Jaka Jumput


Tersebutlah seorang dara yang cantik jelita dari Katumenggungan Surabaya yakni Dewi Purbawati, putri Tumeng­gung Jayengrana. Purbawati adalah seorang gadis yang kecantikannya merupakan bahan kekidungan para penembang, yang selalu didendang­kan oleh setiap pria yang mengagumi kecantikannya. Tidaklah meng­herankan kalau banyak putera raja, bupati dan adipati yang ingin mempersuntingnya, menjadikan pasangan hidupnya.

Demikian juga pada Jaka Taruna dari Kadipaten Kediri yang sudah menginjak dewasa mulai terkena panah asmara sang dara cantik jelita Dewi Purbawati. Maka Jaka Taruna mengha­dap ibundanya Dewi Kilisuci. Jaka Taruna, sebagai layaknya anak muda, merasa sangat terpikat kepada kecantikan Purbawati, yang banyak dikidungkan oleh para bakul di kala pagi buta berangkat bekerja. Demikian hebat serangan asmara ini merasuki hatinya sehingga bayangan sang jelita Purbawati selalu menghantuinya. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak.

Hanya Purbawati saja yang selalu berada dalam mimpi. Oleh karena itu ia mengatakan hal ini secara terus menerus ke­pada ibunya, bahwa ia bermaksud ke Katumenggungan Surabaya untuk melamar Purbawati. Namun Dewi Kilisuci yang mengetahui apa yang akan terjadi itu, tidak berkenan akan maksud anaknya. Oleh sebab itu dengan tegas Dewi Kilisuci melarang Jaka Taruna pergi melamar ke Surabaya. Akan tetapi Jaka Taruna bersikeras akan tetap melaksanakan niatnya untuk mempersunting Purbawati walaupun sang Ibu tetap me­nolaknya. Dan akhirnya nekadlah Jaka Taruna berangkat ke Katumenggungan Surabaya.

Marahlah Dewi Kilisuci, karena kata-kata dan nasehatnya sama sekali tidak didengarkan oleh anaknya. Karena marahnya maka terucaplah kutuknya. “Kalau kamu tidak menurut kata-kata orang tuamu, kalau kamu tidak mau menuruti nasehatku, kelak kamu akan menjadi tontonan orang banyak”. Sabda seorang puteri yang sakti, disaksikan oleh langit dan bumi. Kelak akan terbukti ternyata bahwa sabda beliau itu benar adanya. Terburu oleh nafsu berahinya, dan gila asmaranya, maka semua ucap sang ibu itu sudah tidak didengarnya lagi.

Berangkatlah Jaka Taruna ke Surabaya. Karena sudah tergila-gila pada Dewi Purbawati, Dengan penuh perasaan yang menggelora ia menyatakan rasa cintanya kepada Purbawati. Meski Purbawati menolaknya, namun Jaka Taruna sudah tidak peduli lagi. Jaka Taruna pun kemudian langsung menggghadap Tumenggung Jayengrana, dan mengutarakan maksud kedatangannya. Yaitu ingin mempersunting Dewi Purbawati.

Pada waktu itu Raden Situbanda yang sudah selesai menjalankan tugasnya membuka hutan kitri, kembali ke Surabaya, dan langsung menuju Katumenggungan Surabaya. Karena Tumenggung Jayengrana tidak bisa berbuat apa-apa sebab Raden Situbanda juga sudah menjalankan tugasnya sedangkan Jaka Taruna juga menghendaki Dewi Purbawati, Maka Tumenggung Jayengrana mengambil keputusan untuk mengadakan perang tandang kepada dua pemuda tersebut dan siapa yang menang akan bisa mempersunting Dewi Purbawati.

Maka pertandinglah Keduanya pemuda tersebut, memang tidak bisa dibayangkan serunya perseturuan tersebut sebab keduanya sama-sama sakti, sama-sama keturunan orang-orang yang mumpuni dalam bidang ilmu keprajuritan dan kebatinan. Tidaklah mengherankan bila peperangan itu merupakan perang tanding yang benar-benar hebat. Dilambari oleh keinginan yang sangat besar untuk mendapatkan sang Dewi, seakan-akan kekuatan Raden Situbanda berlipat ganda. Oleh sebab itu lama-kelamaan nampak bahwa Situbanda mengungguli Jaka Taruna. Akhirnya Situbanda berhasil menghajar Jaka Taruna. Tidak tahan, menahan gemuran-gempuran Situbanda yang demi­kian hebat, akhirnya Jaka Taruna melarikan diri. Di dorong oleh den­dam yang membara, maka Situbanda tidak membiarkan begitu saja lawannya lepas dari tangannya, dia pun kemudian mengejarnya.

Kita hentikanlah ceritera ini barang sejenak. Marilah kita alihkan ke sebuah perkampungan yang tenang dan damai, yang desebut kampung Praban yang banyak di tumbuhi tanaman Kinco, maka orng menyebutnya dengan sebutan PRABAN KINCO, Mbok Jumput  demikian penghuni rumah itu, disebut Mbok Jumput dikarenakan menjumput (memungut) seorang anak laki-laki.

Sore itu mbok Jumput sedang dihadap oleh anaknya, yang lazim disebut sebagai Jaka Jumput (anak pungut). Siapakah sebenarnya Jaka Jumput itu? Jaka Jumput sebenarnya adalah putera Demang Surabaya, yang telah dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, ketika Jaka Jumput masih bayi. Kemudian bayi itu dipungut dan dibesarkan oleh Mbok Jumput. Oleh sebab itu tidak mengherankan, meskipun tinggal pada sebuah perkampungan yang sepi, anak kampung, namun wajah, tingkah laku dan tata krama Jaka Jumput adalah seperti putera-putera bangsawan lain, karena memang masih ke­turunan bangsawan. Tidak hanya itu saja, Jaka Jumput juga memiliki ketampanan wajah yang pilih tanding.

Mendengar berita tentang kecantikan Purbawati, Jaka Jumput pun sangat tertarik untuk ikut serta melamarnya. Maka pada waktu itu ia sedang mohon ijin ibunya akan berangkat ke Katumenggungan Sura­baya. Mulanya sang ibu sangat keberatan bila ditinggalkan Jaka Jumput. Tetapi setelah diyakinkan oleh Jaka Jumput, maka ia pun dengan berat hati mengijinkan anaknya berangkat ke Surabaya, dengan dibekali senjata peninggalan Ayahandanya si Demang sebuah pecut (cemeti) yang disebut Pecut Gembolo Geni.

Demikianlah Jaka Jumput menuju ke Surabaya. Ditengah perjalanan, menemukan Jaka Taruna yang terkalahkan oleh Raden  Situbanda sedang terjepit diantar dua buah pohon didekat sebuah sungai, karena patemon penemuan Jaka Taruna di pinggiran sungai, maka tempat tersebut disebut PETEMON KALI (penemuan di kali).

Ditolongalah Jaka Taruna oleh Jaka Jumput di   angkat keselatan karena sungainya airnya lebih jernih di basuh dibersihkan lukanya lalu   diberiminum dari air sungai tersebut, dan anehnya seketika luka-lukanya sembuh dan badannya segar kembali seakan hidup untuk kedua kalinya.  Maka Jaka Taruna mengatakan “ mbesok nek rame-ramene zaman tlatah iki karan BANYU URIP, lalu Ia menceritakan semua peris­tiwa yang dialaminya, dan kemudian minta perlindung­an kepada Jaka Jumput. Jaka Jumput menyanggupinya. Datanglah Situ­banda yang sangat marah. Terjadilah perselisihan dan akhirnya peperang­an tidak dapat dielakkan. Perang tanding yang sangat seru antara Jaka Jumput dan Situbanda, dua-duanya sama-sama sakti dan sama trampil dalam ulah senjata.

Namun demikian akhirnya Situbanda tewas oleh senjata Jaka Jumput Pecut Gembolo Geni. Kepalanya dipotong lalu badannya kemudian dilemparkan ke arah timur dan jatuh, jauh di sebe­lah timur Surabaya. Bersabdalah Jaka Jumput, bahwa kelak tempat jatuhnya mayat itu akan menjadi sebuah daerah yang disebut SITUBANDA.

Setelah mendapatkan kepala R. Situbanda maka larilah Jaka Taruna se­bagai pengecut  melapor ke hadapan Jayengrana , Jaka Taruna mempersembahkan kepala R. Situbanda sebagai bukti, bahwa dialah yang telah mengalahkan Raden Situbanda. Namun Jaka Jumput sudah menyusul, maka bersembahlah Jaka Jumput kepada Tumeng­gung Jayengrana dan mengatakan bahwa yang mengalahkan R. Situbanda adalah dia.

Dengan kenyataan itu maka Jaka Taruna sangat malu, dan tidak mampu berkata sepatah pun. Seakan-akan ia menjadi bisu. Berulang kali Jayengrana menanyai pemuda itu. Namun rupanya Jaka Taruna tetap membisu. Makin lama, Jayengrana menjadi jengkel dan marah. Keluarlah ucapannya. ” Hai Nom-noman, koen tak takoni  ma kaping-kaping, tapi mbegegeg ae koyok Reco”, “Hai, anak muda. Kutanyai kau berulang kali. Tetapi diam saja seperti arca”.  Sabda seorang yang sakti, menjadi kenyataan, tiba-tiba Jaka Taruna berubah menjadi arca batu. Selanjutnya di arca tersebut dilemparkan keluar dari Kadipaten kearah selatan dan jatuh di daerah Simpang Jayengan. Diam tak bergerak. Memang benar apa yang dikutukkan oleh ibunda Dewi Kilisuci. Kelak bila Jaka Taruna tidak menurut nasehatnya akan menjadi tontonan orang banyak. Seka­rang Jaka Taruna telah berubah menjadi arca dan disebut arca JAKA DOLOG.

Demikian garis kehidupan Jaka Taruna, berubah menjadi batu. Dan demikian pula garis kehidupan Situbanda mati di tangan Jaka Jumput. Serta garis hidup yang cerah menyertai Jaka Jumput. Dialah akhirnya yang berhasil mempersunting putri Katumenggungan Surabaya. Dan ber­bahagialah pasangan yang serasi. Jaka Jumput dan Purbawati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Drs. Leo Indra Ardiana, Jakarta,1984, hlm.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Legenda, Surabaya, Th. 1984 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s