Perajin Patung Trowulan


Sentra kerajinan patung dari bebatuan. gerabah maupun kuningan dan perak produksi Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokero, rupanya terimbas juga oleh puting beliung krlsis finansial global. Omzet parajin di kecamatan ini turun hingga 50%.

Maklum, sebagian besar pembelinya turis mancanegara yang berwisata di Indonesia khususnya di Pulau Bali. Karena turis yang berkunjung ke Bali menurun dan daya beli mereka juga menurun, maka jumlah pasokan patung ke Bali juga dikurangi” kata Ribut Samiono. Pengusaha yang juga perajin patung di Desa Jati Sumber, Trowulan.

Maklum. sekitar 90% produk mereka dipasarkan ke mancanegara via Bali. Sebagian besar negara pemasar produk patung Trowu!an yakni Jepang, Italia, Amerika Serikat, Australia, dan Belanda.

Sekarang , omzet turun sampai 50%. “Tapi, yang paling parah setelah terjadi bom Bali 1 Oklober 2002. Omzet turun sampai 80%, dan baru pulih 3 tahun kemudian,” kata Agus.

Sebelum krisis, rata-rata perbulan bisa mengirimkan patung hingga 200 buah. Kini tinggal 100 sampai 120 buah perbutan. Penurunan omzet ini tidak terlalu dirasakan perajin. Mereka paham naik turunnya omzet penjualan memang dipengaruhi pennintaan pembeli yang sebagian besar turis mancanegara.

Desa Watesumpak, TrowuIan adalah sentra industri perajin patung terbesar di Jatim. Tak kurang dari 70 sampai 80 unit usaha kerajinan patung dari balu hitam dan batu hijau beraktivitas di desa ini. “Saya menekuni usaha ini sejak tahun 1990,”  kata Adam Supardi.

Dengan bermodalkan dana dari kocek sendiri, mereka menjalankan aktivitas bisnisnya. Tak jarang, mereka mesti menggaransikan BPKB mobil atau sertifikat rumah untuk mendapatkan modal tambahan dari perbankan.

Selama ini, bisnis patung Trowulan dengan manca negara jarang dilakukan secara langsung, tapi melalui pedagang di Bali. “Saya setor ke Bali sebanyak empat truk patung per bulan. Setiap truk nilainya sekitar Rp 25 juta ,” kataAdam.

Oleh pedagang Bali, produk ini dijual dengan harga sangat  tinggi. Kenaikannya bisa mencapai 200% sampat 400%. padahal upah perajin patung paling banter Rp 100.000 perhari. “Dengan demikian yang mengeruk keuntungan besar adalah para pedagang dan perantara dari Bali,“ kata Agus.

Ada sebagian pembeli dari mancanegara yang langsung berhubungan dengan perajin di Trowulan.

Agus mengatakan, transaksi langsung itu biasanya dilakukan setelah pembeli berkunjung ke lokasi usahanya atau mengetahui via internet. Itupun masih terbatas, sekitar 10% dari nilai  transaksi secara keseluruhan.

Soal harga, karena patung mengutamakan aspek seni dan budaya, subjektivitas pembeli sangat menentukan tinggi rendahnya harga.

 

Bahan Baku

Hal lain yang kini menyulitkan perajin, minimnya ketersediaan bahan baku. Musim penghujan mempengaruhi kelancaran pasokan bahan baku. Jika musim kemarau pengam bilan batu mudah dilakukan karena medannya tidak licin dan tidak khawatir longsor.

Batu-batu hitam (andesit) atau batu hijau (Bali green) itu diperoleh dari Kabupaten Pacitan dan Trenggalek. Dua deerah di kawasan selatan dan barat Jatim itu dikenal memiliki bebatuan yang banyak ditemukan di kawasan pegunungan.

Di Kabupaten Pacitan. sekitar 80% wilayahnya merupakan daerah pegunungan yang menyimpan berbagai Janis bebatuan. Di tangan kreatif

perajin patung Trowulan, batu hitam dan batu hijau yang sangat keras itu “disulap” menjadi patung.

Ada model klasik, seperti patung Budha, Ganesha, Dewa Syiwa, Kendedes, Dewi Sri, Dewi Tara, Trimurti, dan lainnya.

Pahatan lain yang misalnya kolam air mancur dan gapura khas Jatim. Harga bahan baku patung itu tergolong mahal. Satu truk batu hitam Rp 1,5 juta dan batu hijau Rp 2 juta.  “ Kami membelinya dengan ukuran truk, bukan meter kubik atau satuan kilogram,· kata Agus.

Ciri khas patung Trowulan yakni sisi atau bagiannya tidak ada yang disambung dengan besi beton atau perekat semen. Patung itu pasti terbuat dari batu utuh.

Kalau pun sekarang menggunakan peralatan modem, itu hanya gergaji mesin sebagaimana dipakai tukang batu untuk memotong keramik. Ada banyak faktor yang menentukan nilai imbalan perajin patung, seperti besar kecilnya patung, pendek dan tingginya dan tingkat kerumitannya.

Biasanya, untuk ukuran patung dengan tinggi maksimal satu meter, perajin mendapat ongkos Rp 400 ribu sampai Rp 600 ribu. Patung besar bisa mencapai Rp 2 juta lebih. “Makin rumit, makin mahal. “kata Agus. (M Khoirul Rljal/W)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:POTENSI JAWATIMUR, EDISI 2, TAHUN IX/2009, hlm. 10

 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Mojokerto, Sentra dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s