Kelurahan Bangkingan


Kelurahan Bangkingan, Kec. Lakarsantri
Desa di seberang Hutan Beton

Tidak setiap jengkal tanah di Kota Surabaya selalu berwajah metropolis yang dipenuhi hutan-hutan beton yang angkuh tak berpeluh.  Ya, datanglah ke Kelurahan Bangkingan, Kec. Kakarsantri, Kota Surabaya. Wilayah itu masih bernuansa desa yang sarat rumpun pohon bambu, persawahan, dan tegalan yang hijau menyegarkan mata. Tak jarang angin segar menyentuh kulit yang terbakar terik matahari. Terletak di pinggiran Kota Surabaya dan agak berliku bisa sampai di sana. Dari arah Selatan (Karangpilang dan Taman Sidoarjo) dapat dicapai melalui Jl. Mas TRIP masuk ke kiri Jl. Kebraon II, lalu ke arah barat menyusuri Jl. Balas Klumprik – Jl. Sumur Welut, dan masuk di wilayah Kelurahan Bangkingan. Bila ditempuh dari Utara, melewati Rolak Gunungsari ke Selatan, dan ke barat ke arah barat Jl. Raya Menganti, tapi sampai di Jl. Lidah Kulon belok ke Selatan sampai perempatan belok ke kiri (timur) melewati Jl. Bangkingan. Wilayah Kelurahan Berhimpitan langsung dengan desa-desa di Kecamatan  Menganti Gresik.

Sepanjang Jl. Balas Klumprik hingga Jl. Bangkingan kondisi jalan cukup mulus. Memasuki Desa Sumur Welut terlihat telaga kecil di kiri jalan. Sedangkan di kanan jalan (arah utara), di balik pemukiman warga asli Bangkingan tampak hamparan sawah. Dari kejauhan menjulang gedung bertingkat di kawasan Graha Famili, yang melatar-belakangi panorama alam pedesaan yang indah di wilayah itu. Luas Kel. Bangkingan sekitar 276.209,3 m2, yang meliputi tiga dusun, yakni Dusun Karangploso, Bangkingan, dan Dusun Telaga Tanjung. Mayoritas penduduk adalah petani. Selain sawah dan pemukiman, di Kel. Bangkingan terdapat dua perumahan, yakni Wisma. Lidah Kulon (RW IV) dan Asrama Polisi (RW IV). Penduduk asli Kel. Bangkingan masih mempertahankan tradisi bersih desa, seperti Ruwatan Desa yang juga disebut Upcara Sedekah Bumi. Setiap dusun memiliki petilasan sendiri. Pasarean Eyang Suci Gusti Wongso Negoro di RW II Karangploso, di RW I Bangkingan ada Makam Eyang Aji Soko.

“Yang di RW III Telaga Tanjung saya nggak tahu namanya siapa. Yang mengetahui siapa tokoh yang babat desa ketiga dusun itu ya masyarakat asli sini,” kata Iwan Achmadi, Kasi Fisik dan Prasarana Kel. Bangkingan. Menurut Iwan Acmadi, setiap triwulan mendapat dana dari APBD dari Kota Surabaya sebesar Rp 4 juta. Kelura han ini, katanya, juga pernah mendapat proyek PNPM pavingisasi dana dari pusat. Proyek PNPM selanjutnya anggarannya masih dalam kalkulasi. Saat ditanya soal dana Rp 25 juta untuk Koperasi Wanita, Iwan mengatakan, Koperasi Wanita sudah terbentuk dengan anggota 20 orang. Namun soal dananya sudah turun atau belum, ia belum tahu. Ketuanya belum konfirmasi. Pemerintahan Kel. Bangkingan memiliki delapan orang pegawai, yang terdiri dari Lurah Ny. Sri Lestari, dibantu Sekretaris Kelurahan, dan tiga orang Kepala Seksi (Kasi Pemerintahan, Kasi Fisik dan Prasarana, Kasi Kesra). Selain itu, ada juga tiga petugas honorer lokal. Puskesmas Pembantu berada Dusun Karangploso (RW II) dan induknya ikut Puskesmas Lidah Kulon.

Salah satu petilasan di Kelurahan Bangkingan adalah Pasarean Eyang Suci Gusti Wongso Negoro di Pedukuhan Sidrejo, Dusun Karang Ploso. Juru kunci makam Sumali, menjelaskan, Eyang Suci Gusti Wongso Negoro adalah orang yang babat alas Dusun Karangploso berasal dari Mentaok, Jawa Tengah. Banyak peziarah yang dataang terutama setiap Rebo Legi (malam Kamis Pahing) bertepatan dengan meninggalnya Wongso Negoro. Di kompleks makam ini juga ada makam Eyang Suryo dan Eyang Murko, tangan kanan Wongso Negoro. Untuk mengenang perjuangan Wongso Negoro setiap setahun sekali diadakan ruwatan desa atau sedekah bumi di makam tersebut. Setelah panen, diadakan bersih desa pada bulan Juni tanggal muda. Yang menarik, pada acara sedekah bumi lazimnya menanggap wayang kulit Jawa Timuran (jek dong), yang sindennya harus bencong (waria).

Pantangan siden wanita pernah dilanggar, akibatnya yang punya hajat mengalami musibah. Sejak saat itu, wayangan sedekah bumi menggunakan sinden bencong. Biaya sedekah bumi di makam Wongso Negoro, hasil gotong royong warga kampung. Belum pernah ada pihak sponsor. Biaya nanggap wayang kulit jek dong, tergantung dalangya. Rata-rata Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Para peziarah datang dari berbagai daerah, berdoa menurut keyakinan masing-masing. Kalau orang Islam tahlilan, kalau orang Kejawen ya semedi. “Niatnya sesuai kepentingan mereka sendiri-sendiri, ada yang bilang maksudnya ada yang tidak,” kata Sumali. Salah seorang peziarah, Kandar (68), dari Tambaksegaran Surabaya mengaku barn sekali ini tetirah di makam Wongso Negoro.

Ketua RT 02 RW II Karangploso, menjelaskan, mayoritas penduduk Bangkingan petani. Sedang kerajinan khas Dusun Karang Ploso membuat uleg-uleg dari blungki (bonggol bambu). Djaelani sendiri merintis usaha pengrajin sandal wanita (selop). Sandal produksi home industri Djaelani rata-rata seminggu 15 kodi (per kodi 20 pasang). Tergantung pesanan pedagang sandal wanita di Pasar Turi,” ujarnya. Djaelani mempekerjakan tiga orang dengan sistem borongan. Sepasang sandal wanita dijual Rp 16 ribu, sedang di Pasar Turi dijual Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Bahan dari plastik untuk sol-nya, bagian atas selop semacam rajutan benang. Membanjirnya sandal China tak begitu berpengaruh terhadap usahanya, karena tergantung pesanan pedagang Pasar Turi tadi.

Terdesak Perumahan
Di Dusun Bangkingan ada petilasan yang lebih tua ketimbang makam Wongso Negoro, yakni Pasarean Eyang Adji Soko. Namun pengunjungnya tak sebanyak yang datang ke makam Wongso Negoro.  Menurut Sutadi (45), paranormal Dusun Bangkingan yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Gober ini, nama asli Adji Soko adalah Sukmo Adji asal pesisir Banyuwangi. Ia cikal bakal dan yang babat alas Bangkingan, bersama Buyut Kasa, Buyut Rabu, Buyut Engos, dan Buyut Maduro. Seperti halnya di Karang Ploso, sedekah bumi juga diadakan setiap tahun di Bangkingan. Sedekah bumi di makam Eyang Adji Soko, bukan wayangan tetapi dengan tandakan dan ludruk. Pakai perempuan asli. Sutadi mengatakan, sekarang ini di Desa Bangkingan banyak orang jadi pengangguran ketimbang petani.

Sehari-harinya penduduk asli Bangkingan mencari pekerjaan di luar, sebagai tukang batu atau kuli batu. Salah satu penyebab banyak pengangguran atau kuli bangunan yang bekerja di luar Bangkingan, karena banyak lahan pertanian sudah dijual kepada PT-PT.  Akibatnya banyak petani alih ‘profesi’ menjadi tukang dan kuli bangunan, atau menggarap jalan paving/aspal. Tukang bangunan rumah yang terkenal Bangkingan, lebih bagus dan rapi, walaupun agak mahal. Upah untuk tukang Rp 75 perhari, kalau kuli Rp 40 ribu atau Rp 50 ribu. Ada juga yang bekerja membuat dekorasi taman. (eru)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXXI Mei 2010

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kelurahan Bangkingan

  1. dwi netralizme berkata:

    terimakasih telah mengposting tempat tinggal saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s