Terjadinya Pohon Kapuk Randu


Pada zaman Hindu Jawa pernah hidup seorang raja yang ber­nama Prabu Ngarum. Istananya terletak di pesisir utara Pulau Jawa, sebelah barat kota Pasuruan atau sebelah barat laut Gunung Bromo. Kerajaannya merupakan kerajaan kecil yang dihuni hanya oleh para pengikut raja. Prabu Ngarum adalah seorang raja yang baik, yang memerintah dengan bijaksana dan adil. Oleh karena itu, dia sangat dihormati oleh rakyatnya.

Ketika melihat kerajaannya semakin berkembang, timbul hasrat­nya untuk mencari seorang permaisuri. Memang dia sudah memiliki pilihan hati, yaitu seorang puteri yang cantik jelita, puteri raja dari kerajaan sebelah timur. Sang raja merasa bahwa raja kerajaan tetangga itu menyukainya dan juga yakin bahwa dirinya akan direstui untuk menikahi sang puteri. Dia tetap yakin pada keberhasilannya meskipun puteri tersebut telah menolak lamaran dua pangeran dari kerajaan yang berada di dekatnya.

Namun, tiba-tiba rasa khawatir menyelimuti Raja Ngarum jika lamarannya ditolak. Hubungan yang sudah berjalan baik dengan ayahnya akan terganggu. Raja Ngarum kemudian membicarakan niat­nya dengan patih kerajaan. Raja juga menyatakan kekhawatiranya tentang retaknya hubungan yang sudah terjalin baik jika lamarannya itu gagal. Patih kemudian menganjurkan kepada raja untuk menggunakan Ngelmu Jaran GoyangPitune yang sudah dikuasai sang raja Sang raja menyetujui usulan tersebut.

Setelah mengirim dua utusan, raja berangkat disertai para pengiringnya. Sebelum berangkat, raja mengucapkan mantera Jaran Goyang Pitune dalam hati dan pikirannya. Dengan cara ini, dia percaya lamarannya pasti tidak akan ditolak. Sesampainya di kerajaan tetangga, dia diterima dengan ramah oleh raja dari kerajaan tetangga dan setelah menyatakan maksudnya dengan khikmat, melalui kekuatan ri ngelmu lamarannya diterima oleh sang puteri. Namun, sang puteri mengaju­kan syarat agar raja muda harus bisa melindunginya dari niat buruk kedua pangeran yang lamarannya sebelumnya ditolak. Sang puteri tahu bahwa kedua pangeran tersebut akan menanggung malu karena sang puteri menerima lamaran orang lain. Sang puteri takut mereka akan melakukan balas dendam.

Raja Ngarum menerima persyaratan ini, dan puteri yang cantik ini kemudian dibawa pulang ke kerajaannya. Raja dan permaisuri diterima oleh rakyatnya dengan penuh kegembiraan. Di seluruh kerajaan kemudian dilakukan pesta perkawinan yang meriah. Ketika kedua pangeran yang lamarannya ditolak mendengar bahwa puteri yang cantik ini akhirnya menikah dengan Raja Ngarum, mereka bersumpah untuk membalas dendam.

Raja Ngarum dengan ngelmu-nya, hidup bahagia bersama sang permaisuri, yang kemudian memberikan tiga anak (puteri) yang kecantikan mereka sebanding dengan ibunya. Tetapi, seiring per­jalanan waktu, kebahagiaan itu ada akhirnya. Permaisuri tiba-tiba sakit parah. Dukun pintar dari seluruh kerajaan tidak ada yang dapat mengetahui sebab sakitnya dan menyembuhkannya. Pada suatu hari, datanglah ke istana Kerajaan Ngarum seorang dukun yang meyakin­kan dapat menyembuhkan permaisuri, dengan syarat bahwa untuk sembuh harus minum susu dari binatang Sindu Upaka terlebih dahulu.

Segera dikirim utusan ke segala penjuru untuk mencari susu yang dimaksud, tetapi akhirnya semua utusan kembali dengan tangan hampa. Penyebabnya adalah telah tiba musim di mana binatang Sindu Upaka berhenti menyusui anak-anaknya. Oleh karena itu, raja memberikan “maklumat” ke seluruh wilayah kerajaan, yang berisi “barang siapa dapat memberikan susu dari seekor binatang Sindu Upaka, ia akan menghadiahi apa saja yang diinginkanya.”

Maklumat ini rupanya didengar oleh salah satu dari dua pangeran yang pernah ditolak sang puteri. Dia ingin melakukan balas dendam. Dengan mengucapkan mantera ngelmu gadhungan, pangeran meng­ubah dirinya untuk sementara menjadi monyet. Sebagai monyet, dia pergi ke istana Kerajaan Ngarum dengan membawa sebuah tabung bambu yang berisi cairan putih kotor {rereged blawus). Cairan putih kotor ini diberikan kepada raja dengan mengatakan sebagai susu seekor binatang yang sakti. Tujuannya adalah untuk membunuh permaisuri.

Tetapi, para dewa ternyata bermaksud lain. Permaisuri meminum cairan putih kotor ini dan setelah beberapa hari justru sembuh. Atas jasanya, raja kemudian menawarkan kepada kera segala sesuatu yang enak untuk dimakan. Tetapi, monyet ini menolak semua tawaran itu. Melihat upaya untuk membalas dendam gagal, sekarang dia berpikir untuk mempermalukan raja dan permaisurinya. Ia ingin agar permaisuri mendapat malu besar. Setelah berpikir sesaat, diminta­nya dua alat gamelan milik raja, yaitu kenong (gong kecil) dengan ketuknya (pemukulnya). Tanpa banyak berpikir raja memenuhinya.

Segera setelah mendapat hadiah-hadiah ini, monyet ini pergi ke hutan dan memanjat ke atas pohon tertinggi. Setiap kali ada manusia yang lewat, dengan ketuk dipukulnya kenong sambil berteriak. “Permaisuri berpikir bahwa ia telah meminum susu binatang, ternyata yang diminum adalah kotoran saya!”

Setiap ada orang yang lewat, teriakannya diulangi sambil memukul kenong. Orang-orang yang lewat dan mendengar teriakannya merasa bahwa ucapannya itu menghina permaisuri yang mereka cintai dan hormati. Akhirnya, mereka menceritakan kepada raja dan permaisuri tentang apa yang telah mereka dengar. Mengetahui permaisurinya dihina sedemikian rupa, Raja Ngarum menjadi sangat murka. Dikirim­lah para pembantunya untuk menangkap monyet itu, tetapi monyet itu pintar. Maka tidak ada yang berhasil menangkapnya.

Akhirnya raja memberikan maklumat dan sayembara, barang siapa dapat menangkap monyet itu akan diberi hadiah salah satu puterinya. Karena kecantikan puteri-puteri Raja Ngarum telah dike­tahui umum, semua yang merasa sanggup berlomba-lomba untuk menangkap monyet itu. Sayangnya, semuanya gagal.

Salah seorang pangeran lainnya, yang lamarannya pernah ditolak permaisuri, juga mendengar sayembara tersebut. Akhirnya, timbul keinginan untuk membalas dendam. Yang pertama terhadap orang yang dianggap sebagai penyebab dari kegagalannya, kedua kepada puteri yang pernah dicintainya. Dia juga akan melakukan tipu muslihat untuk membalas dendam. Maka dia pergi ke keraton Raja Ngarum. Ketika berada di dekat raja, dengan bantuan man tera ngelmu gadhungan, dia mengubah dirinya menjadi seekor kepiting.

Sebagai binatang, dirinya menghadap raja dan memohon agar diperkenankan untuk ikut dalam usaha menangkap monyet yang menghina raja dan permaisurinya. Dan bila berhasil, ia ingin menerima hadiah yang dijanjikan. Raja juga menjadi heran karena bertemu dengan seekor kepiting yang dapat berbicara dan kecurigaannya makin bertambah kuat karena sebelumnya telah ditipu oleh seekor kera yang juga dapat berbicara.

Setelah berpikir sejenak dan merasa bahwa kera dan kepiting adalah manusia yang beralih rupa, akhirnya raja setuju kepiting bisa ikut serta dalam sayembara itu. Kepiting kemudian dibawa ke hutan, tepatnya di kaki pohon di mana monyet sedang bertengger. Tanpa takut, kepiting naik ke atas pohon dan sebelum monyet mengetahui, dijepitnya salah satu kakinya. Monyet berteriak kesakitan dan kemudian menjatuhkan ketuk dan kenong-ny*. Bersama dengan kepiting, keduanya jatuh dari pohon. Begitu jatuh, orang-orang yang menunggu di bawah segera menangkap monyet dan mengikatnya. Bersama dengan kepiting, keduanya dibawa ke hadapan raja. Raja terpaksa memenuhi janjinya dan kemudian memanggil ketiga puterinya. Diterangkan bahwa dia harus melunasi janji, tetapi tidak ada satu pun dari ketiga puteri ini ingin menikah dengan seekor kepiting.

Karena Raja Ngarum tidak ingin melanggar janji kerajaannya, ketiga puterinya disuruh melakukan undian, dan siapa yang kalah harus menikah dengan kepiting. Undian dilakukan dan nasib telah menunjuk puteri yang termuda dan yang tercantik bernama Puteri Dewi harus menikah dengan kepiting. Dewi kemudian dinikahkan dengan kepiting dan diberikan tempat peristirahatan yang bagus sebagai tempat tinggal keduanya.

Ketika upacara perkawinan dan pesta berlangsung, ternyata monyet berhasil melarikan diri. Dia kemudian mengubah dirinya menjadi manusia lagi dan ikut berbaur dengan orang-orang yang berpesta. Dengan kekuatan ngelmu-nya, dia mengetahui bahwa kepiting adalah pesaingnya ketika berlomba untuk mendapatkan permaisuri. Mengingat sakitnya jepitan pada kakinya, pikiran utamanya adalah melakukan balas dendam. Setelah pesta, Puteri Dewi dan suaminya berangkat ke peristirahatan yang indah yang telah diberikan oleh orang tuanya. Raja dan permaisuri merasa iba melihat Puteri Dewi harus kawin dengan kepiting.

Ketika tiba di tempat peristirahatan, matahari mulai terbenam, dan petang harinya kepiting mengubah dirinya menjadi seorang pangeran. Dia kemudian menceritakan kepada Dewi yang cantik jelita ini, bahwa dalam perubahan sosok tubuhnya, niatnya semula adalah untuk membalas dendam. Tetapi, melihat kecantikan dan keramahan Dewi, niatnya itu dibatalkan. Dia berniat sesudah sekian waktu, disebabkan kekuatan ilmunya pada siang hari, masih harus menjadi kepiting. Tetapi, bila kembali pada sosok tubuh manusia, dia akan membawa Dewi ke istananya.

Pangeran ini, meskipun tidak muda lagi masih sangat perkasa sebagai laki-laki. Karena kebaikan dan daya tariknya, akhirnya Puteri Dewi merasa tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Mereka pun hidup bahagia. Puteri Dewi akhirnya harus menerima kenyataan kekuatan ngelmu yang ada pada pangeran. Yaitu, menggantikan siang hari men­jadi malam hari di mana pada malam hari dirinya bersatu dengan suaminya.

Bagi pangeran yang satunya lagi, masa di mana dia harus menjadi monyet masih belum berlalu sehingga sesudah malam hari meng­hadiri pesta perkawinan, keesokan harinya menjelma menjadi monyet lagi. Sewaktu Dewi dengan suaminya, si Kepiting pergi ke tempat peristirahatan, monyet mengikutinya secara diam-diam dan berusaha agar tidak tampak oleh para pengikut kedua pasangan ini. Karena telah kehilangan kenong dan ketuk, monyet ini tidak ada bedanya dengan monyet-monyet lainnya. Hingga dirinya dapat mengembara di sekitar tempat peristirahatan tanpa dapat diketahui. Sewaktu monyet mengetahui bahwa sang puteri dapat hidup berbahagia dengan suaminya dan bahwa sang puteri ini amat cantik, timbullah penyesalannya bahwa dia tidak memanfaatkan janji raja untuk meminta salah satu puterinya sebagai istri.

Karena masih merasa dendam terhadap pesaingnya, muncullah rasa iri dan keinginan membalas dendam. Monyet juga melihat bahwa peristirahatan pada siang hari tertutup, tetapi pada malam hari pintu- pintunya terbuka. Dia melihat bahwa pesaingnya pada malam hari kembali lagi menjadi manusia dan bermesraan dengan Puteri Dewi. Pemandangan ini benar-benar meluluhlantakkan hatinya.

Pada suatu malam, dia mengintip lagi melalui pintu yang separo terbuka. Dari kejauhan dilihatnya pesaingnya sedang tidur berbaring lelap setelah bermesraan bersama Puteri Dewi. Dan pada sebuah bangku dilihatnya kulit penutup kepiting yang kosong. “Inilah saat untuk balas dendam,” pikirnya. Ia pun segera mengendap masuk dan mengambil kulit penutup kepiting yang kosong dan dipecah. Kemudian monyet itu naik ke atas pohon lagi dan menunggu hingga fajar. Sewaktu pangeran bangun dan mencari kulit penutupnya, dilihatnya bahwa kulit penutupnya telah pecah. Kemudian dia mengatakan kepada Puteri Dewi bahwa dirinya tidak lagi dapat men­jadi kepiting karena cangkangnya telah pecah. Karena, menurut ngelmu yang dianutnya, dia belum waktunya berubah menjadi manusia. Maka kalau fajar tiba, dia akan mati. Memang, ketika matahari muncul, sang pangeran meninggal. Melihat kejadian itu, monyet tertawa terkekeh-kekeh.

Sekarang Dewi mengerti bahwa karena suatu dendam, monyet membunuh suaminya. Oleh karena itu, disuruhnya para pembantunya keluar untuk membunuh monyet itu. Tetapi, monyet itu kemudian bersembunyi pada siang hari di antara dahan-dahan pohon. Pada malam hari, dia bertengger lagi di pohon di dekatnya dan diper­dengarkannya lagi tertawanya yang terkekeh-kekeh untuk menambah kesedihan puteri yang baru saja kehilangan suaminya itu. Puteri Dewi, karena kesedihan yang amat sangat, enggan untuk hidup lagi. Kemu­dian dia berniat untuk membalas kejahatan monyet yang merusak hidupnya.

Dengan hati yang penuh bara dendam, dicarinya dukun ngelmu. Dari dukun itu dia belajar ngelmu manglih, yaitu ilmu mengubah rupa menjadi sosok yang dikehendaki. Pada malam hari, sesuai kebiasaan monyet bertengger di atas pohon sambil memperdengarkan tawa terkekehnya, diam-diam Dewi telah berada di bawah pohon itu. Dengan ngelmu-nya, dia mengubah dirinya menjadi pohon berduri dan buah dadanya menjadi berjuta-juta duri yang tajam mengelilingi seluruh kulit pohon. Kaki tangannya menjadi cabang dan ranting pohon sehingga monyet tidak dapat bersembunyi di antara dahan-dahannya. Jika monyet ingin turun, ia akan terkena duri-duri itu sehingga merobek kulit perutnya. Seusai mengucapkan mantera, seluruh tubuh Dewi berubah menjadi pohon yang dikehendakinya.

Maka jadilah ia pohon yang sekarang dinamakan “pohon kapuk randu.” Pada pagi harinya, bangunlah monyet dari tidurnya. Dia ingin turun, tetapi duri-duri pada pokok batang dan dahan-dahannya merobek perut, kaki, dan tangannya sehingga dia menderita kesakitan yang amat sangat. Karena luka yang parah, akhirnya monyet itu mati. Dalam kematiannya, berubahlah badan monyet menjadi badan pangeran.

Dewi yang mengabdikan dirinya untuk membalas dendam atas kematian suaminya ditakdirkan menjadi pohon kapuk randu. Sejak itu roh Dewi bersemayam di dalam batang pohon kapuk randu.

Capt. R.P. Suyono, Mistisisme Tengger, LKIS, Yogyakarta 2009,  hlm. 353-360

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Legenda, Pasuruan, Probolinggo, Th. 2009 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Terjadinya Pohon Kapuk Randu

  1. Reblogged this on I'm Dafiqurrohman and commented:
    Legenda Jawatimuran ancen seru pol!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s