Sri Aji Joyoboyo


Meneropong Jaman dari Petilasan Moksa Jayabaya

Ini jaman Google. Ia disamakan dengan si segala tahu. Sebab itu banyak kalangan juga menyebutnya si Mbah Dukun Google. Betapa tidak, sekali jari tangan melakukan klik, piranti canggih ini dalam hitungan detik akan menyajikan segala. Termasuk semua hal yang sedang terjadi dan akan terjadi di masa mendatang. Syaratnya hanya satu: masukan kata kunci, lalu … klik.

Fenomena abad 21 ini membuat orang sejagat gumun. Ada dukun anyar yang begitu sakti mandraguna. Mengetahui semua hal dalam hitungan kejapan mata. Keterkejutan ini terus berlanjut manakala si mbah dukun Google. Ini juga jujurnya bukan main. Kalau tidak tahu, seratus persen ia akan menuliskan tidak tahu. Ini berbeda dengan para dukun umumnya, ketika ia tidak mengusai masalah, ia akan mencoba mencari-cari celah. Mereka-reka apa yang bisa direka. Agar tetap dianggap sebagai yang paling sakti madraguna.

Sayangnya, kesaktian Google ini tidak benar-benar mandraguna. Sebab ia hanya mampu mengutip memuat sebuah peristiwa, kemudian merangkum semuanya berdasarkan kata kunci. Selebihnya ia tak bakal mampu. Sebagai jujugan tempat bertanya, Google selalu bisa menjawab. Nyaris tak ada yang tak bisa dijawab. Sekecil apapun pertanyaan itu dan sepele apapun hal-hal yang ditanyakan. Termasuk urusan ramal-meramal. Jadi tampaklah, kehebatan dan kesaktian Google benar-benar masuk dalam katagori ngedap-edapi (dalam Bahasa Indonesia baca: luar biasa).

Sehebat apapun fenomena Google di abad 21 ini, bagi Misri, tak lebih sebagai fenomena yang kelewat jadul. Ketinggalan jaman. Betapa tidak, jauh-jauh hari sebelum Google mengabarkan kesaktiannya yang serba tahu itu, nun di tahun 1135-1157, jaman seperti ini sudah pernah ada. Jaman Joyoboyo namanya. Jaman ini juga memiliki “piranti canggih” bernama Jangka Joyoboyo. Sebagai sebuah jangka, serba tahunya piranti ini malah jauh di atas kemampuan Google. Ia tak hanya sekadar merangkum peristiwa, tetapi mampu melintas batas ruang dan waktu menyebut peristiwa yang akan datang.

“Kita mestinya jadi orang itu tidak perlu gumunan. Apalagi kalau hanya sekadar melihat jaman. Raja Kediri Sri Aji Joyoboyo dengan kedigdayaannya malah mampu melihat jaman yang belum terjadi. Fenomena-fenomenanya bahkan tersurat nyata dalam Jangka Jayabaya,” ujar Misri, juru kunci keturunan ketiga di petilasan tempat moksanya Prabu Joyoboyo yang dipercaya sebagai titisan Bathara Wisnu di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Kalau orang sejagat bisa gumun dengan keampuhan Google, harusnya orang sejagat pula – terutama di nusantara – lebih gumun lagi dengan Jangka Joyoboyo. Namun karena situasi jaman, orang lebih demam Google ketimbang Jangka Jayabaya. Padahal demam dengan Google hanya akan membuat mengetahui keadaan dunia, sementara jika deman Jangka Jayabaya orang akan lebih mendalam memahami dunia karena dituntut eling dan waspada dalam melihat dunia itu sendiri. Tapi jangan salah, piranti Jangka Joyoboyo itu juga sudah melukiskan jika keadaan seperti ini juga bakal terjadi.

Di area petilasan Moksa Sri Aji Joyoboyo yang terawat baik meski tidak ada pendanaan dari APBD Kabupaten Kediri itu Misri berkisah, Sri Aji Joyoboyo sejak masih dalam kandungan sudah mempersatukan dua kerajaan yang terpisah oleh sebuah sungai dan menjadi Kediri. Sri Joyoboyo adalah buah hati dari kisah Romeo dan Juliet dari Tanah Jawa antara Putra Mahkota Jenggala dan Daha yakni Raden Panji (Inu Kertapati) dan Dewi Sekartaji. Semasa Joyoboyo menjadi Raja Kediri, wilayah kekuasaan dan pengaruhnya meliputi separuh nusantara. Pada masa itu juga kebudayaan Jawa mencapai puncaknya di bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Kitab-kitab dari Mahabarata dan Ramayana diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno.

Sri Aji Joyoboyo itu selain seorang nujum yang masyhur juga sebagai Prabu di Kerajaan Kediri titisan Bathara Wishnu yang dipercaya akan menitis selama tiga kali. Sebagai nujum, Sri Aji Joyoboyo kemudian meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis dalam bentuk tembang-tembang Jawa. Terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab tersebut kemudian dikenal dengan nama Kitab Musarar.

Nujum Sri Joyoboyo itu dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 tahun. Yaitu, jaman permulaan (kali-swara), jaman pertengahan (kali-yoga) dan jaman akhir (kali-sangara). Dari sekian yang menarik pada ramalan Jayabaya adalah adanya ramalan jaman akhir (Kali-sangara). Itu akan terjadi dari tahun 1401 sampai dengan tahun 2100.

Ramalan Sri Jayabaya dalam periode akhir tersebut menjadi akurat setelah dicocokan dengan catatan sejarah Indonesia pada periode tersebut. Simak saja bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa di Indonesia, naik-turunnya para raja-raja dan ratu-ratunya atau pemimpinnya yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah. Yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).

Salah satu contoh, naiknya Presiden Sukarno sebagai pemimpin dan pendiri Republik Indonesia masuk dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000). Akurat yang lain, Soekarno digambarkan sebagai seorang raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi) yang sudah tidak memiliki ayah dan bergelar serba mulia. Raja kebal terhadap berbagai senjata namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita cantik. Tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah (mundurnya Soekarno karena demo para pelajar dan mahasiswa). Sang Raja sering mengumpat orang asing dengan lambang. Untuk menunjukkan bahwa ia anti imperialisme. Bunyi ramalannya: Ratu digdaya ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu.

“Contoh yang lain sangat banyak. Tapi orang yang awam hanya akan mampu melihat kejadian ketika semua sudah terjadi. Namun orang-orang waskita yang jumlahnya tak banyak di negeri ini pasti akan mampu melihat seperti yang di isyaratkan Sri Aji Joyoboyo. Karena isyarat-isyarat yang akurat itu, maka petilasan moksanya Sri Aji Joyoboyo ini masih cukup dikunjungi orang. Utamanya pada malam-malam Selasa Kliwon dan Jumat Legi pada penanggalan Jawa. Atau pas bulan 1 Sura tempat ini pasti menjadi lautan manusia. Tapi bisa dicatat, dari sekian banyak yang mengujungi petilasan ini satu hal menyamakan, yaitu orang-orang masih mencintai tradisi,” kata Misri. Lantas bagaimana Google? Serupa tapi sama! (Heny Rosita/Henky Herwoto)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG, edisi 61,  Januari-Februari 2012, hlm. 46

 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kediri, Sejarah, Sosok dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s