Nganjuk pada Masa Penjajahan (Perjanjian Gianti)


Sejak kedatangannya di bumi Nusantara, VOC dengan hak-hak istimewa (Octroi) yang diperolehnya dari Raja Belanda, banyak melakukan likuidasi,dan dis­integrasi terhadap hak-hak rakyat dan raja-raja di Nusantara, khususnya Jawa. Kera­jaan yang paling banyak menderita kerugian oleh hak-hak istimewa Belanda tersebut adalah Kesultanan Mataram.

Kerugian demi kerugian, penderitaan demi penderitaan, akhirnya sampailah pada puncak kemarahan Raja dan rakyat, dan pada tahun 1676 – 1679 pecahlah perang Trunojoyo. Tidak hanya itu, beberapa tahun kemudian (1683 – 1706) meletus pula perang perjuangan Untung Suropati. Perang Perjuangan Trunojoyo dan Untung Suropati ini memperoleh dukungan dan simpati dari masyarakat luas. Dalam berba­gai sumber sejarah tradisional dijelaskan bahwa hampir semua Kabupaten Bang Wetan, termasuk di dalamnya Kabupaten Pace (Nganjuk) ikut membantu dalam perang perjuangan tersebut, walaupun bantuan itu hanya berupa dukungan logistik dan dukungan moral.

Dari berbagai dokumen Kompeni Belanda, dua diantaranya menerangkan bahwa Kabupaten Pace secara tidak langsung telah banyak membantu laskar Truno­joyo di dalam menghadapi kejaran tentara gabungan Mataram – Belanda yang dipim­pin Antonie Hurdt (Tahun 1678). Demikian pula yang terjadi pada pasukan Untung Suropati menghadapi kejaran laskar gabungan Mataram-Belanda yang dipimpin Jenderal De Wilde.

Politik likwidasi dan disintegrasi kompeni Belanda cukup intensif, sehingga semakin melemahkan Kesultanan Mataram. Dari akibat politik Devide et Impera itu akhirnya lahir perjanjian Gianti (1755). Perjanjian yang diselenggarakan pada hari Kamis, 13 Pebruari 1755 itu antara lain perjanjian antara Harting (Belanda), Paku- buono III (Kasunanan Surakarta) dan Pangeran Mangkubumi/Hamengkubuwono I (Kasultanan Yogyakarta). Perjanjian yang terdiri dari sembilan pasal itu intinya adalah pembagian wilayah kerajaan (Palihan Nagari) Mataram menjadi dua bagian. Sebagian untuk Pangeran Mangkubumi/Hamengkubuono I dan sebagian untuk Pakubuono III.

Mengenai pembagian tlatah Monconegoro, khusunya yang melibatkan Ngan­juk,dapat dijelaskan sebagai berikut:

I. Untuk Daerah kekuasaan Susuhunan Surakarta, meliputi daerah-daerah :
-  Jogorogo ;
-  Ponorogo ;
-  Separo Pacitan ;
-  Kediri ;
-  Blitar (Srengat – Lodoyo) ;
-  Pace (Nganjuk) ;
-  Wirosobo (Mojoagung) ;
-  Blora ;
-  Banyumas ; dan
-  Keduwung.

II. Untuk Wilayah kekuasaan Sultan Yogyakarta, meliputi daerah-daerah :
-   Madiun ;
-   Caruban ;
-   Magetan ;
-   Separo Pacitan ;
-   Kertosono (Nganjuk) ;
-   Kalangbret;
-   Ngrowo (Tulungagung) ;
-   Japan (Mojokerto) ;
-   Jepang (Bojonegoro) ;
-   Teras – Keras (Ngawi) dan
-   Grobogan.

Dari naskah Perjanjian Gianti tersebut dapat diketahui bahwa pada ± tahun
1755 di Nganjuk ada dua daerah Kabupaten : Kabupaten Pace dan Kabupaten Kerto-
sono.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Th. 1996 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s