Pengeran Timoer, Bupati Pertama Kabupaten Madiun


PANGERAN TIMOER yang kemudian hari diangkat menjadi Bupati Purabaya pada tanggal 18 Juli 1568 dan mengakhiri pemerintahan Pen­gawasan Kasultanan Demak di Purabaya di bawah Kyai Reksa Gati, kem­udian membuka dan mewarnai Sejarah Awal Kabupaten Madiun, sebagai Bupati yang Pertama (ke I) di Madiun dengan masa jabatan antara tahun 1568 sampai 1586.

Beberapa tahun setelah Pengeran Timoer diangkat menjadi Bupati Purabaya, sekitar tahun 1575, melaksanakan gagasan untuk memindahkan Pusat Pemerintahan dari bagian Utara ke Selatan (Lokasinya sekarang di Desa Kuncen – pen).

Pemindahan Pusat Pemerintahan itu dilakukan dengan beberapa alas­an antara lain: Pangeran Timoer ingin mempunyai tempat kedudukan yang baru sebagai satu peringatan atas dimulainya kekuasaannya sebagai seorang Bupati di Purabaya disamping kedudukannya sebagai Wedana Bupati di Mancanegara Timur bagian dari Kasultanan Demak. Pemindahan tempat itu juga dilandasi satu anggapan bahwa tempat yang lama sebelumnya bukan sebagai pusat pemerintahan. Tetapi hanya seba­gai tempat “pengawasan”.

Alasan lain rencana pemindahan itu bahwa menurut pengamatan tem­pat yang baru ternyata mempunyai fasilitas penunjang di banding daerah/ tempat yang lama.

Fasilitas penunjang yang dianggap akan lebih banyak menjamin, karena letak desa yang mengelilingi satu dengan yang lain berdekatan. Hal itu menjamin pula untuk memberikan satu kekuatan, dukungan serta perlindungan terhadap adanya ketahanan kota.

Tempat yang kemudian dipilih sebagai Pusat Pemerintahan merupa­kan satu daerah yang diapit muara sungai Gondang dan sungai Catur yang sangat besar artinya dalam satu kepentingan strategi serta kepen­tingan sosial ekonomi, karena kedua sungai itu merupakan jalan simpang lalu lintas besar kali Madiun.

Disamping itu daerah baru ini merupakan daerah dataran kering yang dalam keadaan demikian berpengaruh sekali terhadap kegiatan seluruh masyarakat dan Pemerintahan secara keseluruhan. Keadaan sosial ekonomi di daerah selatan ini dirasa juga lebih baik dan lebih penting dibanding dengan daerah utara. Demikian juga mekanisme keseluruhan pola kegiatan pemerintahan meli­puti wilayah kabupaten Purabaya secara utuh.

PERANG antara Pajang dengan Mataram yang kemudian menyebab­kan runtuhnya Pajang di sekitar tahun 1586 menyebabkan putusnya hu­bungan formalitas antara Kabupaten Purabaya oengan Pajang. Tetapi hal itu bukan berarti bahwa Kabupaten Purabaya menjadi “tunduk” terhadap pemerintahan Mataram.

Pangeran Timoer yang kemudian hari juga dikenal sebagai Panemba­han Rama menyatakan bahwa Purabaya sebagai kabupaten yang berdiri “bebas dan tidak ada ikatan herarkis dengan Mataram yang sudah me­ngalahkan Pajang Dan “Purabaya adalah akhli waris dan tahta kerajaan Pajang”.

Panembahan Senopati di Mataram kemudian hari menuntut agar Pu­rabaya mengakui adanya “pertuanan baru atas Mataram yang hal ini kemudian secara tegas “ditolak” oleh Pangeran Timoer/Panembahan Ra­ma. Bahwa Purabaya mempunyai hak sebagai penerus dari Kerajaan Pajang.

Pendirian yang keras dan Panembahan Rama ini ternyata mendapat dukungan dari beberapa Bupati Mancanagara Timur. Akibatnya sudah cukup diperhitungkan oleh Panembahan Rama dan tim­bullah kemudian bentrokan yang tidak dapat dihindari lagi antara Mataram dengan Purabaya,  yang dilaku­kan pertama kali pada ahun 1586. Sedang setahun berikutnya di tahun 1587 pasukan Mataram juga dikirim­kan untuk

Pihak Mataram kemudian berusaha untuk menundukkan Purabaya dan menginmkan pasukannya untuk menggempur menggempur Surabaya. Tetapi dua kali serangan pasukan Mataram ke Purabaya ini mengalami kegagalan dan dapat dipatahkan di bagian sebelah barat kali Madiun. Ke­kalahan itu menjadikan Mataram lebih cermat dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan berikutnya.

Terkait:
Pengeran Timoer, Bupati Pertama Kabupaten Madiun
Raden Ayu Retno Djumilah, Bupati ke 2 Kabupaten Madiun
Bupati Kabupaten Madiun ke 3 sampai dengan ke 13
Raden Ronggo Prawirodirdjo I. – Ra­den Mangundirdjo, Bupati Madiun ke 14 – ke 15
Pangeran Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Madiun ke 16
Bupati Madiun Ke 17 sampai dengan ke 21
Bupati Madiun ke 22 sampai dengan ke 24
Bupati Madiun ke 25 sampai denga ke 34
Berdirinya Madiun
Kotapraja Madiun, berdiri 1918
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Buku Kenang-kenangan Sekilas Madiun Pada Hari Jadi Ke-418. Madiun: Humas Pemerintah Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat II Madiun, 1986, hlm. 55-56.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Madiun, Madiun [Kota], Sejarah, Sosok, Th. 1986 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s