Corak Pertunjukan Wayang Kulit di Jombang


Bicara tentang pertunjukan wayang kulit tidak akan pernah lepas dari dunia/Seni Pedalangan. Di mana Seni Pedalangan adalah segala sesuatu yang terkait dengan dalang atau seniman peraga boneka wayang beserta cerita dalam pertunjukan. Pada dasarnya sebutan dalang akan selalu melekat dimana, bagaimana, apa saja dan kapanpun itu, karena dalang merupakan sosok atau public figure yang diyakini dapat memberikan petuah dan suritauladan bagi masyarakat tentang baik buruk perjalan hidup manusia bahkan sebagian masyarakat pendukungnya menyebut dalang tidak berbeda dengan seorang Kiai, Pendeta, Rama, Brahmana atau sejenisnya, baik di atas maupun di bawah panggung.

Namun sekarang fungsi seniman dalang menjadi bertambah sebagai sosok yang dapat mempergelarkan pertunjukan memukau serta gelak tawa yang segar, bahkan keahlian ini digunakan untuk mencari nafkah dengan berbagai macam cara. Begitu pesat perkembangan serta pengaruh industrialisasi terhadap seni budaya di Indonesia khususnya seni pedalangan sehingga mempunyai dampak pada segala sesuatu yang terjadi pada masyarakat dan lingkungannya, dimana dari semula pedalangan/pewayangan sebagai media religius sampai bertambah fungsi sebagai media penerangan program pemerintah, komunikasi, bisnis dan hiburan dibidang seni pedalangan.

Pedalangan merupakan salah satu karya besar monumental nenek moyang bangsa Indonesia khususnya orang jawa dengan bentuk pertunjukan wayang kulit yang lebih dikenal dengan sebutan pakeliran wayang kulit purwa dan sangat popular mengambil cerita Mahabarata/Ramayana. Sudah sepatutnya kita berbangga diri karena keberadaan wayang kulit purwa dapat anugerah penghargaan oleh UNESCO pada tahun 2003 dan dinobatkan sebagai salah satu karya besar dan menjadi budaya dunia. Dari masa ke masa pakeliran wayang kulit berkembang pesat sesuai dengan jaman serta peradaban masing-masing kearifan budaya daerah.

Dahulu kala pertunjukan wayang kulit disajikan dengan durasi waktu sembilan jam (semalam suntuk/sedalu natas), teteapi dalam perkembangannya dapat disajikan dalam durasi empat jam atau dua jam. Hal itu terjadi karena menyesuaikan kebutuhan dan tutuntan masyarakat pendukungnya. Bambang Suwarno mengemukakan gagasannya tentang komposisi pakeliran/pertunjukan dengan istilah pakeliran padat.

Rustapa dalam bukunya berjudul “Gendon Humardani Pemikiran dan Kritiknya” menguraikan pandangannya sebagai berikut: pandangan seni “modern” membimbing kita untuk menjalin unsur-unsur pertunjukan wayang kulit menjadi sudah barang tentu harus sesuai dengan kematangan dalam mengolah atau penggarapannya. Gubahan pakeliran baru ini sama sekali tidak bermaksud merusak watak wayang kulit purwa (Rustapa, 1991:140). Di dunia pedalangan pertunjukan wayang kulit dalam sajiannya memiliki keragaman gaya pakeliran besar yang berbeda-beda. Seperti pakeliran Gaya Surakarta, Gaya Yogyakarta dan Gaya Jawa Timuran (Cek-Dong). Sedangkan pertunjukkan wayang kulit yang masih eksis dan berkembang di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Jombang adalah Gaya Surakarta (kulonan)dan Gaya Jawa Timuran (etanan).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Heru Cahyono,  Wayang Jombangan: Penelusuran Awal Wayang Kulit Gaya Jombangan. Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang KANTOR PARBUPORA, 2008. hlm. 6-7.

 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Jombang, Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s