Hutan Nepa Dihuni Kera Nyentrik


Hutan Nepa, dihuni ratusan monyet nyentrik. Jika didatangi untuk diburu ratusan kera itu menghilang, tetapi jika didatangi sebagai sahabat kera-kera itu seperti hewan piaraan yang sudah lama berteman. Lebih dari itu, jika dikasih makanan khasnya, jagung tua mentah, maka kera-kera itu menjadi ramah, bersuka cita mengajak bercanda.

Lebih nyentrik lagi, kera Nepa ini terbagi dalam dua kelom­pok yang hidup di wilayah utara dan selatan. Kedua wilayah itu hanya dibatasi kayu dan jalan yang tidak terlalu lebar. Namun demikian antara dua kelompok itu tidak pernah memasuki wilayah kelompok lain.

“Mereka itu tidak mau menggang­gu kelompok lain, kalau sudah jalan mendekati kawasan kelompok kera la­innya, maka mereka segera menjauhi dan tidak perlu diperintah pergi, ke­cuali kalau sakit atau minta bantuan,” kata Raina penduduk sekitar desa.

Hutan Nepa memiliki luas sekitar 10 ribu meter persegi. Kawasan hutan yang masih ditumbuhi pohon-pohon lebat ini dikelilingi sungai air tawar yang bermuara ke laut. Di sepanjang sungai ditumbuhi mangrove yang masih asri dan indah dan pengunjung dapat berkeliling menikmati keasrian hutan dengan menggunakan perahu milik penduduk.

Objek wisata Hutan Kera Nepa ter­letak di Desa Nepa pesisir utara pulau madura dan berjarak ± 50 km dari pusat Kota Sampang. Hutan wisata ini memiliki keunikan yang khas, se­lain keranya, pemandangan alamnya yang masih perawan dan segar.

Perpaduan sungai air tawar yang berdampingan dengan laut sungguh sebuah panorama yang sangat ekso­tik. Letak hutan Kera Nepa memang agak terpencil dan agak sedikit sulit untuk dilalui, tapi semua letih akan terbayar dengan berbagai keunikan dan pengalaman menarik yang bisa dinikmati di setiap sudut hutan.

Tempat ini hampir mirip dengan Wisata Hutan Monyet Sangeh di Bali, hanya saja Hutan Kera Nepa dekat dengan laut. Banyak keindahan yang bisa dinikmati selain, hutannya, keranya juga lautnya dengan mangrovenya yang masih dibiarkan liar.

Pengunjung di wisata hutan Nepa ini, tidak seramai obyek wisata di Ja­wa misalnya. Hal ini karena promosi yang kurang, selain sarana dan pra­sarana seperti jalan dan transportasi umum yang masih sulit mengantar­kan pengunjung sampai ke hutan.

“Namun demikian, obyek wisata ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah, sehingga terlihat apa adanya,” ujar Rainah. (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 04, 15 Mei 15 Juni 2012

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Madura, Sampang, Wisata Alam dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s