‘Laras Madya’, Macapat Sawotratap Sidoarjo


Alunan tembang-tembang tengahan dan macapat yang diiringi kesenian Jawa asli ‘Laras Madya’, berkumandang di rumah Mbah Triman, Jl. Gajahmada 67 Sawotratap, setiap Jumat malam. Terdengar paduan irama kendang, terbang (rebana) dara, terbang kecil dan jidhor, ditimpali petikan siter atau gender, serta bunyi ritmis kemanak (dua kenong kecil yang bentuknya seperti pisang). Bunyi kemanak, “thing thong thing thek, … thing thong thing thek “. Itulah yang menjadi ciri khas laras madya.

Paguyuban “Mardika Laras” secara rutin mengadakan gladi laras madya seminggu sekali di Sawotratap. Selain kru Laras Madya yang memainkan perangkat orkestranya masing-masing, ada beberapa penembang, yang disebut para penggerong.

Dalam laras madya dikenal yang namanya bawa (bacanya Bowo), atau buka celuk. Bawa ini dilantunkan oleh satu orang saja, misalnya bawa sekar Kenya Kediri, tanpa diiringi peralatan musik. Bawa sebagai pambuka sebelum masuk ke gerong (tembang yang dibawakan bersama-sama).

Orang yang membawakan bawa ini lazimnya yang sudah matang dalam membawakan tembang. Setelah bawa selesai, barn dilanjutkan tembang bersama dan iringan alat musik. Tembang tembang laras madya yang dilantunkan banyak mengambil tembang macapat dari Serat Wulangreh dan Wedhatama, atau tembang shalawat. Untuk lagu pambuka dan panutup selalu menggunakan tembangan shalawat yang Islami.

Menurut Darmono, Staf Pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, laras madya itu sebenarnya orkestrasi di luar keraton. “Keraton dulu selalu memakai gamelan ageng, perangkatnya besar, dan memerlukan gending-gending yang besar. Pihak seniman, para penembang dan pengrawit dulu, menghendaki ada orkestrasi altematif, di luar keraton untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ujamya.

Karena masuk kerajaan tidak boleh, untuk menjawab kebutuhan masyarakat, muncul kesenian tradisional semacam cokekan, gadhon, laras madya, dan lainnya. Ini menjawab yang tidak rebyek, tanpa menggunakan banyak gamelan, dan praktis. Laras madya itu sebetulnya untuk mewadahi tembang-tembang yang bersifat ke-Islaman. Namun dikemas menjadi lokal jenius, kental dengan ke-Jawaan.

Sedang cokekan itu orkestrasi kecil, tetapi ada siter, gambang, gender, slenthem, dan gongnya gong bumbung. Kalau gadhon itu orkestrasi atau perangkat gamelan, tidak menggunakan bonang, dan kenong. Gong cuma satu, yang besar. Jadi peralatannya berkurang, hanya gender, gambang, siter, pukulan atau tepukan tangan dua.

Berbeda dengan laras madya, kalau swanti swara tidak memakai musik gamelan. Dia memakai rebana atau jidor, jumlahnya empat sampai dengan lima. Kendang, vokal, kemanak. Intinya kalau santi swara itu ada nafas ke-Islaman yang menyatu dengan kegunaan seni Jawa.

Laras Madya masih kental gamelannya, karena masih menggunakan gender, dithinthing (samakan nada). “Kalau swanti swara nggak ada thinthingan. Tinggi rendahnya bergantung pada kemampuan vokalnya. Tetap ada bawa, swara tunggal dan swara bersama atau koor, sarna-sarna ada,” kata Darmono.

Sejarah munculnya laras madya/swanti swara, lahir di Surakarta (Solo) pada zaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono IV. Sejak dulu sampai sekarang kesenian shalawatan laras madya ini hidup dan berkembang masih seperti aslinya. Nyanyian disampaikan dalam bahasa Jawa dan berisi nasehat ataupun petunju tentang kebajikan…

Dihubungi terpisah, Kwatiman, pelatih Paguyuba Mardika Laras, menjelaskan, laras madya itu gabungan antara seni Jawa dan seni Timur Tengah. Ada kendang, terbang kecil tiga, terbang dara, terbang besar serta kemanak… “Kemanak bentuknya seperti pisang, nadanya: enem (enam) dan pitu (tujuh). Nada enem mewakili laras pelog dan slendro,” ujarnya.

Karena munculnya laras madya dan swanti swara pada jaman Islam, cakepan-nya (syairnya) ada yang khusus wama Islam. Di daerah Mataram ada shalawat nabi atau shalawat muludan, ada shalawatan Jawa. Dalam perkembangannya laras madya campur dengan tembang-tembang macapat. Notasi gending dilakukan, yang dibukukan sekaligus diberi notasi, untuk para pelajar konservatori, yang sekarang menjadi SMKI.

Sementara itu Mardika Laras belum lama berdiri, yakni pada awal tahun 2010, yang bermula dari belajar macapat. Kebetulan bisa mewujudkan alat-alat laras madya, akhirnya juga mempelajari swanti swara. “Pelatihnya Pak Sono, yang dulu sekolahnya di SMKI, sudah membawa bukunya untuk tuntunan. Pak Sono menguasai betul tentang swanti swara dan laras madya, termasuk sepuluh pupuh macapat yang dilagukan menjadi gending laras madya,” kata Kwatiman.

Menurut Kwatiman, yang juga pelatih Mardika Laras, yang merintis laras madya di Surabaya pertama kalinya, Paguyuban Sutresno Macapat yang dipimpin Sunarto Timur(alm), berdiri sejak 1972. Pada akhirnya ada pemikiran Paguyuban Sutresno Macapat juga mempelajari Laras Madya. (eru)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi 44 Juni 2011

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Beranda, Kesenian, Seni Budaya, Sidoarjo dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s