Dongeng, Gending, Tembang dan Dolanan


Dongeng, dolanan serta berbagai amal kuitural yang dulu lekat dengan dunia anak-anak perlahan-lahan mulai sirna. Upaya pelestariannya harus dilakukan, karena media terse but sangat berfungsi untuk menumbuhkan sikap yang sesuai dengan kepribadian bangsa kita.

Bapak-bapak atau ibu-ibu yang kini berusia empat puluh atau lima puluhan, yang pada masa kanaknya tinggal di desa, pasti pernah mendengar nyanyian Tembang Dolanan Bocah berikut ini:

padang-padang bulan
ayo gage do dolanan
dolanane naning latar
ngalap padang gilar-gilar
nundung begog hangalikar …

Bapak dan ibu-ibu juga pasti masih ingat, bahwa pada setiap malam padang bulan banyak anak-anak yang menjawab seruan dalam  tembang tersebut dengan bermain jelungan atau jumpritan: beberapa orang anak berkumpul di halaman, atau entah di mana saja di tempat terbuka.

Mereka melakukan hompimpa, kemudian dilanjutkan dengan sut oleh dua orang yang kalah dalam hompimpa. Nah, yang kalah dalam sut  berarti harus jadi pemburu, sedangkan semua yang menang menjadi buron dalam arti positip.

Seorang pemburu statusnya bisa naik menjadi buron apabila dia berhasil ngenekno buruannya meskipun hanya dengan njawil sak slit. Tetapi, dalam perburuan itu ada aturan mainnya. Seorang buron tidak boleh diganggu gugat bila dia telah berpegang pada jitungan, yaitu sebuah pohon -atau entah apa saja- yang telah disepakati sebagai penclokan bagi para buron.

Tembang dan minan tersebut memang mainan untuk anak-anak usia SD. Karena sifatnya memang mainan, tak ada sangsinya bagi anak-anak yang tidak mengikutinya. Tetapi, semua anak pasti suka terhadap mainan atau dolanan tersebut. Dan, meskipun hanya dolanan, orang tua yang arif pasti menyuruh anaknya untuk mengikuti permainan tersebut. Paling tidak pada saat malam terang bulan mereka  mengajak anaknya ke halaman untuk menikmati indahnya malam pada saat sang rembulan bersinar purnama.

Kecuali orang-orang yang hatinya membatu, dengan menikmati indahnya sinar rembulan seseorang akan merasa teringat terhadap ke-Mahaagung-an dan ke-Mahabesar-an Allah. Atau, setidak-tidaknya mereka lega, karena malam tidak terus-menerus dalam keadaan gelap gulita. Dari kelegaan itu pasti kemudian tumbuh rasa syukur, dan dari rasa syukur itu timbul rasa eling atau ingat kepada Allah.

Karena yang menciptakan tembang tersebut adalah Waliyullah Sunan Giri, maka di dalamnya terkandung misi keIslaman. Maksud yang terkandung di dalam tembang tersebut ialah suatu pengingat bagi umat manusia bahwa agama Islam telah datang untuk memberi penerang hidup. Karena itu, marilah segera menuntut penghidupan dimuka bumi untuk mengambil manfaat ilmu agama Islam, agar segala kebodohan diri segera hilang.

Sedangkan di dalam jumpritan terkandung maksud bahwa apabila seseorang bahwa apa bila seseorang telah memiliki pegangan iman kepada Allah, maka dia akan selamat dari ancaman iblis.

Bapak-bapak atau ibu-ibu yang arif pasti merasa ada sesuatu yang hilang dari bagian kehidupannya, karena tembang serta dolanan tersebut telah lama lenyap dari lingkaran dunia anak-anak Indonesia (Jawa). Di tengah-tengah kehidupan anakanak kita sekarang memang banyak bermunculan nyanyian dan permainan-permainan baru. Tetapi, nilai edukatifnya sangat rendah, karena yang melatarbelakangi proses kreatifnya motivasi materi.

Hilangnya tembang serta dolanan tersebut adalah simbol dari memudarnya budaya-budaya dasar bangsa kita, karena terdesak oleh derasnya arus budaya asing yang kian gencar menyerbu wilayah kehidupan lahir batin kita. Sangat banyak budaya dan berbagai amal kultural kita yang hilang, salah satu di antaranya adalah dongeng.

Dongeng adalah bagian dari system pelaksanaan pendidikan yang sangat efektif. Melalui dongeng, seorang ibu atau bapak bisa membentuk karakter …. memasukkan doktrin, menanamkan akhlak, menumbuhkan keberanian, atau menumbuhkan semangat patriotisme, atau apa saja yang diinginkan orang tua terhadap anaknya. Sebutlah dongeng Si Kancil yang legendaris itu. Dengan mendongengkan Si Kancil, kita bisa menanamkan berbagai nilai dan sikap pada anak-anak kita.

Tetapi, betapa amat bodohnya kita, dongeng yang begitu efektif kita lupakan begitu saja. Anak-anak kita memang tidak akan kesepian tanpa mendengar dongeng, karena sepanjang hari mereka bisa menyaksikan film-film di televisi, mulai si hantu Casper sampai Ksatria Baja Hitam atau MacGyver. Tetapi, kita harus ingat bahwa film-film tersebut juga menimbulkan pengaruh buruk terhadap perkembangan jiwa anak-anak kita. MacGyver memang seorang hero yang selalu tampil pada saat-saat krisis. Namun ada bagian dari film-film tersebut yang bisa membangkitkan sifat destruktif pada anak-anak kita.

Kita harus tahu bahwa di dalam tembang, dolanan serta dongcng yang telah hilang itu terkandung maksud upaya penanaman nilai budaya bangsa kita yang identik dengan sifat-sifat atau budi pekerti yang luhur, alias akhlakul karimah.

Berbagai perubahan serta produk-produk pemikiran baru yang mengalir dari negara-negara barat memang harus kita terima, tapi harus disaring untuk diambil nilai baiknya saja. Anak-anak kita harus dipacu kreatifitasnya. Kedisiplinan serta etos kerjanya harus ditingkatkan. Mereka harus bisa berpikir dan berkreasi seperti orang-orang barat. Tetapi harus tetap berbudi pekerti luhur, yang Pancasilais religius.

Dalam hal ini mbah buyut kita jauh-jauh hari sudah mengingatkan. Melalui dunia pewayangan mereka menghadirkan tokoh Gatutkaca. Meskipun bisa terbang ke langit, Gatutkaca tetap Gatutkaca yang rnukanya selalu merunduk dan tawadhu’. Kita harus mencari ilmu sampai sundul langit, tapi harus tetap berkepribadian Indonesia.

Terjadinya krisis wawasan kebangsaan yang beberapa waktu lalu diributkan, salah satu faktor penyebabnya adalah karena kelengahan kita dalam mempertahankan sistem-sistem pendidikan atau pola-pola kehidupan yang khas Indonesia.

Anak-anak boleh bermain jazz atau rock. Tapi mereka juga harus diarahkan untuk mencintai gending, karena irama dalam gending bisa membangkitkan rasa andap asor, guyub, dinamis tapi tidak grusa-grusu.

 Sekali lagi, rasio kita harus dipacu agar kita bisa berkreasi seperti orang-orang barat. Tapi roso kita harus tetap rosa Indonesia, dan itu bisa dipertahankan melalui dongeng, tembang, gending serta berbagai amal kultural yang diwariskan oleh para leluhur kita.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: GEMA DELTA, AGUSTUS 1994, hlm. 39.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Seni Budaya, Sidoarjo dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Dongeng, Gending, Tembang dan Dolanan

  1. joypujakesuma berkata:

    walau lagu begitu sederhana namun maknanya dalam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s