Kerajinan Enceng Gondok



Kerajinan Enceng Gondok,  Penyakit Itu Kini Merambah Amerika dan Jepang

Enceng gondok, tanaman yang dibenci masyarakat itu, di tangan Julita bisa menjadi barang kerajinan yang cantik dan berharga.

Enceng gondok (Eichornia crassiper). Hampir semua orang tahu gulma air ini. Di mana ada wilayah air yang terlantar, entah itu sungai, waduk, danau atau rawarawa, pastilah di situ tumbuh enceng gondok. Saking populemya tanaman satu ini, sampai-sampai di Thailand dijuluki praktob java alias peilyakit dari Jawa. Tanaman satu ini memang sangat cepat penyebarannya. Bayangkan, hanya dalam tempo 52 hari ia mampu menghasilkan tanaman  baru seluas 1 m2.

Tanaman aslikah enceng gondok ini? Tidak. Diperkirakan tanaman yang berasal dari Brasil ini masuk Indonesia tahun 1894. Mulanya untuk melengkapi koleksi Kebun Raya Bogor.  Entah bagaimana ceritanya, hanya dalam waktu 108 tahun saja enceng gondok sudah menyebar ke mana-mana di wilayah Indonesia ini. Seolah sulit dibasmi. Pendeknya, kini enceng gondok rpenjadi musuh utama masyarakat, karena keberadaannya kerap mengganggu.

Ketika banyak orang memusuhi enceng gondok, tidak demikian dengan Julita Joylita Wahyu. Warga Wisma Kebraon Surabaya inijustru jatuh hati pada enceng gondok. Saking jatuh cintanya, sampaisampai, ketika mendengar mahasiswa ITS menemukan alat pembasmi enceng gondok, dengan gundah ia mengatakan, “Jangan dibasmi!”.

Bagitu lulita, enceng gondok adalah tanaman tempat ia menumpahkan segala kreatiyitasnya. Hari-harinya seakan tidak terlepas dari enceng gondok. Ketika orang berusaha menyingkirkan enceng gondok, maka lulita berusaha memanfaatkannya untuk barang kerajinan. Maka, kemudian dari tangannya lahirlah sekitar 500 item kerajinan dengan bahan baku utama enceng gondok. Mulai dari alas cawan hingga topi, dari tikar hingga kursi, dari tas hingga bantal.

Dan, kerajinan enceng gondok yang kemudian diberinya label loelita lulita Water Hyacint ini tidak saja dipasarkan dalam negeri, namun juga memenuhi pesanan dari luar negeri. Sampai saat ini kerajinan produk lulita telah merambah ke Jepang, Italia dan Amerika Serikat. Kadang-kadang pesanan dari luar negeri cukup besar sehingga lulita sering kewalahan.

Tetapi lebih dari itu, kerajinan dari eceng gondok ini juga bisa menjadi lapangan pekerjaan, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga. Dalam kondisi yang stabil lulita melibatkan sekitar 300 pekerja. Mereka terse bar di antaranya di Benowo, Kebraon dan Lidah Kulon. lulita membagi dalam kelompokkelompok, di mana masing-masing kelompok terdiri atas 40 orang.


Bermula dari Iseng
Ketertarikan lulita dengan enceng gondok sebenarnya belum lama, yaitu tahun 1996. Ketika itu lolita barn pindah dru; Malang ke Surabaya. Dalam satu kesempatan lulita jalan-jalan dan melihat enceng gondok hampir di semua sungai. “Pemandangan serupa jarang saya lihat di Malang. Saya benar-benar  heran melihat enceng gondok sebegitu banyak. Dari situ saya tertarik untuk memanfaatkannya,” ujarnya. Sejak itu Julita terobsesi untuk mengotak-atik enceng gondok, terlebih di dekat rumahnya terdapat waduk yang penuh enceng gondok.

Kala itu Julita sarna sekali tidak mempunyai pengetahuan soal enceng gondok, terlebih ilmu morfologi. Namun nalurinya sebagai wanita, ditunjang kesenangannya mengerjakan kerajinan sejak SMP, mendorongnya untuk menjadikan enceng gondok sebagai bahan baku. Mula-mula Julita mengambil sebatang enceng gondok, lalu dikeringkan, setelah itu ia mencoba mengotak-atik. Maka kemudian jadilah sarung banta! dan kotakkecil.

“Waktu iru saya tidak terpikir apa-apa, misalnya rrie-njadikan industri kecil. Waktu itu saya sedang gemar-gemarnya membuat kerajinan dari kain perea, dan saya ingin mendapatkan pengetahuan baru lagi, yaitu dari enceng gondok. Pokokoya yang terpikir waktu itu hanya kepuasan batin, itu saja,” kata wanita kelahiran Malang 19 April 1969 ini.

Ternyata dari iseng-iseng itu lulita menemukan keasyikan tersendiri , sampai akhirnya menekuni secara serius. Maka sejak itu, didukung kemampuannya mendesain, Julita menghasilkan banyak barang kerajinan dari enceng gondok. Sedikit demi sedikit pesanan datang. “Mulanya tetangga melihat, kemudian informasi menyebar ke mana-mana,” kata lulusan SMA ini.

Problem Musim Hujan
Diceritakan oleh Julita, dia tidak pernah mengalami kesulitan memperoleh bahan baku, terlebih di dekat rumahnya terdapat waduk yang penuh enceng gondok. Untuk mendapatkannya JuJita membeli dari kuli angkat enceng gondok secara borongan. Per 1 kg enceng gondok basah dibelinya dengan harga Rp 200. Kadang dalam sehari Julita membutuhkan antara 300 sampai 500 kg eneeng gondok basah. “Seratus kilogram eneeng gondok basah kalau dikeringkan menyusut jadi 20 kg,” katanya.

Lanta eneeng gondok basah itu dikeringkan selama 7 sampai 10 hari. Untuk proses pen gering an ini Julita menugaskan orang khusus, yang tugas utamanya membolakbalik, dengan imbaJan Rp 20 ribu per hari. Para pekerja ini juga bertangg ung jawab pada pengangkutan. Problem akan muneul kalau musim penghujan. Jika sudah begitu, maka segala akti vitas dihentikan. Memang pernah mencoba oven atau alat pengering, tapi hasilnya tidak optimal sebagaimana pengeringan melalui matahari.

Yang paling dibutuhkan Julita dari eneeng gondok adalah tangkainya. Setelah kering tangkai berisi serat yang kuat dan lemas ini dipotong dan diserut tipis-tipis, untuk kemudian dianyam untuk bermaeam-macam kerajinan. Lalu dikemanakan daunnya? Daun eneeng gondok bisa dimanfaatkan untuk bahan baku kertas, bunga kering dan pupuk. ‘Tak ada yang tidak bisa dimanfaatkan dari enceng gondok,” kata wanita yang telah m ngajari kerajinan dari enceng gondok kepada 3000 orang ini.

Barang kerajinan pI’ duksi Joelita Julita Water Hyacinth dijual dengan harga yang variatif. Misalkan saja selembar tikar ukuran 3 x 2 yang sudah dimodifikasi seharga Rp 500 ribu, tas masingmasing Rp 15.000, Rp 40.000, Rp 60.000, alas cawan Rp 1.500/biji, sarung bantal Rp 40.000. Yang membedakan barang kerajinan Julita dengan barang kerajinan dan enceng gondok lainnya adalah sifatnya yang lema . “Saya paling tidak suka membuat kerajinan yang kaku,” kata ibu dua rang anak ini.

Sebagai imbalan atas kreativitasnya memanfaatkan enceng gondok sekarang Julita telah mendapatkan banyak penghargaan, salah satu di antaranya penghargaan Clean Up The World dari PBB. Dan kabarnya, tahun ini Julita diusulkan untuk meraih Kalpataru dari Pre iden RI. “Penghargaan bukanlah tujuan utama saya,” kata wanita blasteran Jawa-Belanda ini. (bud)

Teropong,  Edisi 15, Januari – Februari 2004, hlm.  44.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Sentra, Surabaya dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s