Makam Sunan Sendang Duwur (2)


Mendapat Gelar dari Sunan Drajat

SUNAN Sendang Duwur, nama kecilnya adalah R Nur Rahmat. Dalam sejarah tertulis, dilahirkan pad a tahun 1442 tahun Saka atau 920 Hijriah. Bertepatan tah,un 1520  Masehi, dari pasangan Abdul Qohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari negeri Bagdad (Iraq) dengan Dewi Sukarsih, putri Tumenggung Joyo Sasmitro. YakniTumenggung Sedayu saat itu. Menurut Ali Qosyim, juru kunci makam, berdasar sejarah turun-temurun yang diketahuinya, Abdul Qobar sendiri adalah anak yang kurang taat kepada orang tuanya. Ia diusik dari rumah. Lalu pergi tanpa arah dan berlayar menggunakan perabu, terdampar di pelabuban Sedayu.

Saat itu bertepatan waktu Ashar. Kebetulan, Tumenggung Joyo Sasrnitro sedang menikmati keindahan pantai. Setelah ditanya berbagai hal, akhirnya diajak pulang. Karena ketertarikannya, menilai Abdul Qohar bertingkah laku bajk dan berakhlaq mulia ketika mengabdi-karena ketika dalam pengembaraannya akhirnya tobat akhirnya Tumenggung Joyo Sasmitro mengawinkannya dengan putrinya  yang bernama Dewi Sukarsib. Kejayaan suatu kekuasaan masa itu jarang yang abadi.

Seperti juga balnya Tumenggung Sedayu. Wafatnya Tumenggung Joyo  Sasrnitro karena dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Yakni Indro Suwarno, seorang putra Sultan Sambas (Kalimantan). “Gara-garanya Indro Suwarno ditolak pinangannya, untuk memperisti putri Tumenggung Sedayu bemama Dewi Turon Tangis,” tutur Ali Qosim. Sering, balas dendam adalah kebiasaan yang berlaku padazaman itu. Ujung cerita, Ali Qosim menyingkat ceritanya, juga melibatkan Ronggolawe, putra

Tumenggung Tuban, yang terbilang masih saudara Tumenggung Joyo Sasmitro. Indro Suwarno berhasil dibunuh Ronggolawe. Balas dendam terus berlanjut. Tumenggung Sedayu yang akhirnya dikuasai Ronggolawe tak luput dengan gejolak yang akhirnya menjadi porak poranda. Ronggolawe kembali ke Tuban, sedang  Abdul  Qohar wafat. Saat terjadi gejolak itulah akhirnya R Nur Rahmat diboyong ibunya ke Dukuh Tunon, Sendang Agung. Di tempat baru inilah, selain dididik bertani, R Nur Rahmat menekuni ajaran Islam, juga ilmu pemerintahan. Waktu terus berjalan. Karena dipandang sudah dewasa dan mempunyai ilmu yang bisa diamalkan, akhirnya R Nur Rahmat ditinggalkan ibunya kembali ke Desa Sedayu, dimana desa tersebut sebagai tempat,  ibunya wafat.

R. Nur Rahmat kian terkenal. Selain santrinya makin banyak, ia juga dikenal bukan saja sebagai ahli pertanian, tapi juga kesaktiannya. Berita tentang itu akhirnya terdengar oleh Sunan Drajat, yang akhirnya menggugah niatnya untuk menemuinya. Selain ingin bersilaturahmi, Sunan Drajat sebenarnya juga ingin membuktikan berita tentang doyo linuwih R. Nur Rahmat. ” Saat berkunjung itu, meski sepertinya dilakukan timpa kesengajaan, sering terjadi adu kesaktian antara keduanya,” tutur Ali Qosyim, melanjutkan ceritanya.

Seperti ketika tiba ke Dukuh Tunon, Sunan Drajat yang saat itu merasa kehausan, meminta diambilkan legen. Karena Ki Abdul Wahab, abdinya, sedang sibuk dengan keperluannya, akhimya Sunan Drajat minta izin untuk mengambil sendiri. Lantas Sunan Drajat memilih pohon siwalan yang besar dan ban yak buahnya. Lalu ditepuknya tiga kali, seketika itu juga buah siwalan · berjatuhan semua tanpa tersisa. Melihat itu, Sunan Drajat ditegur R Nur Rahmat. Alasannya, dengan cara itu anak cucu nantinya tidak akan kebagian.

Kemudian R Nur Rahmat memilih pohon yang sarna besarnya. Lantas di usapnya tiga kali juga, atas izin Allah, pohon siwalan itu bisa melengkung ke hadapan Sunan Drajat. Lalu Sunan Drajat dipersilahkan untuk mengambil sendiri mana yang diinginkan. Legen atau buah siwalannya. Tidak itu saja. Kesaktian R Nur Rahmat terlihat ketika mengantar Sunan Drajat pulang. Ketika di tengah perjalanan, antara Desa Sendang dan Drajat, Sunan Drajat mengajak istirahat. Saat istirahat itu, Sunan Drajat melihat tanaman wilus (ubi-ubian) dan ingin memakannya. Beberapa abdinya dipenrintahkan mencabut dan memasaknya. Karena umbinya besar diperintahkan oleh Sunan Drajat untuk tidak semua. Yang separo biar dibawa pulang.  Abdi Sunan Drajat sibuk mempersiapkan apa yang dikehendaki sesuhunannya. Melihat itu lagi-lagi  R Nur Rahmat minta izin untuk memberikan pertolongannya, yang sebelumnya mengatakan apa yang dilakukan para abdi  itu terlalu lama. Apalagi untuk membuat api saat ia harus menggesek-gesek batu. Akhirnya setelah diizinkan,wilus yang sudah dicabut itu dikembalikan oleh R Nur Rahmat ke tempat semula, tapi tidak berapa lama kemudian dicabutnya kembali. Suatu kejadian yang luar  biasa. Wilus keluar sudah dalam keadaan masak separo dan mentah separo, sesuai apa yang diharapkan Sunan Drajat.

Melihat hal itu, Sunan Drajat menjadi kagum sehingga nafasnya terengah. Saat itu juga Sunan Drajat mengakui dan mengatakan dengan jujur, bahwa R. Nur Rahmat, meski usianya jauh lebih muda darinya, adalah seorang pemuda yang sangat pandai.  Sunan Drajat mengatakan,  “meskipun usia saya lebih tua. tapi kepandaianku, masih lebih muda dibanding kepandaiamnu,” tutur Ali Qosyim, menirukan cerita yang didapatnya. Sejak saat itu jugalah, akhirnya Sunan Drajat memberikan gelar kepada R Nur Rahmat menjadi Sunan Sendang. Akhirnya menjadi Sunan Sendang Duwur, karena tempatnya di duwur ( tinggi). (imron rosidi)

 

 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Lamongan, Sejarah, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s