Kuntulan, Kabupaten Banyuwangi


KESENIAN KUNTULAN

Kesenian bernafaskan Islam yaitu merupakan jenis kesenian yang bersumberkan agama, dimana dalam penyajiannya menitik beratkan pada nilai-nilai keagamaan, selain identik membawakan lagu-Iagu Islami serta alat musik sebagai sarana iringannya dapat dipastikan menggunakan unsur alat musik non nada atau perkusi, biasa disebut terbang atau rebana pada umumnya,

Masyarakat Using Banyuwangi byak memiliki jenis kesenian bernuansa islami salah satunya yaitu Kuntulan. Seni bernafaskan Islam dalam penyajiannya cenderung membawakan lagu-lagu berbahasa Arab yang diambil dari cuplikan kitab suci Al-Qur’an

Kuntulan berasal dari sebuah kata Kuntul yang mendapat akhiran an. Kuntul artinya burung yang memiliki bulu berwarna putih dan dapat dijumpai di area persawahan pada musim cocok tanam, sehingga kuntulan jika dilihat dari kostum yang dikenakan rudad sebagai penarinya yaitu berwarna putihputih atau menggambarkan kesucian dengan gerakan kepala kedepankebelakang menggambarkan gerak kepala orang tatkala dzikiran, disertai posisi kedua tangan berada di depan dada menyerupai cucuk dari burung

kuntul itu sendiri yang menggambarkan sikap tangan orang melakukan sholat dan langkah kaki bertati-tati yaitu tidak bedanya dengan jalannya burung kuntul yang menggambarkan orang tatkala masuk ke masjid sesudah berwudlu. Dilain sisi kuntulan dapat diartikan kuntu dan laila, artinya kuntu yaitu kesenian ada pun laila malam jadi kuntulan artinya kesenian malam. Tidak hanya kunlulan sebagai kesenian malam di Banyuwangi,.tetapi masih ada gandrung, Rengganis, Pacul Gowang dan seterusnya. Jika dilihat dari jenis keseniannya yaitu seni bernuansa Islam suk.u kata Kuntu dan laila tidak mempunyai makna kuat yang dapat memberikan nilai khusus pada arti thema dari pada kuntulan itu sendiri. Kesenian kuntulan berawal dari sebuah kesenian hadrah yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Using dalam penyajiannya menitikberatkan pada gerak dan lagu Islami (Mbah Basri :1969) tetapi sedikit ada perbedaan dengan hadrah yaitu di antaranya gerakan selewah, pencakan, menari sendiri secara bergantian serta sedikit terdapat garap komposisi berdiri dalam formasi gerakannya, adapun lagu-Iagu yang dibawakan selain mengambil dari kitab Berjanji serta dimasukannya lagu-lagu dzikiran atau syi’iran dengan gaya cengkok lagu Banyuwangian yang dulunya dilakukan oleh seorang penari laki-Iaki dalam perkembangannya menggunakan peraga penari wanita. Gaya pukulan timpal terbangannya selain jos, yahum dan tirim serta terdapat gaya-gaya pukulan terbangan baru diantaranya tirim ginjoan/pencakan, gebyaran, saitan, terbangan melaku dan seterusnya yang dikembangkan berdasarkan kreatifitas seniman penatanya. Kesenian kuntulan dalam pertunjukannya selalu berpasangan atau biasa disebut caruk yaitu artinya bertemu dengan group kuntulan yang lain, sehingga setiap penyajiannya masing-masing group kuntulan memiliki variasi pukulan terbangan sendiri serta gerakan dan lagu-Iagu yang berbeda agar memiliki perbedaan dengan penampilan lawan mainnya. Penuli: Sunardi/Editor: Luwar, M. Sn

 

SENI TABUH TERBANGAN BANYUWANGI, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur UPT Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Th. …hlm, 13

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s