Organisasi Sosial, Masyarakat Using


Yang dimaksud dengan dalam tulisan ini, adalah organisasi sosial nonformal, organisasi atau perkumpulan yang pembentukannya didasari oleh kehendak dari warga masyarakat yang bersangkutan. Pada masya­rakat Using di Kemiren umumnya organisasi tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti kehidupan spiritual, eko­nomi dan kesenian. Dibanding dengan organisasi sosial formal keberadaan organisasi-organisasi tersebut lebih terasa. Karena itu manfaatnya pun dalam masyarakat lebih nyata dan dapat dirasakan

Organisasi sosial yang didasari oleh kehidupan spiritual adalah organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dari aliran “Sapto Darmo” dan “Purwo Ayu Mardi Utomo” (PAMU), serta kelompok-kelompok pengajian. Organisasi sosial yang dilandasi oleh kehidupan ekonomi adalah berbagai kelompok arisan. Sementara itu organisasi sosial yang berkaitan dengan kesenian adalah berbagai kelompok kesenian tari tradisional khas orang Using seperti perkumpulan tari Jejer Gandrung, Barong, Angklung Pelangi, dan Angklung Caruk, serta perkumpulan seni musik kosidahan.

Sapto Darmo dan PAMU sebagai sebuah aliran kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebarannya telah sejak lama dianut dan berkembang di Kemiren. Paling tidak sudah sejak tahun  1930-an. Setelah seorang tokoh Kemiren yang bernama Mbah Jembul berguru kepada sesepuh aliran PAMU yaitu R.M. Djojo- poernomo di Dukuh Tojo, Genteng, Banyuwangi. Adapun hal ikhwal tentang aliran Sapto Darmo yang tokoh utamanya adalah Harjo Sapuro berasal dari Pare, Kediri, para warga Using tidak dapat mengetahui persis masuknya ke Kemiren. Kedua aliran ini menjadi sebuah organisasi masa pada tahun 1985, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor II Tahun 1985, di mana semua aliran kepercayaan yang ada di Indonesia diwajibkan untuk mengorganisir diri. Peraturan ini bertujuan untuk mempermudah pembinaan terhadap para pengikutnya agar melalui ajarannya itu tidak menjurus kepada suatu usaha pembentukan agama baru. Secara administratif para anggota dari kedua organisasi tersebut beragama Islam.

Kedua organisasi aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kemiren pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tercapai ketenangan dan ketentraman hidup baik lahir maupun batin. Menurut Pak Supanto seorang tokoh dari aliran Sapto Darmo perbedaan keduanya adalah pada tata ibadah yang dilaku­kan. Cara yang dilakukan oleh Sapto Darmo dalam mengkonsen- trasikan diri menghadap Tuhan dengan cara banyak melakukan semedi, sedangkan PAMU lebih banyak mengandalkan sujud. Dalam pengalamannya organisasi PAMU berorientasi kepada 4 buah rukun, yaitu Rukun Tonggo Jiwo, Rukun Tonggo Wismo, Rukun Tonggo Deso, dan Rukun Tonggo Negoro. Sementara itu, aliran Sapto Darmo memedomani para pengikutnya dengan tujuh hal, yaitu (1) setia kepada Allah Yang Maha Agung, Maha Rakhim, Maha Adil, Maha Waseso dan Maha Langgeng, dengan jujur dan suci hati, (2) harus setia menjalankan perundang-undang- an negaranya, (3) turut serta menyingsingkan baju menegakkan berdirinya Nusa dan Bangsanya, (4) menolong kepada siapa saja bila perlu, tanpa pamrih apa saja, melainkan hanya rasa belas kasihan, (5) sikap hidup bermasyarakat dan kekeluargaan harus susila beserta halusnya budi pekerti, (6) selalu merupakan pe­nunjuk jalan yang mengandung jasa serta memuaskan, dan (7) jalinan keadaan dunia ini tidak abadi. Sebagai identitas keanggota­an para pengikut atau anggota dari kedua organisasi Penghayat Terhadap Tuhan Yang Maha Esa ini umumnya memasang lambang organisasi di rumahnya

Keberadaan kedua organisasi penghayat tersebut tampaknya semakin lama semakin terdesak oleh ajaran agama Islam yang se­nantiasa diperkenalkan dan dihinakan oleh sejumlah tokoh- tokoh agama yang ada di desa . ini seperti guru-guru agama dan Bapak “Modin”. Mereka mempunyai misi untuk menyadarkan para warga masyarakat untuk mengamalkan segenap ajaran agama­nya sesuai dengan identitas yang telah dimilikinya, yaitu agama Islam. Para tokoh agama tersebut mengingatkan bahwa yang harus diperhatikan dalam hidup beragama bukan saja perilaku yang baik tetapi juga menjalankan syariat atau aturan-aturan yang telah ditentukan. Menurut sejumlah tokoh agama, di desa ini masih agak sulit untuk merubah perilaku spiritual warga ma­syarakat Kemiren terutama dalam syariatnya.

Perbedaan pendapat tentang ajaran antara anggota organisasi Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan tokoh agama cukup me­warnai hubungan antara keduanya. Menanggapi perbedaan pen­dapat tersebut para tokoh organisasi penghayat dengan nada sinis menyatakan “mau menyembah Tuhan dan berbuat baik kok malah dihalangi”. Lebih lanjut para tokoh itu berkomentar “apa gunanya melakukan syariat secara baik kalau perilakunyapun tidak baik”.

Sementara itu tokoh agama mengomentari pendapat ter­sebut bahwa sebenarnya mereka hanya malas melakukan syariat yang telah menjadi prasyarat ajaran agama Islam sehingga mereka senantiasa berdalih. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu terjadi bila mereka memahami dan melakukan ajaran Islam secara benar, menurut tokoh agama tersebut lebih lanjut. Intensifnya pendidikan agama Islam di sekolah dasar tampaknya akan mengurangi pemahaman generasi yang akan datang terhadap aliran Penghayat Kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai organisasi. Indentitas yang telah mereka miliki sebagai keluarga Islam tampak­nya mempercepat proses tersebut. Guru-guru agama Islam di kedua sekolah dasar di Kemiren berpendidikan sarjana IAIN.

Sementara itu kelompok pengajian mulai bermunculan di kalangan masyarakat Using di Kemiren. Kegiatan tersebut melibat­kan ibu-ibu maupun bapak-bapak di desa ini. Pelaksanaan pengaji­an dilakukan secara bergilir di antara anggota kelompok. Kelom­pok ibu-ibu diadakan pada malam Selasa, sedangkan untuk bapak- bapak malam Jum’at. Selain belajar mengaji dalam kegiatan itu juga dilaksanakan ceramah agama. Mempererat tali silaturahmi ini merupakan salah satu manfaat dari kegiatan tersebut.

Untuk menunjang kehidupan ekonominya masyarakat Using di Kemiren membentuk berbagai kelompok arisan. Tujuan utama dari kelompok arisan tersebut adalah untuk mengurangi beban ekonomi terlebih pada saat merayakan hari raya Idul Fitri. Perlu diketahui bahwa “rioyo” atau Idul Fitri merupakan suatu hari yang sangat istimewa bagi masyarakat di desa ini. Hampir segala aktivitas kerja dihentikan selama sekitar 10 hari untuk merayakan hari ini.

Selain menyediakan makanan yang istimewa dibanding­kan dengan hari-hari biasa, masyarakat Kemiren biasanya juga me­lakukan rekreasi ke tempat-tempat yang cukup jauh, seperti ke Jakarta pada kesempatan tersebut. Sadar akan kebutuhan dana yang cukup banyak tersebut masyarakat Kemiren membentuk kelompok arisan, yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai kelompok Jenis arisan yang dilakukan ada dua macam, yaitu uang dan natura. Arisan natura bentuknya dapat berupa arisan daging sapi, beras, atau gula. Akan tetapi penyetorannya semuanya berbentuk uang. Ada dua keuntungan yang didapat anggota pada arisan ini. P

ertama, melalui uang yang disimpan oleh para anggota, anggota arisan dapat meminjamnya dengan bunga yang telah disepakati bersama dan yang kedua, melalui bunga-bungo pinjaman dari para anggota tersebut jumlah uang tabungan bertambah banyak. Selanjutnya menjelang hari Raya Idul Fitri uang tersebut dibagi sesuai dengan jumlah uang yang disimpan ditambah hasil bunga pinjaman. Bila arisan itu berupa natura, maka uang yang ter­kumpul tersebut dibelikan natura dan kemudian dibagi secara proposional sesuai dengan jumlah simpanannya tabungan.

Kegiatan arisan itu menurut para anggotanya sangat mem­peringan beban ekonomi yang harus dipikul dalam merayakan Idul Fitri. Kegiatan ini baru berlangsung sejak sekitar 10 tahun belakangan ini. Media televisi dalam acara siaran pedesaan yang antara lain menayangkan kegiatan arisan atau tabungan di daerah pedesaan. Penayangan tersebut memberikan ilham masyarakat Kemiren untuk melakukan hal yang sama. Setoran biasanya di­berikan kepada pengurus setiap selesai mengerjakan sawah. Saat itu para petani mendapat uang dari hasil pekerjaannya di sawah orang lain. Atau sehabis menjual panenan sawahnya sendiri. Umumnya kelompok arisan di desa ini telah memiliki buku ta­bungan bagi anggota-anggotanya. Setiap penyetoran dicatat dalam buku tabungan tersebut.

Walaupun masyarakat Using oleh sementara orang dikatakan sebagai masyarakat “tertutup” tetapi masyarakat ini tampaknya memiliki sifat rekreatif yang cukup tinggi. Hal ini antara lain ter­lihat dari jumlah organisasi kesenian yang terdapat di desa ini. Apakah sifat rekreatif yang cukup menonjol ini merupakan suatu konpensasi dari ketertutupannya dengan masyarakat lain, perlu penelitian yang lebih lanjut. Organisasi kesenian yang terdapat di Kemiren meliputi seni tari, teater, dan seni suara.

Organisasi kesenian teater meliputi kesenian “barong” dan “ketoprak”. Organisasi kesenian tari meliputi kesenian “Jejer Gandrung” dan angklung. Sedangkan organisasi kesenian yang termasuk seni suara adalah “kuntulan” dan qasidah. Kesenian- kesenian tersebut biasanya dipentaskan pada saat meramaikan orang yang sedang hajatan, atau dalam merayakan hari nasional seperti peringatan 17 Agustus. Memang setiap pementasan kelom­pok kesenian tersebut mendapatkan bayaran, tetapi umumnya jumlahnya tergantung dari kerelaan tuan rumah. Hajatan pada masyarakat Using di Kemiren yang pelaksanaannya biasanya tidak cukup sehari, biasanya juga mementaskan beberapa jenis kesenian. Karena itu bagi masyarakat Kemiren hajatan juga ber­fungsi sebagai suatu arena hiburan yang ditunggu-tunggu. Satu hal yang cukup tertib dalam organisasi sosial nonformal ini adalah bahwa setiap anggota dari kelompok kesenian tersebut memiliki kartu anggota.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa jenis kesenian yang terdapat di desa ini umumnya adalah kesenian tradisional khas orang Using, kecuali kesenian ketoprak. Ketoprak diperkenalkan pada masyarakat Using di Kemiren melalui seorang guru SD yang kebetulan bertugas di desa ini. Beberapa kesenian khas orang Using seperti “barongan” dan “kuntulan” diangkat oleh Peme­rintah Daerah Banyuwangi menjadi kesenian khas Banyuwangi. Sekitar 10 tahun yang lalu di beberapa daerah dalam lingkup administratif Banyuwangi masih terdapat sejumlah kelompok kesenian tersebut. Tetapi pada saat ini menurut beberapa sumber kesenian ini hanya ada di Kemiren.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POLA KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT USING DI KABUPATEN BANYUWANGI PROPINSI JAWA TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA 1993, hlm.64 – 70

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Th. 1993 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s