Sarung Tenun Tradisional, Gresik


Wedani, Desa Penghasil Sarung Tenun Tradisional

Tak salah apabila Gresik dikenal dengan sebutan sebagai kota santri, karena selain sebagai pusat penghasil songkok, Kabupaten Gresik juga merupakan penghasil sarung tenun yang menjadi simbol identitas kaum santri.

Di kota ini, selain banyak berdiri perusahaan sarung tenun besar yang  menggunakan alat tenun mesin (ATM) semacam PT. Behaestex, juga banyak dijumpai indutri rumah tangga (home industry) sarung tenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Tentunya pengerjaannya masih dilakukan secara tradisional. Meskipun pengerjaannya masih tradisional, namun mutu sarung tenun yang dihasilkan tidak kalah bahkan lebih baik bila dibandingkan dengan sarung tenun produk mesin (ATM). Harga sarung tenun tradisional harganya jauh lebih mahal dibanding dengan sarun tenun ATM. Tidak hanya dari segi mutu, corak serta motif yang lebih bernuansa alam tampaknya menjadikan pesona tersendiri bagi para konsumennya sehingga banyak yang rela merogoh kantongnya untuk membeli dengan harga yang mahal.

Di Kabupaten Gresik, sentra penghasil sarung tenun tradisional ini banyak tersebar di Kecamatan Cerme dan Benjeng. Ada yang merupakan cabang usaha (binaan) dari perusahaan sarung tenun besar semacam PT. Behaestex seperti yang terletak di Desa  Ngembung dan Dungus Kecamatan Cerne, ada juga yang merupakan usaha mandiri keluarga yang banyak dijumpai di Desa Wedani Kecamatan Cenne. Di Desa Wedani ini, tak kurang dari 25 unit usaha keluarga (home industry) sarung tenun tradisional, baik yang berskala kecil (± 10 orang tenaga kerja) sampai skala yang agak besar (± 100 orang tenaga kerja).

Proses Produksi
Pembuatan sarung tenun tradisional ini membutuhkan keterampilan tersendiri. Namun, bagi penduduk desa Wedani ketrampilan seperti ini tidak memerlukan pendidikan khusus karena dipelajari secara turun temurun. Bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan sarung tenun ini terdiri dari 2 (dua) bahan pokok, yaitu benang dan bahan pewarna. Untuk benang terdiri dari 2 macam (ukuran), benang boom (ukuran 210) sebagai bahan dasar, sedangkan benang yang dipakai untuk bahan corak (pakan) berukuran lebih besar yaitu 140. Sedangkan pewarna berupa pewarna sintetis khusus untuk pewarna kain (benang). Proses pembuatan sarung tenun ini diawali dari proses pencucian benang baik benang boom maupun benang pakan sehingga dihasilkan benang yang benar-benar putih.

Kemudian benang boom dicelup dalam larutan pewarna sintetis dalam kondisi panas (dimasak). Karena digunakan sebagai bahan dasar, maka warna benang disesuaikan dengan warna dorninan kain sarung yang akan dihasilkan. Sedangkan benang pakan belum diwarna karena akan dimotif terlebih dahulu. Selanjutnya benang boom dikeringkan dan di’kloos’ (digulung). Untuk membuat motif, benang pakan di ‘medang’, pada kayu berukuran (0,5 x 0,5) meter, kemudian motifnya digambar dengan pensil dan diwarna. Pekerjaan ‘ngkloos’ dan ‘medang’ ini dilakukan secara terpisah pada waktu yang bersamaan.

Sesudah dilakukan ‘kloos’ pada benang boom, maka benang di’skir’, yaitu disusun berdasarkan motif dasar yang dikehendaki. Kumpulan benang hasil ‘skiran’ tadi kemudian digulung kembali menggunakan alat bantu yang dinamakan ‘boom’. Makanya benang untuk bahan dasar tadi lebih dikenal dengan nama benang ‘boom’ , karena digulung dengan alat yang bantu bernama ‘boom’. Satu gulungan ‘boom’ bisa menghasilkan 21-25 lembar sarung dengan jumlah serat benang per lembar sarung ±1950 benang.

Pada saat proses ‘skir’ dilakukan, benang yang sudah di”medang” tadi dicelup dalam larutan pewarna yang warnanya sama dengan warna dasar. Agar motifnya tidak ikut terwarnai saat dilakukan pencelupan, maka pada motif yang sudah diwarna saat di ‘medang’ diikat dengan tali rafia. Sesudah selesai tahapan pekerjaan pada benang boom maupun benang pakan, maka selanjutnya benang-benang tersebut disusun pada alat tenun. Kemudian dilakukan penenunan dengan motif yang berbeda-beda. Untuk satu orang pekerja tenun, bisa menghasilkan 1,5 lembar sarung setiap hari. Rata-rata mereka menerima upah sejumlah Rp 17.500,- s/d Rp 21.000,- untuk tiap lembar sarung. Sehingga penghasilan yang diperoleh para penenun ini berkisar Rp 26.000.- s/d Rp 35.000,- per hari dengan jam kerja antara pukul 08.00 WIB s/d pukul 17.00 WIB.

Berdasarkan penuturan Siti Fathonah, pemilik salah satu unit usaha pembuatan sarung tenun di Desa Wedani Kecamatan Cerme, usaha yang sudah dilakukan sejak tahun 1976 ini, dalam kondisi normal memiliki omzet produksi rata-rata 10 kodi atau 200 lembar sarung perminggu. Berarti dalam satu bulan sekitar 40 kodi atau 800 lembar sarung. Bila harga jual per lembar sarung sekitar Rp 100.000,- s/d Rp 125.000, maka dalam satu bulan bisa dihasilkan pemasukan kotor sebesar Rp 80.000.000,- s/d Rp 80.000.000,-. Artinya, Fathonah bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 20.000.000,- s/d Rp 30.000.000,- per bulan. Dari hasil tenun sarung ini pula, keluarga Fathonah dengan suaminya Tasripin mampu mengantarkan anak sulungnya menjadi dokter. Sedangkan satu anaknya yang lain saat ini sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Kota Malang. (rif)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 20, Maret – April 2005, hlm. 45

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Gresik, Sentra dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Sarung Tenun Tradisional, Gresik

  1. tolong kasih link toko online yg jual eceran sarung ini

  2. biba berkata:

    kalau membutuhkan sarung baik itu sarung eceran ataupun grosir. bisa datang ke Jl Malik Ibrahim 18 Gresik. orang tua saya salah satu produsen sarung tenun.
    atau hubungan saya di beebsmile@yahoo.com itu info lebih lanjut :)

  3. putra plee berkata:

    berapa harga grosir sarung tenun botolan,perlembarnya

  4. ami berkata:

    harga per lembarx brapa ya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s