Panjak Hore, Kabupaten Tuban, Jawa Timur


Nama Permainan

PANJAK HORE001Panjak=niyaga (berarti pemukul gamelan). Namun pada “panjak hore”, gamelannya dengan mulut. Kalaupun ada instru­men, itu hanyalah terdiri atas sebuah gendang sebagai pengatur irama dan sebuah gong bumbung (=gong tiup) sebagai finalis. Selebihnya gamelan mulut yang menyuarakan kata-kata berirama : lelo-lale-lo-lalo …. dan seterusnya, diseling dengan bentuk parikan, dan di sa­na-sini senggakan “hore – hore – hore”.

Karena itu, permainan tersebut dina­makan “panjak hore”. Peristiwa Permainan. “Panjak hore” biasanya ditampilkan pada saat-saat sehabis mu­sim panen padi, dilakukan oleh kawanan penggembala ternak di dae­rah-daerah tersebut. Sebuah permainan yang membawakan suasana santai, sekaligus merupakan, hiburan ringan bagi masyarakat petani,  setelah berbulan-bulan bekerja berat menggarap sawah sejak mengolah tanah, menabur bibit, menanam sampai menuai padi. Tampilnya  permainan “panjak hore” sehabis panen memang merupakan pemili­han saat yang tepat, sebab bagi masyarakat petani, waktu banyak senggang ialah sesudah panen selesai. Sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur, bahwa segala jerih payah yang mereka curahkan telah mencapai hasil panen yang baik. S. Latar Belakang Sosial Budaya.

Ungkapan rasa syukur itu menjadi lebih nyata lagi oleh penye­lenggaraan permainan “panjak hore” yang didahului dengan upacara yang mengarah kepada sifat-sifat ritual. Dalam pada itu disertai pula dengan sesaji segala, berupa tumpeng tanggung beserta lauk-pauk­nya di atas sebuah nyiru, sebuah nyiru lagi berisi peralatan dapur, antara lain : cobek, uleg-uleg (= alat pelumat cabe) dan beberapa lembar daun keluwih dan lain-lain. tidak ketinggalan dupa.

PANJAK HORE002Kelengkapan upacara demikian memang sudah mentradisi di kalangan masyarakat petani di daerah-daerah pedalaman. Kendatipun mereka memeluk agama Islam, namun sisa-sisa kepercayaan mistik Jawa kuno dan adat tata cara tradisional mereka tidak hapus melain­kan masih melekat pada alam kehidupan budaya mereka. Lebih-le­bih mereka jauh dari keramaian kota yang lebih materialistik corak budayanya, disebabkan letak daerah mereka yang jauh terpencil, se­hingga hidup mereka tidak mengenal kemewahan lahir. Mereka orang sederhana dalam pikiran dan dalam segala tingkah laku dan perbuat­an. Mereka terlalu sadar bahwa hidup mereka tergantung kepada . alam lingkungan mereka, karena itu mereka pun merasa hidup ber sama alam. Rasa syukur mereka panjatkan kepada Tuhan yang telah menjadikan mereka dan alam semesta, sesuai dengan ajaran agama, namun mereka juga tidak mengingkari jasa bumi yang langsung mem­beri mereka makan dan minum dan jasa langit yang memberikan hu­jan untuk mengairi sawah mereka. Kepada bumi dan langit mereka persembahkan sesajian sebagai tanda terima kasih. Kepada Tuhan me­reka panjatkan rasa syukur.

Sifat-sifat mistik religius demikian itu pun mewarnai kehidu­pan sosial budaya latar Belakang Sejarah Perkembangan. Mengingat letak daerah Kerek, Singgahan dan Bangilan yang satu sama lain terpencil dan terpisah-pisah oleh pegunungan dan hutan jati yang lebat, terutama perjalanan antara Kerek dan Singgahan yang harus melalui jarak jauh dan menaiki punggung bukit Kendheng lamun masing-masing memelihara sejenis permainan yang memiliki nama, pola dan gejala penampilan yang sama, kiranya dapatlah kita nenarik kesimpulan, bahwa di masa-masa jauh lampau permainan tersebut atau semacam itu, sudah umum dan menyebar luas di seluruh wilayah Kabupaten Tuban dan sekitarnya. Hanya masalahnya adalah apakah nama Panjak Hore sudah dikenal masyarakat sejak dulu, semasa kakek-kakek mereka, berlangsung sampai sekarang, dan pelaksanaannya pun masih tetap diadakan setelah musim panen. Jadi paling sedikit sudah tiga generasi.

Para pelaku dan Peserta Lainnya.

PANJAK HORE003Permainan “panjak hore” melibatkan banyak orang, semuanya  Laki-laki, muda dan tua, dengan tidak menentukan jumlahnya. Semakin banyak pesertanya semakin bersemarak, namun tidak akan me­lebihi batas muat arena yang digunakan. Biasanya arena tersebut berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7 meteran tiap sisinya. Tidak menggunakan panggung, melainkan di atas tanah di tengah lapangan atau halaman luas direntangkan tali berkeliling terpancang pada tonggak tiap-tiap sudut untuk membentuk sebuah arena. Sebuah lampu, stormking ditempatkan di tengah arena, digantungkan pada atau disangga oleh sebuah tiang.

Sebagaimana disinggung di muka, pelakunya terdiri atas kawan­an penggembala ternak, namun merekapun tergolong masyarakat petani karena tugas mereka di samping menggembala ternak juga membantu menggarap sawah. Empat orang di antara mereka yang de­wasa, dipilih untuk menjadi pelaku Balong, Pethak, Tangsil, dan Ca wik. Cawik adalah peraga perempuan, dalam hal ini dimainkan oleh laki-laki. Balong dan Pethak peranan rupawan, sedang Tangsil peran­an jenaka.

Di samping keempat peranan tersebut, masih diperlukan 20 sampai 30 orang yang berperan sebagai “panjak”, terdiri atas anak remaja ataupun dewasa. Bahkan orang-orang tua pun ikut pula tetapi kehadiran mereka itu rupanya untuk menjaga kekompakan dan ke­tertiban dalam pelaksanaan.

Perlengkapan, Busana dan Peralatan Lain-lain.

Perlengkapan yang diperlukan untuk pelaku-pelaku utamanya, terdiri atas empat perangkat busana wayang wong dalam bentuk dan arti yang sederhana, yaitu: suatu.perangkat busana perempuan Cawik dan tiga perangkat busana laki-laki Balong, Pethak, Tangsil, dan ma­sing-masing perangkat dengan kacamatanya,karena dalam penampi­lan mereka, keempatnya menggunakan kacamata. Hanya sebagai irah-irahan tutup kepala pelaku Tangsil mengenakan pici. Selain itu merekapun memerlukan alat rias yang sederhana.

Perlengkapan upacara berupa sesaji, sudah diuraikan di satu nyiru berisi tumpeng dengan lauk-pauknya, suatu nyiru lagi berisi cobek, uleg-uleg, daun keluwih dan lain-lain. kemudian dupa. Kemudian empat tonggak tempat pemancang tali berikut talinya sekali untuk batas arena. Selanjutnya masih ada lagi sebuah lampu (stormking) dengan cagak penggantung atau penyangganya. Beberapa lembar tikar tempat duduk niyaga atau panjak diletakkan di tengah mengitari cagak lampu. Instrumen gamelan hanya sebuah kendhang dan sebuah gong bambu. Selebihnya gamelan mulut, jadi tanpa peralatan.

Iringan Permainan.

Lelagon (lagu-laguan) Jawa populer sering juga diselipkan an­tara lain lelagon sinten numpak sepur (siapa naik sepur). Lelagon ini mulai populer pada jaman revolusi fisik tahun 1945. Karena pabrik gula banyak yang tidak bekerja, maka sepur lori yang biasanya mengangkut tebu, dimanfaatkan sebagai pengangkutan umum, menggantikan bus dan opelet yang waktu itu mulai hilang. Selain penumpang umum, sering juga rombongan pejuang, laskar maupun tentara resmi, naik sepur lori tersebut, yang mereka istilah­kan sepur dhur (entah dari mana asal istilah itu). Dalam perjalanan naik sepur dhur demikian, mereka pun beramai-ramai menyanyikan “sinten numpak sepur, mbayare setali…………………………………………………….. ” dan seterusnya, beru­lang-ulang. Lelagon populer tahun 1945 itu rupanya sempat pula diaba­dikan oleh masyarakat “panjak hore”.

Jalan Permainan.

  1. Panjak menempati bagian tengah, duduk di atas tikar yang sudah disiapkan. Kemudian keempat orang pelaku, yaitu Balong,Pe­thak, Tangsil dan Cawik tampil bersama germa selaku sesepuh seka­ligus pengatur laku (sutradara). Keempat pemain tersebut masih tertutup mukanya dengan sepotong kain.
  2. Germa membuka permainan dengan semacam kata pendahu­luan yang menerangkan, bahwa seratus empat puluh empat orang bidadari kahyangan turun ke arcapada bumi. Seratus orang berada di luar arena, empat puluh berada di tengah arena bersama Panjak, dan empat orang bidadari sisanya telah lelagon dilanjutkan lagi, selalu dengan diawali dengan suara tunggal bagai pembuka (introduksi), baik oleh pemain atau oleh panjaknya
  3. Dari dialog ini dapat kita tangkap kisah yang ingin disampaikan, yang ringkasnya seperti berikut. Pethak berusaha mencari pekerjaan, dan datang kepada Balong. Tetapi tidak berhasil, kemudian berangkat menuju ke rumah Tangsil-orang petani.
  4. Di sini lamarannya diterima, lalu bekerja pada Tangsil penggarap sawah, menabur benih, menanam padi, sampai masa menuainya . Setelah masa panen selesai, dan hasil panennya bagus, mereka lalu menghibur diri dengan tandhakan, sebuah kesenian sejenis ronggeng.
  5. Ronggengnya adalah Cawik. Setelah ini selesailah acara utama permainan “panjak hore”. Dalam penutupnya, dinyanyikan slagon yang isi syairnya mengisahkan, bahwa para pemain telah melepaskan pakaiannya dan bidadari pun meninggalkan arcapada kembali kekahyangan.
  6. Sampai di sini permainan Panjak Hore sebenarnya sudah habis, tetapi nampaknya sekarang Panjak Hore tidak berdiri sendiri, melainkan bergabung dengan permainan lain yaitu Jaran Kepang, Kalonganlan Lawakan sebagai atraksi penutup. Kalau diurutkan permainanya maka acara pertama adalah Panjak Hore. acara kedua diisi oleh permainan Jaran Kepang (kuda lumping). Acara ketiga Kalongan, yang merupakan tontonan akrobatik, sedang lawakan menempati acara terakhir.
  7. Hal ini mungkin telah sama-sama dikehendaki, agar permainan tidak akan cepat berakhir, tetapi masih berkelanjutan dengan atraksi-atraksi lain, sehingga merupakan hiburan yang lengkap. Dengan bergabungnya beberapa atraksi tersebut, maka permainan berlangsung hampir semalam suntuk, dari sekitar jam 9 malam sampai jam 3 dinihari.
  8. Kata-kata pendahuluan yang dibawakan oleh Germa itu disebut tandhuk. Dalam penyampaian tandhuk, kalimat demi kalimat selalu disambut penonton dengan sorak-sorai. Begitu tandhuk selesai, dibukalah kerudung yang menutupi muka keempat pemain, yang langsung disambut oleh lelagon Panjak.
  9. Maka permainan pun mulai. Keempat pemain itu menari-nari mengitari Panjak , dengan jalan memutar ke kanan seperti arah jarum jam. Pada saat-saat tertentu lelagon berhenti guna memberi kesempatan kepada pemain untuk berdialog, yang sering diselingi humor dan lawak yang memang menjadi kesenangan masyarakat setempat.

10. Peranannya Masa Kini Kiranya sudah jelas peranan permainan Panjak Hore di masa kini, yakni tetap merupakan hiburan ringan bagi masyarakat petani setelah merampungkan pekerjaan berat berbulan-bulan menggarap sawah untuk mencapai hasil panen yang diharapkan.

Tanggapan Masyarakat.

Dan dengan dikaitkannya dengan upacara syukuran, yang membuat permainan sedikit banyak mendapat warna ritual, suatu tradisi yang masih cukup kuat berakar dalam tata kehidupan masyarakat setempat, semua itu merupakan jaminan, bahwa masyarakat masih menyukainya. Dan kenyataannya memang demikian, bahwa sampai
kini pun Panjak Hore masih tetap diselenggarakan, dengan penampilan yang sama, adegan yang sama, diulang, dan diulang, setiap tahun sehabis musim panen, seolah-olah orang tidak mengenal bosan masuk dan bersatu dengan Para pelaku : Balong, Pethak, Tangsil, dan Cawik.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 30- 39

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 1984, Tuban dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s