Mrocoti, Upacara Tradisi Jawa Timur


Upacara mrocoti dilaksanakan apabila kandungan sang calon ibu mencapai umur lebih kurang 9 bulan. Mrocoti berasal dari kata procot, dalam bahasa Jawa keluarnya segala sesuatu dari lobang dengan cepat.

Sajian untuk upacara ini berupa :  jenang sumsum (bubur dari tepung beras) yang diberi pisang utuh yang telah dikuliti.

Sajian tersebut diletakkan dalam piring, dan dibagi – bagikan kepada tetangga.Tujuan dari upacara procotan ini  meng­harap agar bayi yang akan lahir nantinya dapat keluar dengan mudah dan selamat, tanpa gangguan apapun

Pantangan atau anjuran apabila wanita sedang mengandung.

Selama orang sedang megandung, kepadanya berlaku be­berapa larangan atau pantangan dan anjuran, yang harus dipa­tuhi. Pelanggaran terhadapnya dapat mengakibatkan hal-hal yang buruk, baik bagi si ibu maupun bagi anak yang dikan­dungnya.Larangan, pantangan maupun anjuran itu adalah sebagai berikut :

  1. Dilarang makan buah nanas, durian, daging kambing ka­rena makanan ini panas sehingga mengakibatkan kegu­guran.
  2. Dilarang makan ikan laut karena mengakibatkan ke­guguran.
  3. Dilarang makan terung, karena bayinya terlalu banyak lemak.
  4. Dilarang makan udang karena kalau melahirkan maju- mundur.
  5. Dilarang makan tuntut karena bayinya akan mengecil (kerdil).
  6. Dilarang makan buah kuweni karena mengakibatkan  keguguran.
  7. Dilarang makan telur karena kalau akan melahirkan memeti seperti ayam yang akan kawin.
  8. Dilarang makan makanan yang gatal karena anaknya nanti akan banyak tingkah.
  9. Tidak boleh terlalu banyak minum es karena bayinya akan terlalu besar sehingga sukar dalam melahirkan.
  10. Tidak boleh terlalu banyak makan daun kemangi ka­rena mengakibatkan keguguran.
  11. Tidak boleh makan tumpi (peyek kacang hijau) karena anaknya nanti akan banyak tahi lalatnya.
  12. Tidak boleh makan labu merah karena anaknya nanti buah pelirnya terlalu besar.
  13. Tidak boleh makan makanan yang bergetah karena anaknya nanti akan malas.
  14. Tidak boleh makan buah salak terlalu banyak karena nanti kalau melahirkan akan sukar.
  15. Dilarang makan buah pace karena kepala anaknya nan­ti akan benjol-benjol seperti buah pace.
  16. Dilarang makan buah pisang gandeng karena bayinya nanti akan kembar.
  17. Dilarang makan siwalan karena kepala anaknya nanti akan seperti buah siwalan.
  18. Dilarang makan tebu karena kalau melahirkan terlalu banyak mengeluarkan darah (uwat kidang).
  19. Dilarang makan kelapa kopyor karena mengakibatkan keguguran.
  20. Dilarang makan kecambah karena bayinya nanti lekas punya adik lagi (Jawa : kesundulan).
  21. Tidak boleh makan daging menjangan karena mengaki­batkan keguguran.
  22. Tidak boleh makan ikan sembilangan agar tidak mene­mui halangan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional daerah Jawa Timur.Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi Daerah 1983-1984, Surabaya September 1984,  hlm.63-65

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 1984 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s