Pura Mandaragiri Semeru Agung


MENKO KESRA SOEPARDJO RESMIKAN
PURA MANDARA GIRI SEMERU AGUNG

Kalau dilihat unsur dan strukturnya berdasarkan manuskripnya,  Gunung Semeru, sebagai Linggagiri, Hyang Widhi, dalam istadewata Dewa Pasupati, adalah merupakan pusat dan berkedudukan lebih tua dari Purapura Kahyangan Jagat di Bali Tetapi dalam kenyataan, belum memiliki bangunan pelinggih Pura, sebagai Pelinggih Penataran, seperti Gunung-gunung di Bali, yang menjadi lokasi bangunan. Pura-pura Kahyangan Jagat di Bali.

Sejak dibangunnya Pura Mandaragiri Semeru Agung di Desa Senduro, Gunung Semeru sebagai Gunung Suci dan pesona Spiritual bagi masyarakat umat Hindu Indonesia, telah memiliki pura penataran. Untuk menentukan Nama, Status dan Pengelolaan Pura Mandaragiri Semeru Agung di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur, yang telah selesai dibangun dan pelaksanaan Upacara Pemelaspas Alit,

sebelum dilaksanakan Upacara Pemungkah Agung, Ngenteg Linggih dan Pujawali atas prakarsa Gubernur Bali, ,Prof. dr. Ida Bagus Oka, diadakan pertemuan dengan pihak instansi, Badan dan Majelis yang terkait, di Wantilan Mandapa Kesari Warmadewa, Pura Agung Besakih, pada tanggal 11 Mei 1992 lalu.

Hasil pertemuan di Pura Agung Bekasih oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, berdasarkan Ketetapannya di Pura Besakih, pada tanggal 11 Mei 1992 ten tang Nama, Status dan Pengelola Pura Mandaragiri Semeru Agung di Desa Senduro Lumajang Jawa Tirnur, menetapkan sebagai berikut :

  1. Nama Pura sesuai dengan surat ijin pendirian Pura yaitu, “Pura Mandaragiri Semeru Agung”.
  2. Pura Mandaragiri Semeru Agung b.erstatus sebagai Pura Kahyangan Jagat tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  3. Penyungsung Pura adalah seluruh . Umat Hindu seperti Kahyangan Jagat lainnya di seluruh Indonesia.
  4. Pengempon/Pengelola Pura Mandaragiri Semeru Agung adalah Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lumajang dengan membentuk Yayasan yang bertugas khusus bertugas mengelola/ngempon Pura Mandaragiri Semeru Agung.
  5. Panitia Pembangunan Pura Mandaragiri Semeru Agung yang dibentuk oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lumajang menyerahkan Pura tersebut kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Lumajang setelah selesai Upacara “Ngenteg Linggih”. 

 
Demikian Lima point ketetapan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, mengenai Nama, Status dan Pengelola Pura Mandaragiri Semeru Agung di Sehduro Lumajang Jawa Timur. Dengan demikian dapat dikemukakan, bahwa pada Abad XX ini telah dibangun sepelebahan pura, yang berstatus dan berkedudukan sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat di Indonesia yakni Pura Mandaragiri Semeru Agung. Pura ini merupakan Pra Kahyangan.  Jagat yang paling belakang dibangun dalam abad XX walaupun sumber-sumber manuskrip atau fIlologi tua yang ada di Bali warisan dari Majopahit, merupakanPusat tertua dalam hubungan dengan eksistensi Pura-Pura Kahyangan Jagat yang ada di Bali khususnya, maupun di Indonesia pada umumnya.

Kini terwujudlah cita-cita masyarakat Hmat Hindu Kabupaten Lumajang untuK memiliki tempat pemujaan dan persembahyangan, yakni Pura Mandaragiri Semeru Agung. Bahkan kalau dibandingkan dengan Pura-pura yang berada di Jawadwipa, merupakan Pura yang termegah. Di samping itu, sejak dibangunnya Pura Mandaragiri Semeru Agung, bagi masyarakat umat Hindu di Kabupaten Lumajang, Kecamatan Senduro dan sekitarnya, dalam hari-hari besar dan hari-hari Suci Keagamaan, seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Nyepi {pada waktu pemujaan dan persembahan Tawur Mongso Kasongonya), Hari Saraswati Puja, Hari Malam Siwaratri, tidak lagi melakukan persembahyangan dan pemujaan di sanggar-sanggar rumah tangga, tetapi sudah ditempat persembahyangan yang wajar, yakni di Pura Mandaragiri Semeru Agung. Termasuk pemujaan dan persembahyangan pada Hari Purnama.Tilem.

Setelah bangunan Pura Mandaragiri Semeru Agung berfungsi utuh sebagai bangunan suci, kalau ada Upacara Pemendak tirtha ke Watu Kelosot, baik dari Bali maupun dari wilayah . Nusantara lainnya, tidak perlu lagi kwawatir. Karena tidak perlu memundut tirtha sampai menginap di Hotel maupun di rumah tangga. Kalau sampai kemalaman, tirtha yang dipendak atau di mohon di Watu Kelosot, sekarang cukup disthanakan di Pura Mandaragiri Semeru Agung, di tempat yang patut dan ditempat yang etis. Sehingga kesucian Tirtha atau air suci yang dimohon di Watu Kelosot, terwujud, sesuai dengan petunjuk sastra-sastra agama.

Dengan berfungsinya Pura Mandaragiri Semeru Agung secara utuh, nyata telah bertambah satu tempat suci lagi bagi masyarakat umat Hindu untuk melakukan Dharmayatra, dharmasdana, dharmatula, dharmawacana dan dharmasanti. Kalau dikaitkan dengan eksistensi Pethirtan Watu Kelosot yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Pura Mandaragiri Semeru Agung di Desa Senduro, setelah disucikan melalui upacara dan dibangunnya disana Pelinggih Pengulun Tirtha, telah bertambah lagi bagi masyarakat umat Hindu untuk melakukan kegiatan dan ibadah agama yang disebut tirthayatra dan tirthagamana.

Yang dimaksud dengan ibadah agama tirthayatra, adalah dalam kehidupan ini dalam waktu-waktu tertentu, patut pergi ke Gunung, ke tempat-tempat mata air suci, tertentu, patut pergi ke Gunung ke tempat-tempat mata air suci, untuk memohon tirtha, baik secara perseorangan maupun secara berombongan. Sama pula halnya, keharusan melakukan tirthagamana, ke tempat-tempat mata air suci di Pegunungan, untuk menyucikan diri, baik secara fisik maupun secara spiritual.

Aset Pariwisata.
Dari kegiatan keagamaan yang telah diketemukakan, kegiatan ini dapat menumbuhkan produk dan aset pariwisata yang baru bagi di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur pada umumnya dan di Kabupaten Lumajang pada Khususnya. Walaupun tidak berkelebihan

kalau dikemukakan sebagai pariwisata spiritual bagi umat Hindu khususnya, dan Pariwisata dalam pengertian pure pariwisata, seperti yang dilakukan oleh para wisatawan pada umumnya, dari satu obyek Pariwisata yang satu ke obyek Pariwisata yang lainnya di Jawa Tirnur.

Menurut pengamatan pada saat orang-orang Bali melakukan ibadah agama ke Pura Mandaragiri Semeru Agung sebelumnya banyak diantara mereka yang berkunjung atau melakukan Dharmayatra Tirthayatra dan Tirthagamana ke Bromo dan Pura Blambangan di Banyuwangi. Dinatara mereka yang menunaikan ibadah keagamaan itu, sering mengajak para wisatawan asing, yang menginap di pension atau hotelnya di Bali. Dari proses seperti ini, sangat besar kemungkinannya di negeri para wisatawan mancanegara yang bersangkutan akan terjadi komunikasi getok tular, sehingga poros segitiga Bromo-Semeru-Ujung Blambangan dengan pura-pura tempat ibadah masyarakat umat beragama Hindu, yang telah dibangun di ketiga lokasi yang telah dikemukakan. Hal ini berdasarkan fakta pengamatan pad a waktu Upacara Kasodo tahun lalu di Segara Wedi, Bromo.

Fakta dan permasalahan ini tentu patut secepatnya dipikirkan, direncanakan untuk pengadaan prasarana dan sarana oleh pihak yang berkompeten dan berwenang di Jawa Timur, bersama komponen-komponen Pariwisata di Daerah Jawa Timur pada khususnya, maupun secara nasional. Sehingga penataan yang selaras dengan konsep-konsep produk dan aset pariwisata spiritual dapat lestari dan berkembang secara patut dan wajar.

UNSUR DAN STUKTUR BANGUNAN PURA MANDARA GIRl SEMERU AGUNG

Kalau menyimak stmktur bangunan Pura-pura pada umumnya,  areal suatu pura akan terdiri dari tiga mandala, yang disebut Tirmandala. Di masing-ma sing mandala, akan dibangun pelinggih atau bangunan suci yang patut dibangun di masing-masing mandala, sesuai dengan fungsi dan kedudukan pelinggih di mandala yang ·bersa.ngkutan.

Pura Mandaragiri Semeru Agung di . Desa Senduro, hanya bam dua mandala Nistamandala, belum terwujud, karena di depan Apitsurang atau Candi Bentar, adalah Jalan Raya Sen duro. Sehingga yang ada hanya madyamandala dan utama mandala. Pembagian areal struktur trirnandala ini, bukan hanya kebetulan patut dibagi tiga tetapi memiliki tuntutan tata susila bagi setiap umat Hindu atau siapa saja yang akan masuk ke Pura Tuntutan tata susila itu adalah menyentuh Trikaya Parisuda yakni : Yayika, berbuat yang baik; Wacika, berkata yang baik dan Manacika, berpikir yang baik. Disamping baik, kalau akan memasuki areal pura, perbuatan, kata-kata dan pikiran hams selalu mengarah ke arah kesucian.

1. Apitsurang atau Candi Bentar.
Begitu berada nistamandala, mandala yang paling luar, hendak masuk ke madyamamandala, perilaku kita patut telah mengarah ke arah kesucian. Begitu masuk di pintu Apitsurang. Siapapun pada saat itu, patut telah berusaha menghilangkan segala perilaku yang tidak terpuji. Begitu lewat di pintu Apitsurang, kita telah berada di masyamandala:” Disini unsur-unsur bangunan fungsionallainnya.

2. Bale Patok.
Merupakan bangunan yang fungsinya agak sekuler, karena orang-orang boleh duduk-duduk di lantainya. Baik untuk mempersiapkan diri akan melakukan persembahyangan, maupun tempat mengaso setelah melakukan persembahyangan atau melakukan kegiatan keagamaan yang lainnya. Ataupun bolehjuga untuk duduk bersantai sambil menikmati keindahan bangunan pura.

3. Bale Gong.
Masih di bagian utara areal madyamamandala, di sebelah tirnur Bale Patok, adalah Bale Gong. Disini kalau ada upacara dan kegiatan agama lainnya merupakan tempat perangkat gambelan. baik perangkat gambelan Gong Jawa  maupun Gong Bali. Disini pula tempat para penabuh memukul gambelan masing-masing. Kalau tidak ada upacara dan kegiatan keagamaan lainnya, di Bale Gong ini, dalam kesehariannya tempat latihan menabuh, kidung.kidung keagamaan oleh para remaja putra-putri: desa Senduro dan sekitarnya, yang dipimpin oleh para pelatihnya.

4. Gedong Simpen.
Bangunan yang mungil ini seperti namanya Gedong Simpen, adalah merupakan tempat menyimpan alat-alat perlengkapan upacara, seperti kain-kain busana bangunan pelinggih, pengawin, seperti Umbul-umbul, Kober, Lelontek, Payung Pagut, Mamas, Masang, termaasuk Panawa Sangan, serta perlengkapan lainnya yang disebut sopaeara.

Karena bangunan Gedong Sipen ini mungil dan apik, beranda depannya secara adat , biasa dipergunakan untuk menerima tamu-tamu terhormat seperti para Sulinggih, para rohaniawan lainnya, Termasuk Guru Wisesa (pejabat-pejabat pemerintah), yang datang ke Pura tidak dalam rombongan yang besar.

5. Bale Kulkul.
Masih di kawasan madyamandala, di pojok Barat, bagian Selatan, menju” lang tinggi ke atas adalah bangunan Bale Kulkul. Disini tergantung dua kulkul purusha-pradana Pejenengan. Pura Mandaragiri Semeru Agung, Kulkul itu dibunyikan, pada waktu ada upacara di Pura Mandaragiri Semeru Agung, pada saat Upacara Melelasti, Upacara Rawuh dari Melelasti atau Upacara Memendak, pada saat Ida Bhatara Tedun ke Bale Paselang. Suara kulkul pada saat dipukul pada waktu upacara-upacara yang telah dikemukakan, patut ngulkul-bedil suara dengan dua nada dalam tempo yang sama, yakni suara tung-ting, tung-ting, atau tum-peng, tum-peng Kayu kulkul ini tidak sembarang kayu tetapi dari kayu khusus, sesuai dengan petunjuk sastra untuk membuat kulkul pajenepgan. Kayu kulkul Panenengan Pura Mandaragiri Semeru Agung, adalah Kayu Dau (Dracontamelum mangiferum Bl). Undagi atau tukang yang mengerjakan pun tidak sembarang orang melainkan dikerjakan oleh seorang Sulinggih, yakni Ida Pedanda Gede Nyoman Taman, Geria Siladan Bangli.

6. Bale Dawa/Pendopo.
Dikawasan madyamandala ini, di sebelah Timur Bale Kulkul, ,adalah Bale Pendopo, yang panjang. Sesuai dengan fungsi pendopo, disini juga digunakan untuk menerima tamu yang rombongannya lebih besar. Juga disini biasa dipergunakan sebagai tempat untuk melakukan persiapan pemujaan dan persembahyangan sebelum masuk keutama mandala, mandala pura yang. paling disucikan. Juga di pendopo atau Bale Dawa ini, biasa dipergunakan untuk melakukan dharmatula, diskusi tentang keagamaan, dalam usaha untuk lebih mendalami dan memantapkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.

Selain dari pada itu, dalam kesehariannya, kalau ada rombongan yang dalam jumlah besar melakukan upacara memendak tirtha ke Watu Kelosot, atau hanya melakukan persembahyangan routine ke Pura Mandaragiri Semeru Agung, Bale Dawa ini juga berfungsi sebagai tempat mengaso, lek-Iekan atau pun tiduran. Kalau perlu, bila kekurangan tempat untuk menabuh dan menari juga, Bale Dawa dapat digunakan untuk kegiatan itu. Jadi Bale Dawa ini, adalah Bale serba guna, tetapi selalu daIam kaitannya dengan kegiatan keagamaan.

7. Suci.
Di sebelah Timur Bale Dawa ini, adalah bangunan suci, yang merupakan dapur khusus untuk memasak bahan-bahan upacara untuk persembahan dalam pemujaan kalau ada upacara di Pura Mandaragiri Semeru Agung. Di dapur khusus untuk memasak bahan bhakti atau banten, ini adalah betul-betul khusus untuk memasak bahan persembahan diluar dari itu siapapun tidak dibenarkan untuk memasak disini. Dengan kata lain, dapur ini adalah dapur Dewa, sehingga disebut Suci.

8. Bale Petandingan.
Di sebelah Timur Suei itu, adalah Bale Petandingan. Suci secara logis harus selalu berdampingan dengan Bale Petandingan, Karena di Bale Petandingan inilah tempat nanding, merangkai, mengatur semua yang dimasak di suci, sebelum dipersembahkan sebagai bhakti atau banten kehadapan Hyang Widhi, atau istadewatanya, dalam pemujaan dan persembahan, kalau ada Upacara atau karya di pura Mandaragiri Semeru Agung. Kita masih berada di kawasan madyamandala, sekarang kita akan menyimak semua bangunan yang menjadi batas antara Madyamandala dan Utamamandala.

9. Gelungkuri (Candi Kurung).
Gelungkuri atau Candi Kurung ini, memiliki pintu hanya satu. Pintu ini adalah pintu khusus untuk keluar masuk bagi mereka yang terlibat langsung sebagai pelaksana upacara. Orang-orang yarig keluar masuk untuk melakukan persembahyangan sarna sekali tidak boleh keluar masuk melalui pintu Gelungkuri ini. Mereka harus keluar masuk melalui dua pintu peletasan, di kiri-kanan Gelungkuri itu

Secara nyasa (simbol keagamaan) hiasan atau profil yang ada pada Gelungkuri adalah Bhoma (sekarang belum diukir). Bhoma (Bhauma), (Sanskerta), berarti yang lahir dari bhumi. Bhoma adalah putra Wisnu dan Perthiwi Dewi. Wisnu dalam wujud fisik, adalah air. Sedangkan Perthiwi Dewi, dalam wujud fisiknya adalah Bhumi atau tanah: Karena pertemuan air dan tanah inilah ada yang lahir dari tanah. Atau tumbuh Itulah Bhauma (Bhoma). Yang tiada lain adalah tumbuh-tumbuhan, atau kayu. Kalau kayu itu mahabesar, disebut Vanaspataiyah (Sanskerta) atau Banaspati, Vanaspati (Jawa Kuno). Kenapa pada Gelungkuri ada Bhoma, yang menjadi batas antara madya mandala dan utama mandala?.

Kalau kita meniti konsep struktur trimandala sepelebahan bangunan pura, pura itu adalah merupakan nyasa sebuah gunung. Struktur sosok gunung itu pun juga terdiri dari trimandala. Paling bawah (nistamandala) adalah lereng gunung. Bagian tengah gunung (madyaman dala), adalah badan gunung itu. Sedangkan yang paling atas (tamamandala), adalah puncak gunung.

Dalam kenyataan sebuah sosok gunung di madyamandala gunung itulah ada hutan, . ada tumbuh-tumbuhan (Bhauma), yang lahir dari tanah. Ada Vanaspati, kayu-kayu raksasa, seperti galibnya hutan. Jadi Bhoma, Vanaspati, adalah merupakan batas antara lereng gunung (madyamandala) gunung, dengan puneak (utamamandala) sebuah sosok gunung, Itulah sebabnya kenada pada dedanga sebuah Gelungkuri pada umurunya selalu dipahatkan frofil Bhorna, karena dia merupakan nyasa hutan sebagai batas lereng dan puneak gunung.

Masih dalam konsep ini, di kiri kanan kedua peletasan Gelungkuri itu ada dua profil arca. Yang dikanan, bermuka kera bergelang Candi kurung adalah nandiswara, sedangkan yang di sebelah kiri, bermuka raksasa, memakai Gelung Candikurung juga, adalah Mahakala. Baik Nandiswara, maupun Mahakala adalah perwujudan Siwa yang menjaga Gunung Mahameru atau Gunung Kailasa, tempat Dewa Siwa (Girinatha) bersemayam dengan shaktinya Parwathi Dewi. Jadi dalam konsep yang Siwaistis, Nandiswara dan Mahakala, bukan berfungsi hanya sebagai arca Dewarapala (penjaga pintu), tetapi lebih konseptual lagi bagi penganut Siwaistis. Karena secara spiritual. prabhawa atau perwujudan anthropomorphie Siwa sebagai Nandiswawa dan Mahakala, adalah sebagai peneliti (Nandiswara) dan pamidanda (penghukum), Mahakala), bagi mereka yang masuk pura, dengan tujuan-tujuan yang tidak baik.

Sedangkan dua naga di kiri-kanan undag (tangga) Gelungkuri itu, tidak memiliki nyasa khusus, seperti Naga pada Padmanabha di Utama mandala. Naga disini lebih berfungsi sebagai unsur penghuni hutan (Bhoma) pada dedanga Candikurung.

10. Pengapit Lawang.
Di kiri-kanan Gelungkuri itu ada dua bangunan yang berbentuk tugu. Kedua bangunan itu disebut pengapit lawang, karena keduanya mengapit lawang atau jalan keluar masuk di pintu Candikurung. Fungsinya hampir sarna dengan area Dwarapala, tetapi tidak sekonseptual Nandiswara dan Mahakala. Tidak dijelaskan siapa se benarnya yang dipuja di Pelinggih Pengapit Lawang itu sebagai Dwarapala, keeuali hanya Prakanggen Ida Bhatara atau pembantu penjaga istadewata, Hyang Widhi.

11. Bale Ongkara.
Ongkara adalah Aksara Suci (Om) nyasa Hyang Widhi, (Tuhan Yang  Maha Esa). Bale Ongkara ini, seeara fisik juga sebagai nyasa kesudan pikiran bagi setiap umat yang akan melakukan pemujaan dan persembahyangan di Pura Mandaragiri Semeru Agung (di utamamandala). Atau setiap orang yang melakukan pemujaan, persembahyangan ke Pura adalahpada dasarnya meneari Widhi. Meneari Widhi yang sud itu, harus dengan,pikiran yang sud pula. Demikian nyasa Bale Ongkara atau juga disebut Bale Mundar-Mandir, yang berlokasi di kiri-kanan Gelungkuri, yang merupakan pintu masuk ke utarnandala.

12. Peletasan Khusus yang menghadap ke Selatan.
Sebagai pintu keluar masuk dari madyamandala ke utarnarnandala, ada sebuah lagi yang menghadap ke Selatan, Peletasan ini, lebih bersifat khusus bagi para pengayah yang memanaged kegiatan upacara. Atau pintu keluar-masuk bagi para pembantu funsionaris Upacara seperti Pedanda, Pemangku, Tukang Banten (Mancaghra), Tegasnya tidak untuk umum, seperti mereka yang akan melakukan persembahyangan pada waktu pawed alan, Dalam kesehariannya, peletasan inilah sebagai pintu keluar-masuk para petugas Pura, seperti tukang kebun, tukang sapu, atau petugas-petugas pura yang lainnya. Setelah menyimak unsur-unsur bangunan di madyamandala, selanjutnya kita terus masuk ke utamarnandala. Diutarnamandala tempat tersuei, yang merupakannyasa puncak sebuah sosok gunung, mulai dari pajak bagian Selatan, berturut-turut, kita menemukan bangunan-bangunan, antara lain :

13. Bale Pesanekan.
Seperti namanya, bale ini berfungsi sebagai tempat mesanek~n (berhenti untuk mengaso). Pada bangunan inilah pilIa pemendak, mereka yang akan bersembahyang, berhenti dan mengaso sebentar untuk memeriksa bhakti atau aturan yang akan dipersembahkan apa sudah lengkap atau masih ada yang kurang. Atau tata letak bhakti yang akan dipersembahkan itu apakah sudah rapi at au belum, karena dibawa nalk mobil d,ari jauh. Termasuk juga untuk berhenti sebentar, agar ada kesempatan memeriksa apakah bhaktinya sudah berisi serasi atau belum. Kalau belum akan diisi serasi berupa uang, sesuai dengan kehendak dan kemampuan yang bersangkutan.

Termasuk juga pada waktu berhenti dan mengaso sebentar untuk memeriksa perlengkapan persembahyangan, seperti bunga, kewangen, dupa, korek api, batil atau sangku, dan sebagainya. Kalau sudah lengkap, yang bersangkutan akan segera pergi ke tempat persembahan dan persembahyangan di depan Padmanabha.

Di Bale Pesanekan ini biasa juga para pengiring Pedanda, atau asistennya untuk mempersiapkan perlengkapan pamujan sebelum Ida Pedanda mapuja.

Selain dari pada itu , disini para petugas pengumpul sesari, aturan dana punia, akan duduk, menerima dan mencatat atunin sesari dan punia para bhakta Termasuk mencatat para tamu yang berkunjung at au berkeinginan menyaksikan kegiatan upacara dan persembahyangan.

14. Bale Gajah.
Disebut Bale Gajah, karena pada keempat sudut dasarnya memakai Karangasti atau Karanggajah, dalam bentuk yang distilisasikan dalam konsep profil dan ornament Bali (sekarang belum diukir). Sebenarnya Bale Gajah ini berfungsi sebagai temp at Ida Pedanda siwa dan Ida Pedanda Budha mapuja, kalau memimpin dan muput upacara.

Di Bale Gajah ini, tidak seanbarang Pedanda yang boleh naik mapuja untuk muput dan memimpin Upacara dan Pamujaan yang dipersembahkan di Pura Mandaragiri Semeru Agung . Selaras dengan petunjuk Sastra-sastra Agama, terutama Wiku atau Pedanda yang boleh mapuja di Bale Gajah ini adalah Wiku Astupungku atau Wiku Bhasmangkara.

15. Bale Agung.
Bale ini sangat panjang, dan besar wujud bangunannya, sehingga disebut Bale Agung. Fungsinya dalam penghayatan agama secara immanent, adalah merupakan tempat suci, Dewa -dewi parum atau mengadakan pesamuan. Sehingga Bale Agung ini juga disebut Bale Pesamuan.

Kalau selesai pelaksanaan upaeara melelasti, termasuk upaeara pemendaknya semua tapakan, pralingga, arca-arca perwujudan yang disueikan , pratima sopacara, atau perlengkapan upacara yang disucikan, disthanakan di Bale Ageng ini. Sehingga pada waktu itu, seolah Dewa-dewi, Bhatara-bhatari, dalam penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang immanent, berkumpul di Bale Agung, untuk mengadakan pesamuan, untuk memberikan waranugraha, berupa keselamatan dan. kesejahteraan bagai umat manusia.

16. Bale Paselang.
Bangunan ini, berfungsi untuk melaksanakan upacara peselang, pada waktu ada upaeara atau karya di Pura Mandaragiri Semeru Agung. Upaeara Peselang ini, dalam penghayatan agama immanent, Hyang Widhi, mulai dari melakukan yadnya, adisrsti (eiptaan mulia) tribhuana ini dengan segenap isinya, sebagai anugrah kepada umat manusia, sehingga umat manusia menjadi makmur dan sejahtera dalam hidup dan kehidupan ini.

Atau dalam rangkaian upaeara, yang dipersembahkan sesuai dengan hari subhadiwasa dan pangaladesanya, Upacara Peselang, (Ida Bhatara Tedun ke Peselang), adalah juga bermakna nyasa, cinta kasih Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) kepada Umat manusia, dengan berbagai bentuk dan waranugrahanya. termasuk- manusia ini. Sehingga dalam istadewata seperti ini, Hyang Widhi dinyasakan, sebagai Dewa Smara dan Dewi Ratih, Dewa Cinta Kasih, dalam konsep Dewa-dewa Hindu, sebagai prabhawa Hyang Widhi. (Lihat relief atau ukiran kayu, yang merupakan parbha, balai balai Peselang).

17. Anglurah.
Bangunan anglurah ini b.erbentuk Tugu, seluruhnya terbuat dari batu padas dan batu bata. Dalam penghayatan agarna immanent Pelinggih Anglurah (pengelurah), adalah pelinggih (stana) para lurah, iringan pengawal para Dewa, istadewata Hyang Widhi, yang dipuja pada waktu hari subhadiwasa upacara yang dilaksanakan di suatu pura. Pelinggih Angelurah ini, pada umumnya selalu ada di Pura-pura, karena istadewata (Dewa-dewa) yang dihadirkan dalam upacara atau Karya di Pura-pura, selalu dengan iringan, pengawal, para lurahnya Konsep keagamaan dalam penghayatan dan pengamalan ajarannya yang bersifat immanent, tanpa menyimpang dari konsep filsafat yang merupakan salah satu unsur Tiga kerangka agama Hindu, yang selaras dengan kedua unsur kerangka yang lainnya, tata susila dan upacara dengan upakaranya, menyebabkan kehidupan beragama dalam pemujaan dan persembahan menjadi marak dan elaborate.

18. Tajuk.
Bangunan Tajuk ini ada dua buah, yang berlokasi di kiri-kanan bangunan Padmanabha. Bangunan ini, adalah bangunan suci, yang berfungsi sebagai Bale Pengaruman, sthana istadewata Hyang Widhi yang dipuja dalam persembahan dan pemujaan. Ini masih dalam. Penghayatan agama yang immanent, karena memuja Hyang Widhi yang VOID, yang transendental, yang abstrak, yang sunya tidak mungkin bagi kebanyakan atau masyarakat umat Hindu pada umumnya. Sehingga sebatas pemikirannya, Hyang Widhi dalam bentuk istadewata, dipuja dan disembah di bangunan Tajuk ini, selaku pengejawantahan emosi keagamaannya. Dalam fungsi seperti yang telah dikemukakan, bangunan Tajuk pada umumnya selalu ada di Pura-pura di Bali pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.

19. Padmanabha.
Ini adalah bangunan pokok, yang tersuci sebagai tempat atau sthana Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), Berdasar kan lokasi dankedudukan bangunan Padma pada umumnya, banyak sekali bentuk dan jenisnya. Demikian pula berdasarkan rong, (ruang), pepalihan (tingkatnya), unsur dan struktur profil-profil yang dipahatkan dalam bangunan Padrna itu, nama Padma itu ada bermacam-macam.(AM)***

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: ………….EDISI 142 JUNI 1992, hlm. 2.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Lumajang, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s