Kunir Wedoro, Kabupaten Gresik


Kunir wedoro Kualitas Dunia

Desa Wedoroanom, Kec. Driyorejo, Gresik sudah lamadi kenal tandus, tanahnya kering dan kurang air. Namun desa yang berdampingan dengan kawasan Surabaya ini, kini sudah mendunia karena kunir sej enis tanamanempon-empon yang diproduksinya diburu banyak pedagang untuk pelbagaikepentingan terutama untuk pem-
buatan jamu atau obat-obatan herbal.

KunirDesa Wedoroanom memilikiwarna yang khas, aroma yang dike-luarkannya juga jauh lebih sedapdibanding kunir dari desa lain di Jatim. “Itu sebabnya, kunir kawasanGresik Selatan ini diburu banyak pedagang karena kualitasnya yang sangat bagus dan bisa jadi sejenis ku-nir terbaik di dunia,” kata Budin (45) seorang tengkulak Gresik.

Budidaya tanam empon-empon ini dimulai sejak tahun 2000-an. Lahanyang luas membentang sejauh mata memandang dibiarkan mangkrak oleh pemiliknya. Selain tadus, sulit berharap mendatangkan untung dari bercocok tanam di lahan kering ini.

Hal ini menyebabkan, banyak warga desa memilih mata pencaharian lain seperti menjadi karyawan pabrik atau bekerja di sektor informal lainnya.

Di balik tanah tandus itu, justru tanahnya mengandaung unsur yang paling digemari tanamn kunir. Warna tanahnya yang kehitaman dan berpasir serta terjafdi bongkahan pada musim kemarau adalah sejenis tanah yang paling cocok untuk dijadikan budidaya tanaman kunir. Sifat orga­nik tanah seperti itu terhampar luas di kawasan Desa Wedoroanom dan sekitarnya, sehingga warga desa be­ramai-ramai menggarap lahan ko­song, apalagi setelah beberapa petani sukses menjadi petani kunir.

Menurut Anwar Ketua RT di Desa Wedoroanom, pada awal musim panen harga kunisnya mencapai Rp 3.500/Kg dan harganya terus menaik pada saat jumlah stok di rumah penduduk mulai menipis. | “Kalau sudah tidak ada stok itu para tengkulak siap memberi haga tinggi, bahkan dengan harga Rp 5 ribu/ Kg akan dibeli, tetapi banyak petani tidak menjualnya, karena persediaan yan ada dipakai untuk pembibitan, “ujarnya.

Anwar termasuk petani sukses, selama dua tahun ini, keuangan ru­mah tangganya dicukupi dari kunir termasuk untuk membeli beberapa kendaraan roda dua dan membayai pendidikan putra-putrinya. Padahal, kata dia, lahan yang ditanaminya itu tidak terlalu luas hanya sekitar 2500 metr persegi tetapi bisa menghasilkan puluhan ton kunir dan jika ditambah dengan lahan orang lain yang juga dtanaminya setiap tahun dia bisa meraup laba lebih dari Rp 30 juta.

Kunir memang lagi ngetrend di kawasan sini. Cara tanamnya gam­pang, tidak banyak penyakit, tidak banyak butuh air, sedikit pupuk tetapi jualnya cukup gampang. Setiap musim panen tiba desa ini menjadi ramai dengan tengkulak yang datang dari pelbagai daerah,”tuturnya. “

Car tanam kunir cukup sederhana. Lahan dipersiapkan dengan men­cangkul tanah dan ditaburi pupuk kandang. Setelah beberapa hari, bibit kunir ditanam dengan jarak 30 cm. Setiap titik tanam bisa diisi 2 sampai 4 bibit dengan harapan pada saat panen jumlahnya melimpah. Bibit yang ditanam dipilih dari kunir yang sudah tua dan memiliki ruas banyak.

Menurut Anwar pada awal tanam dibutuhkan air yang cukup, namun setelah itu petani hanya membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar. Pada masa pertumbuhan kunir cepat membusuk jika terlalu banyak air yang menggenanginya, sehingga se­tiap ada air yang masuk ke lahan per­tanian harus segera dialirkan. “Pada usia sekitar 3 bulan, perlu diberi pu­puk pabrik untuk mempercepat per­tumbuhan sekaligus agar tanaman tumbuh lebih subur, “katanya.

Dengan pola tanam seperti ini, petani kunir memiliki waktu kosong yang cukup banyak dan dapat digu­nakan untuk melakukan pekerjaan pro­duktif lainnya, seperti menjadi tenaga pendidik, kuli bangunan, pedagang kaki lima maupun pekerjaan di luar kota. Nilai tambah dari usaha budidaya kunir ini bagi petani bisa meningkatkan pendapatannya. “Warga yang belum dapat pekerjaan bisa menggantungkan hdupnya dari kunir sementara warga yang sudah bekerja akan memiliki pendapatan ganda,”| ujarnya.

Dijelaskan, harga kunir sampai saat ini stabil selalu di atas angka Rp 2500/ Kg dan harganya terus naik di saat menjelang musim tanam yang diawali sekitar Bulan Oktober ini harganya bisa mencapai Rp 5 ribu/Kg. Dengan masa tanam selama 8 bulan, kunir sudah bisa dipanen, (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 07 | 15 Agustus -15 September 2012, hlm. 45

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Gresik, Sentra, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s