Peristiwa (Gerakan) Bedewang, Kabupaten Banyuwangi


Dalam kenyataan Daerah Tingkat II Kabupaten Banyuwangi merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Republik Indonesia dan tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Demikian pula masyarakat Banyuwangi merupakan bagian dari bangsa Indonesia yang juga tidak dapat dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini terbukti mengenal penjajahan dan berjuang melawan kolonialis Barat, rakyat Blambangan juga sudah mengenal kolonialisme bahkan sudah berperang melawan VOC atau Kompeni Belanda untuk mempertahankan kedaulatan Bumi Blambangan.

Sebagai bukti jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, rakyat Blambangan juga mengadakan perlawanan terhadap para penjajah seperti yang dilakukan di daerah-daerah lain di seluruh Tanah Air. Khususnya,perlawanan rakyat Blambangan di daerah Banyuwangi Selatan.

Perlawanan Rakyat Blambangan terhadap para penjajah (kaum kolonialisme) dikenal dengan sebutan “Peristiwa (Gerakan) Bedewang”. Mengapa disebut peristiwa (Gerakan) Bedewang? Untuk menjawab pertanyaan itu cukup mudah, karena perlawanan rakyat Blambangan itu berkobar Desa Bedewang (sekarang: wilayah kecamatan Songgon, Banyuwangi Selatan). Peristiwa Bedewang yang juga disebut gerakan Bedewang sangat penting artinya untuk dipahami oleh generasi penerus. Hal ini disebabkan pada waktu masa jayanya Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah memberikan kesan atau memprogandakan bahwa seakan- akan Peristiwa Bedewang itu sebagai produk PKI dengan organisasi mantelnya, seperti: Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan lain-lain. Ulah PKI yang semacam itu sebenarnya sebagai propaganda untuk menarik simpati masyarakat, terutama yang bertempat tinggal di pedesaan untuk mendukung program PKI.

Adapun Peristiwa Bedewang itu melibatkan semua lapisan masyarakat di daerah Banyuwangi Selatan untuk menentang dan melawan penguasa penjajah. Peristiwa (Gerakan) Bedewang itu terjadi disebabkan adanya pungutan pajak yang dirasa sangat memberatkan masyarakat

Dan pada tahun 1926, rakyat Blambangan dengan dipelopori seorang ulama pejuang yakni Kyai Cemoro mengadakan perlawanan terhadap penguasa penjajah. Kyai Cemoro itu mempunyai nama asli Kyai Haji Abdullah Fakih, sedang Cemara adalah nama sebuah desa di Kecamatan Singojuruh yang merupakan asal-usul Kyai tersebut. Kyai Haji Abdullah Fakih adalah seorang ulama pejuang yang anti penjajah. Setelah menyaksikan penderitaan rakyat Bedewang dan sekitarnya menderita karena pungutan pajak yang amat tinggi dan sangat memberatkan itu, Kyai Cemara terpanggil jiwanya dan bangkit mempelopori rakyat Bedewang untuk menentang tindakan kejam penguasa penjajah yang tidak berperikemanusiaan itu, yang mengakibatkan penderitaan, kemiskinan serta hidup diliputi rasa cemas dan ketakutan.

Kyai Cemara bersama beberapa santrinya membantu rakyat yang selalu berkumpul-kumpul dalam keadaan gelisah dan kecemasan. Situasi semacam itu oleh penguasa penjajah dianggap mengganggu ketertiban umum dan sangat membahayakan kedudukan pemerintah Belanda, oleh karena itu penguasa penjajah segera mendatangkan pasukan keamanan dari kota Banyuwangi guna mencegah segala kemungkinan yang akan terjadi. Kemarahan rakyat meledak setelah mengetahui kedatangan pasukan keamanan di kampung halaman mereka.

Pertempuran tidak dapat dihindarkan antara rakyat Bedewang yang dipimpin langsung oleh Kyai Cemara bersama sejumlah santrinya dalam melawan pasukan keamanan yang berlangsung cukup sengit. Peristiwa yang banyak memakan korban jiwa itulah yang dikenal dengan “Peristiwa (Gerakan ) Bedewang.

Pada saat pertempuran itu, ternyata pasukan keamanan porak-poranda dan kewalahan dalam menghadapi perlawanan rakyat Bedewang, sehingga penguasa penjajah segera meminta bantuan pasukan Maresose sebagai pasukan andalan yang bermarkas, di lawang (Malang) untuk menumpas perlawanan rakyat Bedewang. Dalam perlawanan itu, rakyat Bedewang hanya bersenjatakan senjata tradisional seperti: tombak, pedang, kampak, clurit dan semacamnya untuk bertempur dengan pasukan andalan yang sudah bersenjatakan dengan senjata yang serba lengkap dan modern. Dengan bersenjatakan senjata tradisional pasukan rakyat Bedewang terdesak terus menerus yang akhirnya perlawanan rakyat itu dapat dikuasai dan dipadamkan oleh pasukan andalan. Sedangkan Kyai Cemara bersama beberapa tokoh masyarakat setempat ditangkap yang kemudian dijebloskan ke dalam penjara oleh penguasa penjajah. Dengan demikian berakhirnya perlawanan rakyat Bedewang itu.

Diawal revolosi 1945 walaupun usianya sudah lanjut, Kyai cemara setelah bebas dari penjara masih turut berjuang untuk memenuhi panggilan Ibu Pertiwi dengan semangat juang yang masih berkobar-kobar. (GB/HUMAS)

Tri Asih Rahayu, S. PD; Gema Blambangan,  No. 064 / 1996 hlm. 44-45

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Banyuwangi, Sejarah, Th. 1996 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s