Prabu Brawijaya IV


Pangeran Adipati naik takhta menggantikan Prabu Brakumara dan bergelar Prabu Brawijaya IV. R. Gajah, putera Patih Banteng, diangkat menjadi Patih, bernama patih Gajah Mada II. Kerajaan Majapahit makin makmur dan sejahtera. Rakyat hidup tentram dan aman.

Pada suatu hari penghadapan, Sri Baginda untuk kepada patih Gajah Mada II sebagai berikut:
Patih Gajah Mada. Semalam aku bermimpi kawin dengan puteri raja kerajaan Cempa. Apakah Patih mendengar berita, bahwa raja Cempa mempunyai seorang puteri?
Sembah patih Gajah Mada: “Memang hamba mendengar, bahwa raja Cempa mempunyai seorang puteri yang cantik jelita.”
Sri Baginda: “Kalau berita itu benar, baiklah kau mengirim utusan ke Cempa untuk melamar putri itu untukku. Baiklah Panular saja yang berangkat.”

Kepada R. Panular Sri Baginda berpesan:
“Panular, pergilah ke negeri Cempa membawa suratku. Katakan kepada Sri Baginda, bahwa anak puterinya kuminta akan kujadikan permaisuri.”
R. Panular: “Daulat Tuanku! Titah Tuanku Patih junjung.”
Persiapan bagi R. Panular segera dilakukan, dan dapatlah utusan raja Brawijaya IV berangkat dengan cepat. Anginpun sesuai, sehingga tidak berapa lama kemudian, R. Panular telah datang di negeri Cempa. Raja Cempa telah mengetahui, bahwa ada utusan datang dari Majapahit. Baginda menyuruh jemput, maka pada hari penghadapan, utusan Majapahit diaraklah menghadap Sri Baginda.
Raja Cempa: “Selamat datang wahai duta. Siapakah namamu dan apakah keperluanmu?”
R. Panular: “Terima kasih, tuanku. Hamba adipati Panular utusan raja Majapahit yang bergelar Maharaja Brawijaya (IV). Hamba diutus menyampaikan surat.

Setelah surat dibaca, raja Cempa sangatlah gembira, katanya: “Saya sangat setuju dengan kehendak rajamu itu, R. Panular. Tapi saya masih harus bertanya kepadanya apakah ia setuju dikawin oleh raja Brawijaya.”
Raja Cempa masuk ke dalam istana, bertemu dengan puterinya. Ditanyainya anaknya beserta nasihat-nasihatnya xi) sehingga sang puteri setuju dengan niat Prabu Brawijaya. Segera persiapan dilakukan dan keesokan harinya, R. Panular dapat berangkat pulang ke Majapahit, berhasil membawa puteri Cempa. Sampai di Gresik, Prabu Brawijaya (IV) berkenan menyambut bakal permaisurinya.

Setelah upacara perkawinan, sang puteri diberi gelar Ratu Dwarawati.

***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BABAD TANAH JAWI; Galuh Mataram

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s