Klanthung, Kabupaten Ngawi


KLANTUNGDari ibukota kabupaten Ngawi ke barat, menyusuri jalan pro­pinsi yang beraspal yang menghubungkan kota Madiun dengan Sura­karta (Jawa Tengah), kemudian melewati ibukota kecamatan Mantingan membelok ke selatan memasuki jalan desa yang menerobos hutan jati, membelok sana membelok sini, akhirnya sampai kita ke sebuah desa bernama Kedhungarja, terletak di kaki gunung Lawu. Kita telah menempuh jarak kurang lebih 40 kilometer, cukup jauh memasuki daerah pedalaman. Dua tiga kilometer jauh lagi terletak desa Pakah. Di kedua desa itulah terdapat suatu permainan rakyat yang oleh masyarakat setempat disebut Klanthung.

Peristiwa Permainan.

Jenis permainan rakyat Klanthung ini hanya ditampilkan malam hari pada setiap bulan Suro. Pada bulan-bulan lain tidak. Hal demikian adalah menurut naluri tradisi masyarakat setempat, tradisi kajawen (orang Jawa) umumnya, yang menganggap, bahwa bulan Suro adalah bulan baik, bulan Suci, untuk “sesuci” (menyu­cikan diri dari segala noda) dengan melakukan semedi, berpuasa, mengurangi tidur, lebih-lebih di malam hari, sehingga seluruh desa dalam bulan-bulan Suro setiap malam bersuasanakan “berjaga-jaga” sampai larut malam, bahkan pun sampai semalam suntuk.

Istilah “berjaga-jaga” di sini selain mengandung arti melek (tidak tidur), pun mengandung maksud “bersiap-waspada” terhadap gangguan-gangguan yang mungkin gangguan halus. Yang dimaksud­kan dengan gangguan kasar, ialah sebangsa pencurian, perampokan dan segala gangguan fisik lainnya, sedang dengan gangguan halus, ialah sebangsa wabah penyakit, hama, bencana alam dan lain-lain.

Terutama untuk menghadapi gangguan halus inilah “malam- malam tirakatan” sepanjang bulan Suro itu dilakukan. Untuk meng­hadapi gangguan pencurian, perampokan, dan sebagainya, desa telah menyelenggarakan .penjagaan keamanan sepanjang tahun secara rutin, dilakukan oleh warga desa secara bergiliran.

Khusus di bulan Suro, maka “malam tirakatan” tersebut di­maksudkan sebagai penolak bala, mengusir “roh-roh jahat” yang membawa malapetaka bagi desa dan warga penduduknya. Dan prak­tis seluruh warga desa mengalami kesibukan. Para lelaki yang tua-tua biasanya berkumpul berkelompok-kelompok di rumah-rumah warga yang berpencaran, dan membaca buku-buku kidungan atau weda, yang isinya pasti sesuai dengan maksud “malam tirakatan”. Para Perempuannya sibuk menyiapkan air kopi dan jajan-jajan penganan, atau mendengarkan bacaan kidungan tersebut.

Yang paling unik dalam cara mereka berusaha mengusir roh Jahat tersebut, ialah dengan menampilkan permainan Klanthung yang agak berbau religius magis itu. Dikatakan agak berbau religius magis karena nafas religius magisnya sudah banyak memudar karena tiada- nya upacara-upacara ritus khusus yang menyertainya. sebagai “penolak bala”. Kalau toh ada semacam lapal atau mantra, mantra itu pun dilakukan oleh satu dua orang yang kebetulan per­caya benar akan tuahnya, tetapi selebihnya tidak dilakukan orang lagi. Biasanya lapal atau mantra tersebut, diucapkan oleh pemimpin Klanthung yang sudah setengah baya atau berusia lanjut.

 

Latar Belakang Sosial Budaya.

Satu hal yang menarik pada permairan Klanthung desa Pakah ini ialah, sifatnya yang tak serius, namun sengaja atau tidak, lebih mendekati keasliannya di masa silam. Menurut salah seorang informan, asal mula permainan Klan­thung memanglah permainan anak-anak, dalam hal ini anak-anak penggembala ternak seperti kerbau, sapi atau kambing. Mereka lazim disebut bocah angon, atau sering disingkat dengan cah angon, baik se­bagai buruh angon atau pun angon ternak milik orang tuanya sendiri, maka dapat dibayangkan betapa besar kiranya jumlah bocah angon itu.

Mereka menggembala ternak kadang-kadang jauh dari rumah halaman sendiri, berkumpul di sebuah padang rumput yang luas, yang disebut ara-ara, di tepi hutan, atau yang di sana sini ditumbuhi belukar atau pepohonan tempat mereka berteduh mengaso setelah capai bermain-main. Biasanya tidak jauh dari situ terdapat telaga, atau blumbang, atau anak sungai tempat mereka mengguyang sapi atau membiarkan kerbau mereka berendam. Karena mereka tidak bersekolah, (pada masa itu belum atau masih jarang ada sekolah), maka mereka kerap kali menghabiskan waktu mereka sehari-harian di pangonan tempat-tempat penggem­balaan.

Mereka isi waktu mereka dengan bermain-main, dengan mengobrol, mendongeng, wayangan dengan boneka wayang yang me­reka buat sendiri dari bahan rumput, atau dengan ura-ura mengidung, atau mandi. Makan pun mereka lakukan di tempat dari bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah, atau membakar ubi-ubian. Menje­lang sore hari baru mereka berbondong-bondong mengiringi ternak mereka pulang ke rumah masing-masing. Dengan demikian lambat laun mereka merupakan suatu kelompok masyarakat sendiri, masya­rakat bocah angon, yang agaknya memiliki karismanya yang khas, sehingga pada masa itu predikat bocah angon membawakan pengertian yang legendaries. Dalam banyak cerita rakyat tokoh bocah angon sering ditampilkan, meskipun tidak menduduki peran utama. Pun dalam lelagon dolanan Jawa Ilir-ilir yang populer itu ada disebut pula bocah angon.

 

Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan.

Dulukala, desa-desa di bagian barat kabupaten Ngawi masih sangat jarang. Jarak antara desa satu dengan yang lain sangat jauh, dan harus menemtus hutan yang lebat. Hubungan sangat sulit, dan hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda. Keamanan pun tidak terjamin. Sering terjadi pembegalan yang disertai dengan penganiayaan atau pembunuhan. Desa-desa pur tidak jarang meng­alami gangguan keamanan oleh para penjahat yang berani dan nekad. Karena persenjataan untuk menanggulangi keamanan dulu itu tidak sesempurna sekarang, juga dalam sistim pemberantasan kejahatan, maka andalan penduduk untuk menghadapi dan melawan kawanan penjahat itu adalah kekuatan dalam yang diperoleh dengan ilmu-ilmu kanoragan kekebalan atau kesaktian disertai dengan mantram-man- tram segala. Karena kepercayaan dan keyakinan masyarakat umum akan kekuatan-kekuatan dalam yang demikian itu masih tebal sekali, maka effeknya pun juga positif. Si penjahat tidak berani dengan ge­gabah melakukan kejahatannya tanpa andalan kekuatan dalam. Penjahat adalah penjahat, dan desa beserta penduduknya tetap ber­jaga-jaga menghadapi kejahatannya itu.

Di antara kawanan penjahat seperti brandal, kampak, kecu, rampok, maling dan sebagainya, terdapat kawanan yang mengkhu­suskan obyek kejahatannya dengan mencuri ternak, kerbau, sapi, atau kambing. Kawanan itu terkenal dengan sebutan genthc. Biasa­nya kejahatannya itu dilakukan pada musim kemarau, untuk mudah menghilangkan jejak. Di musim penghujan hal demikian sukar dilaku­kan, karena tanah yang basah dan lunak karena hujan, mudah jejak Pencuri ditelusuri.

Sesuai dengan kebiasaan kawanan gentho tersebut, maka penduduk mengambil langkah-langkah untuk mengamankan ternak mereka. Maka pada musim-musim kemarau semua ternak desa dikum- Pu kan di beberapa tempat tertentu yang cukup luas, diberi berpagar m u berduri yang lazim carang, sedemikian kuat untuk melindungi ternak dari serbuan kawanan gentho. Di samping pagar carang yang uat itu pun dilakukan penjagaan dan perondaan semalam suntuk Bcara bergantian. Dalam perondaan itulah bocah angon ikut meng- mbil bagian sambil membunyikan thethekan dan thonthongan yang srbuat dari bambu, yang menimbulkan suara yang melodius ritmis cionoton. Pemimpin kelompok peronda bocah angon tersebut di- iluki “Klanthung”.

Apelkah dalam perondaan mereka pada masa itu juga disertai lengan tari-tarian, ataupun dengan menggunakan topeng atau coreng- noreng pada muka dan badan mereka, informan tidak menceritakan. Tetapi hal demikian mungkin saja terjadi. Sebab, merfgingat kebiasa- in mereka, bocah angon, yang menghabiskan waktu hampir sehari- larian penuh dengan bermain di pangonan, lalu mendengar irama )unyi-bunyian yang mereka tabuh sendiri, agaknya tidak masuk akal talau hati mereka tidak tergerak untuk mengikutinya dengan menari­lah. Mungkin gerak tarian itu datang dengan sendirinya, secara in- itingtif. Dalam pada itu alam kepercayaan masyarakat waktu itu ma- ;ih kuat diliputi “gugon tukon” tahayul masih mengandalkan ke­kuatan magis (kesaktian) melalui mantra-mantra, ajimat, pusaka, dan iebagainya, untuk menolak gangguan kekuatan dari luar. Tidak ter­kecuali tentunya kawanan pencuri ternak, para gentho, mereka pun menggunakan kesaktian untuk mensukseskan operasi kejahatannya, nisalnya dengan aji-aji penyirepan “mantra untuk menidur nyenyak- itan lawan”, sebagai mana kita dengar dalam kisah-kisah lama. Dengan demikian tidak mustahil pula, bahwa bocah-bocah angon yang meronda tersebut pun menggunakan topeng atau coreng mo- reng yang menyeramkan, dengan keyakinan, bahwa dengan demikian dapat memperoleh kekuatan magis yang akan mampu melawan dan melumpuhkan kesaktian kawanan gentho. Kelak kemudian hari naluri itu diwarisi dan diteruskan oleh anak cucu mereka turun te- murun, mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan per­kembangan jaman, dan akhirnya menjadi permainan Klanthung yang sekarang ini.

Dalam hal ini sekarang sudah ada sistim keamanan yang jauh lebih efisien, sehingga permainan ini dialihkan untuk menolak bala secara tradisional. Para pemainnya pun diganti dengan orang-orang dewasa atau tua-tua, mungkin untuk memberikan tekanan pada sifat religius magisnya yang ingin dipertahankan. Tiadanya upacara upacara ritus yang khusus yang biasanya menyertai tiap kegiatan semacam itu, kenduri, sesaji, dan sebagainya, mungkin didasarkan atas pertimbangan ekonomis atau kepraktisan. Bukankah penampilan Klanthung itu sendiri sudah merupakan upacara ritus ?.

Sebaliknya Klanthung desa Pakah lebih menitikberatkan pada penampilan anak-anak sebagai pengganti bocah angon. Anak-anak itu sendiri sebenarnya juga bocah angon, sebagai mana lazimnya anak-anak desa, tetapi sekarang tidak lagi bersifat legenda-ris seperti pendahulunya dimasa silam. Jamannya sudah berubah. Bocah angon jaman dulu peka terhadap kekuatan-kekuatan magis, karena menurut ucapan informan bocah angon jaman dulu banyak prihatinnya. Anak-anak sekarang sudah wajar menghayati dunia kanak-kanaknya, sehingga dengan demikian, unsur permainan lebih dominan mewarnai Klanthung Pakah. Hanya oleh wujud penampil-an penari yang menyeramkan serta monotonnya tetabuhan yang mengiringinya aspek religius magisnya secara tidak langsung terwakili. Suasana bulan Suro pun banyak membantu mewarnai sifat-sifat kereligio-magisan tersebut. Namun bagaimanapun, kecenderungan bermain-main nampak menonjol sekali.

 

Peserta Pelaksana.

Menyinggung masalah peserta pelaksananya, di muka telah dipaparkan, bahwa semuanya terdiri atas laki-laki dengan jumlah yang tidak dibatasi. Umurnya pun tidak ditentukan secara mutlak, ternyata pada Klanthung Kedungarja – yang didukung oleh orang-orang dewasa sampai tua sekalipun dan pada Klanthung desa Pakah yang terdiri atas anak-anak umur belasan. Mereka membagi diri dalam kelompok penari, kelompok pengiring tetabuhan dan kelompok pembawa obor. Kebanyakan mereka adalah petani dan anak petani penduduk desa-desa tersebut, yang umumnya memeluk agama Islam, yang diwarnai dengan rasa kejawen dengan alam pikiran dan kepercayaan tradisionalnya. Ini dibuktikan oleh permainan Klanthung itu sendiri pada bulan-bulaan Suro, yang merupakan sisa-sisa peninggalan tata cara tradisional Jawa lama.

Peralatan/Perlengkapan Permainan

Tentang peralatan dan perlengkapan permainan pun telah di­singgung di muka secara sepintas. Yang utama ialah topeng, khusus untuk Klanthung Kedhungarja. Jumlahnya menurut keadaan, semua melukiskan roman mahluk-mahluk yang menyeramkan : gendruwon, setan-setanan, hantu-hantuan, binatang, yang dikerjakan menurut selera dan fantasi mereka masing-masing secara primitif pula. Tetapi justru keprimitifannya itu malahan yang lebih kuat mengekspresikan sifat religius magisnya.

Bahan dan proses pembuatan topeng itupun sederhana pula. Pelepah bambu, biasa disebut slumpring dipilih yang lebar-lebar dan kering. Dengan pisau tajam dibuat beberapa lobang yang memben­tuk mata, hidung dan mulut. Kemudian dilukis menurut kehendak si pembuat, dengan menggunakan sejenis cat bubukan dicampur de­ngan minyak. Warna yang digunakan biasanya tiga macam : merah, putih, hitam.

Di samping slumpring, kadang kala bahan lain juga digunakan, yaitu pelepah kelapa, diambil bagian pangkalnya, dipilih yang sudah kering dan mempunyai bentuk yang sedikit banyak menyerupai ben­tuk yang diinginkan, tinggal membuat lubang-lubang matanya, dan kemudian dilukis. Bahan yang sudah dibeli sudah jadi.

Mengenai busana mereka, pemain menggunakan pekaiannya sehari-hari, dengan warna kelam dan lusuh. Yang menarik pada Klanthung Kedhungarja ialah, bahwa diantara para penari itu terdapat dua yang terasa asing karena dan­danannya. Dua penari ini berbusana seperti wayang wong, lengkap dengan atribut-atributnya seperti jamang, sumping, kalung kaceh, penutup leher, kelat bahu, setagen, sabuk epek timangan, sampur, kain batik, yang gemerlapan. Penampilan mereka amat kontras dengan lingkungannya.

Klanthung Pakah tidak memerlukan topeng. Busana pun ti­dak, karena anak-anak penari itu hampir telanjang, hanya mengena­kan celana pendek, kadang-kadang cawat, sekujur badannya; kepala; lengan, tangan dan badan sampai kaki, dilabur dan dicoreng morengi dengan warna hitam, putih, merah. Untuk bahan pewarna digunakan serbuk jelaga, kapur (bedak), dan meni.

Untuk bahan pewarna ini diguna­kan Peralatan tetabuhannya tidak memerlukan perbedaan pokok antara Klanthung Kedhungarja dan Pakah. Gong (yang sebenarnya kempul), kethuk, kenong, beberapa macam thonthongan dan the- thekan menurut ukuran besar kecilnya, yang karenanya memberikan nada suara besar kecil pula. Krincing atau triangle adalah instrumen yang menyusul kemudian. Kendhang pun digunakan untuk mengatur Irama.

Tidak termasuk peralatan pokok, namun mutlak diperlukan ialah obor, atau dengan istilah setempat disebut oncor. Bahannya dari bambu, sepotong bumbung panjang 1 ,meter, garis tengah 5 senti­meter. Ruas paling atas diisi dengan minyak dan diberi bersumbu. Jumlah obor menurut keperluan, tergantung besar kecilnya jumlah peserta.

Iringan Permainan.

Permainan diiringi dengan bunyi-bunyian dari alat-alat tabuh seperti : kenong, kempul, kethuk dan thethekan.

Jalan Permainan.

a. Bentuk Permainan

Adapun bentuk permainan Klanthung itu semacam karnaval terdiri atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah sebarisan pe­nari, semua laki-laki bertopeng hantu-hantuan atau binatang-bina­tangan. Ada pula yang berupa tengkorak manusia, tetapi dengan ram­but berumbai-umbai, pendek kata semua melukiskan mahluk aneh yang serba menyeramkan dan menakutkan.

Atau ada yang tidak menggunakan topeng. Kepala dan sekujur badan mereka yang hanya menggunakan celana pendek atau setengah telanjang, dilabur hitam dengan diberi coreng moreng putih dan merah. Kelompok kedua ialah barisan penabuh gamelan, yang terdiri atas beberapa orang dengan instrumennya masing-masing : ked­ang, kempul, kenong, thonthongan besar kecil terbuat dari bahan bambu atau kayu. Kadang pun di tambah dengan kerincing.

Di samping kedua kelompok inti tersebut, sebenarnya masih terdapa kelompok ketiga sebagai pelengkap, yang bertugas sebagai pengiring dan  membawa obor untuk menerangi jalan dan arena.  Demikianlah kelompok-kelompok itu menyatu merupakan iring-iring an yang bergerak menyusuri lorong-lorong dan jalan-jalan desa sem- baru berjogedan dalam tingkahan irama tetabuhan yang monoton.

Diterangi cahaya obor yang selalu bergerak, dengan tetabuhan yang monoton namun mengasyikkan, dan penarinya yang berjoget dengan dandanan yang menyeramkan, maka iringan permainan Klanthung memang mampu menciptakan kesan dan suasana yang menakutkan, sehingga bulu kuduk kita bisa berdiri. Tetapi justru efek yang me­nakutkan itulah yang sengaja mereka buat, menurut kepercayaan masyarakat setempat, agar roh-roh jahat menjadi takut dan terusir dari desa.

b. Perbedaan Penampilan

Desa Kedhungarja terbagi dalam beberapa dukuh, dan tiap- tiap dukuh mempunyai kelompok Klanthungnya sendiri, dengan de­mikian terdapat beberapa kelompok Klanthung dalam satu desa. Desa Pakah pun terbagi pula dalam beberapa dukuh dengan kelom­pok Klanthungnya masing-masing. Menarik, ialah terdapatnya perbedaan yang agak fundamen­tal antara kelompok Klanthung desa Kedhungarja dan kelompok desa Pakah, walaupun jarak antara kedua desa itu tidak jauh.

Pemain kelompok Klanthung Kedhungarja terdiri atas orang-orang dewasa, di antaranya terdapat yang tua-tua. Penarinya menggunakan topeng semua, dan dalam memainkan peranannya masing-masing nampak serius. Hal ini disebabkan karena usia mereka, yang mempengaruhi citra mereka tentang permainan Klanthung. Mereka beranggapan, bahwa Klanthung bukan permainan biasa, atau sama sekali bukan permainan, melainkan upacara yang sudah men­tradisi turun temurun untuk mengusir roh-roh jahat, sesuai dengan alam kepercayaan masyarakat lingkungan mereka. Permainan Klan­thung pun oleh karenanya dilakukan semalam suntuk, setidak-tidak­nya sampai dinihari.

Lain halnya dengan kelompok Klanthung desa Pakah, yang pemainnya terdiri atas anak-anak semua. Kalaupun terdapat satu dua orang dewasa di antara mereka, maka yang satu dua itu bertindak selaku pimpinan atau pamong. Penarinya tidak bertopeng, hanya mu­kanya diberikan coreng moreng hitam putih, merah. Tidak hanya mukanya, bahkan seluruh tubuhnya. Dalam melakukan “tarian” mereka, mereka nampak santai sekali, tidak serius. Hal yang wajar saja, karena mereka anak-anak. Sesuai dengan jiwa anak-anak, mereka bermain-main dalam arti yang murni. Kalau mereka mengenakan “make up” yang menyeramkan, itulah karena tiru-tiru saja. Dalam benak mereka tidak sedikitpun terlintas niatan untuk mengusir roh- roh jahat. Mereka merasa senang kalau dengan mukanya yang seram itu dapat menakuti anak lain sebaya mereka.

Permainan Klanthung desa Pakah ini tidak berjalan semalam suntuk, hanya sampai tengah malam, mengingat esok paginya mereka harus bersekolah. Bagi anak- anak desa Pakah, mungkin bulan Suro merupakan bulan yang paling menyenangkan sepanjang tahun, sebab mereka beroleh kesempatan berjaga sampai tengah malam, yang biasanya sudah tidur pada jam delapan atau sembilan. Lebih-lebih kalau dapat bermain Klanthung, setidak-tidaknya ikut mengiringkan. Keluar rumah malam-malam secara bergerombol dengan kawan-kawan merupakan kesenangan sendiri bagi anak-anak.

c. Pelaksanaan Permainan

Biasanya permainan Klanthung dimulai jam delapan malam. Para pelaku pelaksananya berkumpul di satu tempat yang sudah di tentukan semula. Mereka membawa persiapan dan perbekalan ma­sing-masing. Pembawa obor dengan obornya, pengiring tetabuhan dengan instrumennya masing-masing, para penarinya dengan atribut- atribut yang diperlukan. Iringan Klanthung mulai bergerak, kalau segala sesuatunya sudah lengkap dan siap.Tetabuhan mulai bergema, penari-penari yang paling depan berjoged dengan gaya masing-masing, para peme­gang obor merupakan barisan pengapit berada disisi kanan dan kiri sepanjang iring-iringan.

Demikianlah iring-iringan perlahan bergerak maju, menyusuri lorong-lorong dan jalan-jalan desa. Keheningan yang biasanya meliputi desa di malam hari, kini suasana tidak seperti malam. Desa menjadi hidup dan semarak oleh kesibukan. Tidak se­dikit anak-anak remaja tanggung dan dewasa yang berbondong-bon­dong ikut mengiringkan barisan Klanthung, berkeliling dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Orang tua-tua laki perempuan, gadis- gadis, dan anak-anak kecil biasanya  hanya mancegat di halaman rumah masing-masing.

Di perempatan jalan iringan Klanthung berhenti sebentar, tetapi penari-penarinya tetap menari, dan tetabuhan pun tetap ber- talu. Kalau dirasa sudah cukup, bergerak lagi iringan meneruskan per­jalanan berkeliling sampai kemput semua tersinggahi, maka kembali iringan ke pos semula untuk mengaso, untuk kemudian mulai keliling lagi, sampai berakhir  pada tengah malam (Pakah), atau dinihari (Kedhungarja). Permainan Klanthung benar-benar mengasyikkan.

Peranannya Masa Kini.

Klanthung Kedhungarja sejauh ini masih mempertahankan unsur religius magisnya., hanya berbeda sekarang tidak lagi dituju­kan semata-mata untuk menanggulangi pencurian ternak.

Tanggapan Masyarakat.

Permainan Klanthung adalah naluri tradisional yang tetap di­pelihara oleh penduduk desa Kedungarja dan Pakah, atas dasar pra­karsa, spontanitas, dan kerukunan masyarakat setempat. Citra umum akan keagungan bulan Suro, yang cenderung dikeramatkan itu, membantu terpeliharanya permainan Klanthung yang religius magis, sekalipun sifatnya di sana sini itu agak memudar oleh peng­aruh keadaan jaman.

Juga lokasi desa yang relatif terpencil itu pula menyebabkan penduduk setempat mungkin tidak mengenal hiburan lain, sehingga Klanthung merupakan satu-satunya hiburan bagi me­reka, itu pun kalau Klanthung dianggap hiburan. Tetapi yang jelas, hiburan atau bagian dari tata cara adat, Klanthung saat ini masih menjadi milik yang masih dibanggakan oleh masyarakat penduduk Kedhungarja dan Pakah. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat melibatkan diri ke dalam permainan tersebut, pasif ataupun aktif.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH, Tahun  1983 – 1984, hlm.42-52

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Ngawi, Seni Budaya, Th. 1984 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s