KH. Bisri Syansuri


Ulama, Pendiri PP Mambaul Maarif, Denanyar Jombang

DI Sebuah desa, sekitar 6 kilometer barat Kota Jombang, sangat indah dan alami. Warganya hidup dalam suasana kerukunan khas daerah agraris dengan pekarangan mengitari rumah-rumah serta dilambari persawahan yang luas dan senantiasa menghijau sepanjang tahun. Tanaman padi tumbuh subur memagari desa itu, hijau, kuning dan berayun-ayun diterpa angin. Itulah kawasan Desa Denanyar, Jombang.

Lebih seabad yang lalu sebuah pondok pesantren didirikan di Denanyar oleh seorang kiai yang kelak hidupnya bukan saja sangat penting dalam kehidupan di pondoknya tetapi juga memengaruhi kehidupan bangsanya. Pondok pesantrennya, Manbaul Ma’arif yang didirikan itu mencetak santri dari berbagai daerah dan dari waktu ke waktu terus berkembang hingga ribuan jumlahnya. KH Bisri Syansuri mendirikan pondok di Denanyar pada 1917 ketika beliau berusia 31 tahun.

Sebelum mendirikan pondok, beliau telah melengkapi diri dengan berbagai ilmu keagamaan yang cukup kuat. Ini tak mengherankan sebab KH Bisri Syansuri memang lahir dari keluarga penganut tradisi keagamaan yang kuat, yang kelak menurunkan kiai-kiai serta ulama besar di negeri ini. Keturunannya juga terjun, ke berbagai bidang kehidupan termasuk politik, bahkan salah satu cucu Kiai Bisri, KH Abdurrahman Wahid, menjadi presiden RI.

KH Bisri lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah pada tanggal 18 September 1886 (28 Dzulhijjah 1304). Mulai belajar agama pada usia 7 tahun kepada KM Shokh. di desa kelahirannya, Tayu. Sebagaimana putra kiai yang melakukan tradisi menjadi santri keliling, pemuda Bisri juga berkeliling dari satu kiai ke kiai lain dari satu pondok ke pondok lain. Usai belajar pada Kiai Sholeh kemudian melanjutkan belajar di Kajen, Pati berguru kepada KH. Abdul Salam. Kemudian pindah ke Pesantren Kasingan, Rembang belajar pada Kiai Cholil Harun. Masih di sekitar Pati dan Rembang, Jawa Tengah, kemudian mencari ilmu dengan belajar pada KH. Syuaib di Madura dan belajar kepada Syaikhona Cholil, Denangan, Bangkalan. Saat itu Kiai Cholil memang salah satu kiai besar di negeri ini dan menjadi pusat tempat berguru para santri yang diantaranya banyak menjadi kiai dan ulama besar.

Usai belajar pada Kiai Cholil Bangkalan, Bisri kemudian kembali ke Jawa namun tidak langsung pulang, la belajar agama di Tebuireng, Jombang dibawah asuhan langsung KH. Hasyim Asy’ary. Di Pondok Pesantren Tebuireng itu Bisri belajar selama enam tahun dan menjadi salah satu santri kesayangan yang sangat dekat dengan gurunya, KH. Hasyim Asy’ary.

Keinginan untuk memperdalam ilmu agama seperti tak pernah habis, bahkan makin menjadi-jadi. Dari Tebuireng melanjutkan pendidikannya ke Mekkah selama dua tahun. Sekembali dari Mekkah, KH. Bisri tidak langsung pulang ke Tayu namun memilih menetap di Jombang karena menikah dengan adik KH. A. Wahab Hasbullah. Dalam perjalanan hidupnya, KH. Bisri Kemudian juga menjadi besan gurunya, KH. Hasyim Asy’ary yakni KH. A. Wahid Hasyim. Dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjadi Presiden Indonesia.

Di Jombang pulalah, KH. Bisri memulai kiprahnya sebagai ulama dan kiai besar serta terlibat secara aktif dalam organisasi yang didirikan nara ulama, Nahdlatul Ulama. Ketika Nahdlatul Ulama (NU) didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya, KH. Bisri Syansuri adalah salah saru kiai yang hadir pada acara tersebut. Bahkan dalam susunan kepengurusan Pengurus Besar NU yang pertama itu, KH. Bisri duduk menjadi salah satu anggota (A’wan) Syuriah. Sedangkan Rais Akbar Syuriah PB NU dujabat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ary yang tidak lain adalah gurunya sendiri ketika nyantri di Tebuireng. Ketika KH Hasyim Asy’ari meninggal pada tahun 1947 jabatan Rais Akbar dihapus dan diganti dengan Rais Aam. Jabatan Rais Aam kemudian diisi KH. A. Wabah Hasbullah dengan Wakil Rais Aam KH. Bisri Syansuri. Pada tahun 1971 Kiai Bisri manggantikan posisi Kiai Wahab Hasbullah sampai akhir hayatnya.

Seperti halnya Sang Guru KH Hasyim Asy’ary yang berjuang membela tanah air dan membebaskan bangsa ini dari penjajahan, demikian juga Kiai Bisri. Pada masa perjuangan, Kiai Bisri bergabung dalam barisan Sabilillah dan pernah menjabat sebagai Kepala Staf Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBO-DT) yang bermarkas di belakang pabrik paku Waru, Sidoarjo. Perjuangan para kiai ini sangat penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan bahkan menjadi salah satu titik-penting dalam mengorbankan semangat perjuangan arek-arek Surabaya hingga pecah pertempuran 10 November 1945.

Namun perjalanan hidup Kiai Bisri bukan hanya di ranah organisasi NU atau kemiliteran di barisan Sabilillah namun juga di kancah politik-Pada masa-masa awal kemerdekaan, Kiai Bisri menjadi anggota Badan Pekerja KNiP mewakili Masyumi. Pemilu 1955 yang merupakan Pemilu pertama dalam sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia, mengantarkan Kiai Bisri menjadi anggota konstituante, sampai lembaga perwakilan itu dibubarkan oleh Presiden Soekarno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Namun perjalanan Kiai Bisri di dunia politik tidak pernah surut. Ketika pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soekarno menetapkan kebijakan penyederhanaan partai politik dan mengharuskan organisasi-organisasi politik bergabung pada tiga wadah: keagamaan, kekaryaan dan demokrasi, Kiai Bisri Syansuri bergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam kepengurusan PPP yang dibentuk pada tahun 1971 itu KH. Bisri Syansuri diangkat sebagai Rais Aan Majelis Syuri PPP. Bahkan Ka’bah yang dijadikan lambang PPP adalah ciptaan Kiai Bisri Syansuri sebagai hasil Istikharah. Lambang Ka’bah ini pula yang menjadi magnet kuat dan sangat sangat penting sebagai asset partai yang sangat berharga.

Pada jaman pemerintahan Orde Baru, terutama pada masa-masa awal, memang ada upaya atau kebijakan yang biasanya dikenal dengan kebijakan menjauhkan masyarakat dari politik. Saat itu pemerintahan Orde Baru memang meletakkan pembangunan ekonomi sebagai pcnglima dan mencoba mengamankannya dengan seminimal mungkin dari pengaruh kehidupan politik. Gegap gempita kehidupan politik semasa awal kemerdekaan dan ketika pemerintahan Presiden Soekarno, menurut kacamata pemerintahan Orde Baru, memberi pelajaran bahwa pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kurang ditangani dengan baik karena energi bangsa ini lebih tercurahkan untuk kehidupan politik yang ternyata tak berkaitan langsung dengan peningkatan kesejahteraan masyarkat.

Karena itu, Orde Baru berusaha menanamkan berbagi stigma bahwa politik itu kurang bagus untuk kemajuan ekonomi bangsa. Salah satu stigma yang juga dibangun adalah bahwa akan selalu muncul ancaman terhadap pembangunan yang sedang giat dilakukan pemerintahan berupa gangguan yang terkenal dengan sebutan ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Ekstrem kanan biasanya diasosiasikan dengan kelompok-kelompok agama khususnya Islam sedangkan ekstrem kiri diasosiasikan dengan ideoligi komunis lengkap dengan variasi dan derivasinya.

Penciptaan berbagi strigma tersebut memang cukup sukses melapangkan jalan bagi berbagai macam kebijakan pemerintahan Orde Baru namun juga punya konsekuensi yang cukup serius. Salah satunya adalah matinya gagasan-gagasan politik yang dianggap tidak sejalan dengan pemerintahan Orde Baru.

Ketika Presiden Soekarno menggagas pentingnya Pancasila sebagai saru-satunya azaz bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, langsung saja menuai protes keras terutama dari kalangan “Islam”. Namun seting politik yang memang telah dikoordinasikan dengan berbagai macam penciptaan stigma negatif tadi membuat kekuatan para pemrotes itu pupus di tengah jalan.

Para politisi islam yang tergabung dalam wadah PPP juga harus mengalami dilema yang cukup berat dan pergulatan batin yang tak kalah rumit. Antara memperjuangkan kepentingan idealisme dengan kompromi terhadap keinginan pemerintah yang sering diikuti. Pergalan semacam itu juga sering dihadapi KH. Bisri Syansuri. Dalam berbagai kesempatan sikapnya yang keras dan sulit diajak kompromi harus berhadapan dengan tekanan yang dilakukan pemerintah. KH. Bisri memandang persoalan dari kacamata fiqih dan selalu konsisten dengan sikap serta pandangannya itu.

Salah satu peristiwa monumental yang selalu tercatat dalam sejarah khususnya parlemen adalah sikapnya yang secara konsisten menolak P4 sebagai ketetapan MPR. Saat berlangsung SU MPR 1978, Fraksi PPP tidak sepakat dengan fraksi lain mengenai materi Rancangan Ketetapan MPR tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan pengalaman).

PPP sudah menggariskan untuk menolak, berbagi argumentasi sudah diajukan kepada fraksi lain oleh Fraksi PPP namun belum juga membuahkan hasil. Akhirnya seluruh anggota fraksi PPP memilih walk-out (keluar) dari ruang sidang. Dipimpin KH. Bisri Syansuri berada di urutan paling depan seluruh anggota Fraksi PPP meninggalkan ruangan sebagai tanda tidak setuju keputusan MPR. Kiai Bisri yang sudah berusia 92 tahun berjalan memimpin anggota PPP.

Mungkin hal itu biasa bagi kehidupan politik kita di saat sekarang, ketika pemerinta sudah tak “sekuat” dulu, ketika jaman sudah sangat terbuka. Namun bisa dibayangkan betapa kuatnya tekanan yang harus dihadapi politis seperti Kiai Bisri dalam suasana politik yang sangat otoriter. Tapi itulah KH. Bisri Syansuri, kiai besar yang sangat tinggi dan dalam ilmu agamanya serta sangat luas pengetahuan yang beliau miliki.

Hingga akhir hayatnya Kiai Bisri masih menjadi anggota DPR yang sangat disegani, Rais Aan PB NU, Rais Aam Majelis Syuro DPP PPP namun tetap memimpin dan aktif mengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar yang beliau rintis dan dirikan. KH. Bisri Syansuri meninggal di Jombang tanggal 25 April 1980 pada usia 94 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks Pesantren Denanyar, Jombang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Djoko Pitono. Profil Tokoh Kabupaten Jombang. Jombang: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang, 2010.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Jombang, Sosok, Th. 2010 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke KH. Bisri Syansuri

  1. Mohon ijin untuk materi keNUan, Gan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s