Makam Sunan Sendang Duwur (3)


Penyebaran Agama Islam di Paciran

USAI berkunjungnya Sunan Drajat ke pesanggrahan R. Nur Rahmat, banyak perubahan besar dalam perkembangan ajaran Agama Islam di wilayah pantura, khususnya paciran. Berkat jalinan akrab dan perjuangan antar dua tokoh ini, hingga kini bukti-buti itu bisa dipertanggungjawabkan.bahkan boleh dikatakan ajaran Islam kian berkembang pesat. Bisa dibilang, hampir seluruh pantura Lamongan mayoritas memeluk agama Islam.

Pernah dikatakan KH Abdul Ghofur, Pimpinan Ponpes Sunan Drajat, umat Islam terbesar di  lndonesia ini Letaknya di Paciran. Bagaimana tidak Islam terbesar di Indonesia itu ada di Jawa Timur. Sedang terbesar di Jawa Timur itu adalah Paciran, ” katanya Landasan KH Abdul Ghofur, yang masih . tercatat ahli waris Sunan Drajat ini, bahwa Paciran yang hanya sebuah kecamatan, tapi banyak berjejer pondok pesantren ataupun tempat-tempat pendidikan Islam lainnya. Mulai dari tingkat kanak- kanak  hingga perguruan tinggi.

Data Agustus1993 menyebutkan, dari jumlah penduduk 71.754 orang, hanya 39 orang yang non Islam. Terdapat 49 masjid, 203 mushola, 58 Madrasyah Ibtidaiyah, 24 Tsanamiyah, 8 Aliyah, 2 Perguruan Tinggi Islam dan 8 pondok pesantren.

Kemashuran serta kejayaan Islam di Paciran pada masa kedua sunan saat itu, menurut cerita KH. Abdul Ghofur tidak lepas dari pemikiran Sunan Drajat. Dikatakan, bahwa untuk megembangkan Islam di Paciran saat itu harus diatur strategi adanya peridirian-pendirian tempat-tempat ibadah.

Sesuai “petunjuk” yang diperoleh Sunan Drajat, salah satunya harus menempati sudut-sudut wilayah. Tepatnya, di Desa Sendang, dimana Sunan Sendang Duwur bermukim. Memang sebuah masjid akhirnya berdiri.

Kisah pendiriannya, Ali Qosyim, juru kunci makam Sunan Sendang Duwur menceritakan, sejak R. Nur Rahmat duberi gelar dengan sebutan Sunan Sendang oleh Sunan Drajat untuk mendirikan sebuah masjid di Desa  Sendang. Sunan Sendang Duwur diperitahn pergi ke Mantingan untuk membeli langgar milik Mbok Rondo Mantingan.

Saat itu juga Sunan Sendang Duwur berangkat menuju Mantingan,  Namun gagal, ketika tiba di Mantingan ia diabaikan oleh Mbok Rondo Mantingan tanpa tegur sapa. Meski dengan penuh kesabaran menuuggu dan akhirnya memang ditemui olen Mbok Rondo Mantingan, tapi dikatakan bahwa langgarnya tidak dijual kepada siapapun. Dengan hati sedih, Sunan Sendang Duwur pulang dengan tangan hampa.

Sepulang dari kegagalan itu akhirnya Sunan Sendang Duwur sering bersemedi. Di salah satu semedinya di puncak Gunung Pamerangan, ia merasa didatangi dan dibangunkan Sunan Kalijogo. “ Sunan Sendang Duwur diperintah oleh sunan Kalijogo untuk kembali lagi ke Mantingan,” tutur ali Qosyim. (imron r)

 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Lamongan, Sejarah, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s