Nganjuk dalam Lintasan Sejarah Nasional


Pada periode sejarah Indonesia Lama, khususnya untuk daerah Jawa Tengah
dan Jawa Timur, dapat dikatakan dimulai dengan masa kekuasaan Dinasti atau Raja
Kula Sanjaya, yang berlangsung pada abad 8 sampai dengan abad 10 Masehi. Nama-
nama Raja Dinasti Sanjaya secara lengkap disebutkan di dalam Prasasti Kedu yang
dikeluarkan oleh Maharaja Balitung. Raja-raja tersebut adalah :

-  Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya ;
-  Sri Maharaja Rakai Panangkaran ;
-  Sri Maharaja Rakai Panunggalan ;
-  Sri Maharaja Rakai Warak ;
-  Sri Maharaja Rakai Garang ;
-  Sri Maharaja Rakai Pikatan ;
-  Sri Maharaja Rakai Kayuwangi ;
-  Sri Maharaja Rakai Watukumalang ;
-  Sri Maharaja Rakai Watukura Diah Balitung.

Sedangkan daerah Jawa Timur, khususnya yang berada di sepanjang lembah
sungai Madiun dan Kali Brantas, termasuk Nganjuk dan sekitarnya hanya berstatus
sebagai daerah penyangga.

-   Secara eksplisit Nganjuk baru muncul kepermukaan sejarah pada pertengahan pertama abad 10 (927 – 937M). Hal ini terbukti dengan diketemukannya

-   Prasasti pertama ditemukan di desa Tanjungkalang Kecamatan Ngronggot, yang berangka tahun Caka 849 atau 927 M. Prasasti ini antara lain berisi tentang Wawa (Desa) Kinawe ; Wilayah Wateg (desa besar) Kandangan menjadi desa bebas pajak atau perdikan ;

-   tiga buah prasasti :

-    Prasasti kedua ditemukan di desa Kujonmanis Kecamatan Tanjunganom, yang berangka tahun Caka 856 atau 934 M ;

-   Isi prasasti ini menjelaskan tentang jual beli lemah sawah (tanah dan sawah) yang sangat luas. Dalam prasasti ini disebutkan pula sejumlah nama tempat antara lain : Hering, Marganung dan Hujung. Nama-nama ini mungkin sekali merupakan protonim (nama asal) dari desa-desa Keringan, Ganung, Ngujung yang masih ada hingga sekarang. Disamping itu dalam prasasti Kujonmanis ini disebut pula nama Raja yang memerintah

-   Prasasti ketiga adalah Prasasti Candi Lor. Prasasti inilah yang nyata-nyata telah berhasil mengangkat Nganjuk dalam percaturan Sejarah Indonesia lama.

pada waktu itu, yaitu Sri Maharaja Pu Sendok Isanawikra- ma Dharmatunggadewa ; dan

Setelah masa pemerintahan Pu Sendok, keberadaan Nganjuk dalam percaturan Sejarah nasional menjadi kabur dan baru kemudian muncul kembali pada masa pemerintahan Mojopahit, hal ini terbukti adanya peninggalan monumental sejarah Majapahit yang berupa sebuah Candi tempat penyimpanan abu Hayamwuruk, atau yang disebut dengan Candi Ngetos.

Dalam kitab Negara Kertagama, karangan Pu Prapanca (Tahun 1365), pada pupuh 77 dan 78 disebutkan bahwa, jumlah perdikan atau desa Sima Swatantra pada zaman pemerintahan Kerajaan Majapahit ada sebanyak 200 buah. Satu diantaranya adalah Sima Swatantra Anjuk Ladang atau Dharma Sanget Re Anjuk Ladang.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Panitia Peringatan Hari Jadi Nganjuk, Sejarah Singkat Kabupaten Nganjuk, hlm. 2-3, CB/1996

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Th. 1996 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s