Adipoday, Kabupaten Sumenep


Sesudah itu peperangan, maka Pangeran Setyodiniugrat III pulang kembali ke Sumenep. Sesampainya di rumah, ia sedang menceritakan tentang peperangan itu kepada isterinya, maka tiba-tiba datang ia punya ayah yaitu Adipoday untuk menjumpai ibunya (Puteri Kuning). Setelah beberapa hari Adipoday ada di Sumenep, maka ia berangkat ke pulau Sapudi dengan membawa Puteri Kuning.

Sampai di Sapudi ia menghadap kepada ayahnya yaitu Panembahan Wlingi (Blingi) dan tinggal berkumpul di sana. Setelah Panembahan Wlingi meninggal, maka Adipoday menjadi raja mengganti ayahnya dan bergelar Panembahan Poday (Sapudi), memerintah semua kepulauan disekitar Sapudi, bergelar Panembahan Wiroakromo. Dia memeluk agama Islam dan terkenal siang hari malam memegang tasbih (rosenkrans) yang ia bikin dari buah nyamplong. Pun ia menganjurkan kepada kyai-kyai dan santri-santri “di kepulauan itu supaya memakai tasbih dari buah nyamplong.

Dari sebab itu banyaklah orang menanam pohon nyamplong (camplong) mula-mula diperlukan buahnya untuk membikin tasbih, kemudian kayunya dipakai untuk perkakas perahu yang ternyata amat kuat sekali. Sehingga kayu. nyamplong dipakai orang terutama untuk kemudian dari perahu-perahu di kepulauan Madura. Keraton yang ia tempati disebut orang sekarang desa nyamplong yaitu ia dimana ia setelah meninggal dunia dikuburkan.

Banyak orang menyebutkan ia punya nama “Panembahan Nyamplong, “Keraton Nyamplong”, makam atau kuburan Nyamplong”. Banyak diceritakan tentang ia punya kebaikan dan jasa-jasa baik selama memegang pimpinan pemerintahan di kepulauan Sapudi, sehingga sampai ini saat ia punya kuburan menjadi pepunden orang di seluruh kepulauan Madura dan daerah-daerah pesisir di Jawa Timur.

Pangeran Setyodiningrat 111 memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sehingga berusia tinggi tidak kurang suatu apapun, dan pimpinanya memuaskan seluruh rakyat Sumenep. Pada suatu ketika ada datang sebuah kapal dari Bali yang dinaiki oleh utusan dari raja Bali. Menurut seorang Menteri Bali yang membawa surat dari kapal, putera mahkota Bali ingin berkunjung kehadirat Pangeran Setyodiningrat 111 minta ijin perkenan beliau hari kapan dapat diterimanya.

Pangeran Setyodiningrat III mengirimkan seorang utusan dengan membawa kendaraan untuk menjemput kedatangan tamu itu. Kemudian tamu datang menghadap kehadirat Pangeran Setyodiningrat III dengan diiringi upacara kerajaan dan beberapa ratus orang prajurit (militer).

Sesampainya di istana Sumenep (Lapataman) sekonyong-konyong mereka itu mengamuk, sehingga banyak orang-orang yang ada ditepi laut Dungkek mati terbunuh dan mendapat luka-luka. Juga Pangeran Setyodiningrat III mendapat luka. Beliau dibawa lari dengan dipikul orang ditaruhnya di dalam tandu menuju ke keraton lama di Banasare. Beliau memberi pesanan pada orang-orang yang membawanya, bahwa untuk menjadi peringatan di kemudian hari, apabila beliau mati di tengah jalan, supaya tempat itu diberi nama yang mengenai itu kematian, dan dimana kayu yang dipakai untuk memikul beliau patah, supaya beliau ditanamnya. Maka sampai di desa Batang-Batang beliau meninggal.

Maka itu tempat dinamai desa Batang-Batang, yaitu mengambil dari bahasa Jawa “batang” dan bahasa Madura “bhabhatang” yang berarti “bangkai”. Dan sampai disuatu tempat lagi maka kayu pikulnya yang terpanjang patahlah. Itu tempat disebut orang desa Lanjuk yang berarti “panjang”. Itu desa terletak di daerah Kecamatan Manding (di Sumenep).Maka untuk mencuci luka beliau pun pula untuk memandikan mayat beliau orang mencarinya air kesana kemari, akan tetapi tidak mendapatnya.

Maka Raden Alio Begonondo (putera beliau) menggalikan tongkat kepunyaan ibunya yaitu Raden Ayu Ratnadi (yang telah pernah dipakai oleh ayahnya membikin sumber air Socah), maka dengan kuasa Allah Taala keluarlah air dari dalam tanah dan jadilah mata iar sehingga sekarang disebut orang “desa Sa-asa” (artinya tempat membikin bersih luka).

Kuburan dari Joko Tole alias Kudho Panule alias Pangeran Setyodiningrat III ada di desa lanjuk Kecamatan Manding sehingga ini saat oleh orang Madura dimuliakan sebagai pepunden dan dianggapnya sebagai suatu tempat dimana orang dapat mengambil sesuatu tanda apabila akan terjadi sesuatu pergolakan di dalam pulau Madura akan ikut serta.

Raden Ario Banyak Wide di Gersik telah juga mendapat tahu, bahwa saudaranya mendapat celaka lalu segera datang di Sumenep untuk membantunya. Setelah orang-orang Bali melihat dia, maka mereka itu menyangka, bahwa Kudho Panule hidup lagi (karena roman mukanya kedua saudara itu hampir bersamaan), maka dengan tergesa-gesa mereka itu lari ke kapalnya dan terus meninggalkan Sumenep. Sampai disini diakhirilah cerita.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Permulaan Jadinya Pulau Madura hlm. 21-22

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Legenda, Sumenep, Th. 1951 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s