina Cperang candu yang terjadi di sekitar. tahun 17^2, Pada saat perang meletus Kartosuro ti­dak diperintah oleh Paku Buwono I, tetapi telah diganti oleh Paku Buwono II, yaitu adik Pangeran Kalipo; Kusumo. Pada peperangan itu Sunan Paku Buwono II terdesak dan akhirnya meninggalkan kraton, Dalam perjalanannya beliau menuju ke arah timur, bermaksud mencari kakaknya.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya Sunan Paku Buwono II dapat bertemu dengan Pangeran Kalipo Kusumo. Di dalam perjumpaan itu Paku Buwono II menceriterakan keadaan yang menimpa kraton Kartosuro. Mendengar. ceritera adiknya itu Pangeran Kalipo Kusumo sangat sedih. Beliau segera mengheningkan cipta, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Setelah selesai semedinya, Pangeran Kalipo Kusumo memberi petunjuk kepada adiknya agar turun dari gunung tempat pertapaannya, supaya berjalan menuju ke arah selatan, jika di dalam perjalanan itu telah menemukan 2 (dua) batang pohon sawo (sawo  kembar) atau (Jawa Sawo  sakembaran), Paku Buwono II disuruh berhenti dan bertapa di bawah pohon tersebut.

Setelah beberapa saat lamanya bertapa (menurut keterangan selama 40 hari), Paku Buwono II naik ke Gunung Bayangkaki bermaksud minta diri kepada kakaknya untuk pulang ke Kartosuro. Setelah mendapat petunjuk-petunjuk dari kakaknya Sunan Paku Bu wono II segera meninggalkan Gunung Bayangkaki.

Dalam perialanannya kembali ke Kartosuro, Sunan Paku Buwono II singgah di desa Tegalsari di rumah Kyai Ageng Kasan Basari I. Di tempat ini beliau dijamu oleh Kyai Ageng. Sunan Pa­ku Buwono II sangat berkenan di hati atas segala kebaikan Kyai Ageng Kasan Basari. Oleh sebab itu, maka desa Tegalsari tempat tinggal Kyai Ageng Kasan Basari I dijadikan desa perdikan yang bebas dari pajak.

Kemudian Sunan Paku Buwono; II melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke kraton Kartosuro. Setelah sampai di sebuah de­sa, beliau merasa haus. Pada saat itu beliau bertemu dengan se orang nenek, lalu berkenalan dan berceritera, sehingga dalam waktu yang singkat sudah kelihatan sangat akrab. Oleh karena itu si nenek tidak segan-segan untuk memohon Sunan Paku Buwono II singgah di tempat tinggalnya. Sesampainya di rumah, si nenek segera memasak bubur (jenang Jawa). Setelah bubur itu masak segera disuguhkannya. Melihat bubur yang masih mengepul itu Sunan segera ingin menyantapnya, tetapi si nenek segera mencegahnya. Kemudian si nenek memberitahukan jika makan bubur

sebaiknya dari pinggir, jangan dari tengah. Karena kalau dari pinggir pasti tidak terasa panas dan segera habis. Anjuran si nenek ini ditaatinya oleh Sunan Paku Buwono II dan ternyata memang benar. Pada saat makan itu Sunan Paku Buwono II seperti mendapat firasat, bahwa cara makan bubur yang dimulai dari pinggir. itu dapat dipakai sebagai taktik untuk mengadakan perlawanan terhadap musuh yang telah menguasai Kraton Kartosuro. Maka dari itu beliau segera mencoba taktik yang baru ditemukannya, yakni menyerang pertahanan musuh dari tepi kemudian ke tengah dan akhirnya ke pusat pertahanan. Dengan taktik tersebut ternyata membawa hasil yang gemilang, pertahanan musuh dapat dihancurkan, sehingga Sunan Paku Buwono II dapat menduduki tahta kraton Kartosuro lagi. Untuk mengenang jasa nenek yang telah memberikan jalan terang bagi Sunan Paku Buwono II, maka desa tempat tinggal si nenek tersebut dijadikan perdikan yang kemu­dian dinamakan desa Menang.

Dengan adanya peristiwa kemenangan Sunan Paku Buwono II, di dalam melawan musuh yang menguasai kerajaan Kartosuro, maka Sunan Paku Buwono II lalu diberi julukan Pangeran Kumbul. Desa tempat Sunan Paku Buwono bertapa hingga sekarang dinamakan de­sa Sawoo dan tempat untuk bertapa dinamakan patilasan Sunan Kum­bul. Patilasan Sunan Kumbul hingga sekarang dikeramatkan oleh masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya. Tiap-tiap hari tertentu, terutama malam Jum’at banyak orang yang berjiarah di tempat itu. Para pejiarah itu bukan hanya orang dari desa Sawoo saja, teta­pi juga dari daerah lain. Para pendatang itu pada umumnya mem puinyai rnaksud  tertentu, misalnya ingin agar usahanya maju, ingin agar naik kelas, agar sembuh dari penyakitnya, agar mendapat kedudukan di dalam tempat kerjanya dan lain sebagainya.

Pada saat Sunan Paku Buwono II mengadakan perlawanan ter­hadap musuh yang menduduki tahtanya, Pangeran Kalipo Kusumo tidak dapat ikut berjuang, tetapi berdoa di tempat pertapaannya. Hal ini disebabkan karena Pangeran Kalipo Kusumo telah bersumpah tidak akan meninggalkan tempat pertapaannya hingga akhir hayatnya. Setelah Pangeran Kalipo Kusumo tua dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, tanpa diketahui siapapun juga, beliau membuat liang kubur yang kelak akan dipakainya sendiri. Setelah liang kubur itu jadi, maka beliau berpesan kepada para pengikutnya, agar kelak kalau beliau meninggal supaya dimakamkan di liang kubur yang telah dibuatnya sendiri. Liang kubur tersebut dibuat di puncak gunung Bayangkaki (tempat pertapaannya). Oleh sebab itu setelah Pangeran Kalipo Kusumoi wafat, oleh para pengikutnya dimakamkan di puncak gunung tempat pertapaannya.

Pada saat beliau meninggal, yang mengusung jenasahnya adalah arang laki-laki yang telah lanjut usia (Jawa: kaki-kaki) sehingga cara mengusung jenasah tersebut diangkat bersama de­ngan sangat hati-hati (Jawa: dibayang-bayang). Oleh sebab itu Gunung tempat Pangeran Kalipo Kusumo bertapa dan dimakamkan ini kemudian dinamakan Bayangkaki.(Balai Penelitian Sejarah dan Budaya Yogyakarta, 1981-1982).

Pada periode penjajahan Belanda, daerah Sawoo dan sekitar nya merupakan daerah yang aman. Saat itu Kepala desa yang memerintah di desa Sawoo adalah Bapak Ibrahim, setelah beliau wafat, diganti Bapak Sardjon© dan pada akhir penjajahan Belan­da hingga awal Kemerdekaan, Kepala desa Sawoo dipegang oleh Ba pak Supono, Pada saat itu masyarakat Sawoo keadaannya sangat menyedihkan.

Pada periode penjajahan Jepang, desa Sawoo juga merupakan desa yang aman. Pada saat itu Kepala desa dipegang oleh Bapak Supono. Menurut informasi dari Bapak Supono pen duduk desa Sa­woo, pada saat  itu sangat menyedihkan. Saat  itu penduduk dilarang masak nasi (beras), mereka dianjurkan untuk makan na­si tiwul. Semua hasil padi, harus diserahkan kepada Pemerintah Jepang, dengan alasan untuk memberimakan tentara kita. Disanping kekurangan makan, penduduk Sawoo dan sekitarnya juga kekurangan pakaian. Pada saat itu jarang kita jumpai penduduk yang memakai kain, mereka menutup anggata badannya dengan goni, bahkan di daerah pelosok ada yang tidak berpakaian sama sekali.

Walaupun daerah Sawoo merupakan daerah yang aman, namun tak luput dari semua peraturan-peraturan pemerintah Jepang yang diterapkan di seluruh Indonesia, Pada saat itu Jepang memerlukan tenaga kasar yang dikenal dengan istilah Romusya, Pada mulanya perlakuan Jepang terhadap Romusya cukup baik, tetapi lama kelamaan para romusya diperlakukan sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Para romusya banyak yang tidak kembali (mati), jika ada yang pulang tinggai kulit pembalut tulang saja,

Menurut informasi dari bapak Supono yang menjabat Kepala Desa pada saat itu penduduknya juga banyak yang menjadi korban romusya, Mereka ada yang dapat melarikan diri dalam perjalanan sehingga pulang dengan selamat, Bagi mereka yang ti­dak dapat meloloskan diri, sebagian besar banyak yang tidak pulang lagi. Mereka yang tidak pulang itu kemungkinan besar meninggal dalam melaksanakan tugas,

Pada periode kemerdekaan, khususnya pada waktu gerilya Jendral Sudirman daerah Sawoo termasuk didalam route perjalanannya, menurut inforraasi dari bapak Supono (bekas lurah desa Sa­woo). pada saat para gerilya berada di desa Ngindeng dan Tumpak Pelem bapak Sudirman sempat beristirahat di desa Sawoo selama sehari. Pada saat itu penduduk desa Sawoo ikut aktif di dapur umum, menyediakan makanan pasukan anak buah Jendral Sudirman,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984, hlm. 20-25

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Pacitan, Sejarah, Th. 1984 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s