Cheng Ho, Penyebar Islam dari China


Kisah Sang Penyebar Islam dari China

Siapa yang tidak mengenal nama Laksamana Cheng Ho? Nama yang  jelas dengan mudah orang mengenalnya sebagai seseorang yang berasal dari Negeri China. Mayoritas dari kita, masyarakat Indonesia, juga tidak asing dengan nama tersebut. Laksamana Cheng Ho mempunyai hubungan historikal yang kuat, khususnya dalam  penyebaran budaya dan agama Islam dari China ke Indonesia.

Masyarakat juga makin banyak yang tahu, bahwa Cheng Ho benar-benar pernah singgah di beberapa wilayah nusantara, setidaknya masyarakat awam mengetahuinya dari cerita dari mulut ke mulut atau peninggalan arsitektur sejarah seperti Klenteng Sampokong di Semarang. Bahkan, di Jawa Timur tercatat ada dua masjid yang menggunakan nama Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya dan satunya lagi di Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Kiranya banyak sudah literature yang mencoba mengisahkan atau setidaknya meriwayatkan sejarah tentang Laksamana Cheng Ho. Namun, sebagian besar buku dan literatur yang ada masih sebatas kisah atau mitos berdasarkan cerita turun-temurun, yang menggunakan cara saling mencocok-cocokkan antara nama, kejadian, atau waktu terjadinya suatu peristiwa.

Salah satu buku yang mengupas sosok Laksamana Cheng Ho yang saya rasa cukup objektif adalah buku berjudul Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara. Buku setebal 405 halaman ini mengupas tokoh sejarah Cheng Ho berdasarkan riset historis, himpunan berbagai informasi dan riset arsitektur bangunan bersejarah, yang dilakukan Tan Ta Sen, Presiden Internasional Zheng He Society dan juga Direktur Cheng Ho Cultural Museum, Malaka.

Buku ini disusun dalam dua bagian. Bagian pertama terdiri dari empat bab yang memusatkan perhatian pada dunia dan peradaban bangsa China, sinisisasi Buddhisme zaman Dinasti Han dan Dinasti Tang , serta sinisisasi Islam zaman Dinasti Yuan dan Dinasti Ming. Bagian kedua membahas tentang penyebaran Islam di Asia Tenggara, kontribusi Cheng Ho terhadap penyebaran Islam dan Lokalisasi Islam di kawasan Asia Tenggara. Banyak hal menarik yang patut dikaji dari isi buku ini. Di antaranya, penegasan Tan soal teori gelombang ketiga dalam sejarah penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara. Dua gelombang pertama sebelumnya adalah penyebaran Islam yang dilakukan melalui jalur perdagangan dan India dan Timur Tengah. Sedangkan gelombang ketiga menyatakan penyebaran Islam ke Asia Tenggara termasuk kepulauan nusantara yang dilakukan oleh masyarakat China. Itulah mengapa teori gelombang ketiga disebut pula “Gelombang China.”

Data pendukung teori gelombang ketiga tersebut sebenarnya juga sudah tersirat dalam sebuah buku karya mendiang Prof Dr Siamet Muljana, judulnya Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam, yang terbi tahun 1968. Dalam buku itu, sang profesor sudah mengeluarkan argumentasi kontroversial, yang menyebutkan bahwa beberapa dari sembilan wali penyebar Islam atau wali songo adalah keturunan China. Sayangnya, karena pengaruh kuat Orde Baru yang sangat anti China dan anti komunis, segala sesuatu yang berbau China pasti dibatasi, termasuk karya tulis Siamet tersebut.

Barulah pada tahun 2006, buku Slamet Muljana tersebut dicetak ulang dan pembicaraan mengenai “arus China” kembali menghangat di kalangan sejarawan, termasuk di antaranya membahas asal-usul dan peranan apa sebenarnya yang dimainkan oleh Panglima Laksamana Cheng Ho beserta armada lautnya yang begitu besar dan telah melintasi berbagai negara.

Berdasarkan data sejarah, armada-armada Cheng Ho berlayar  tujuh kali ke Samudera Barat dan mengunjungi 33 negara di Asia dan Afrika. Di antara tempat-tempat penting di Asia Tenggara yang dikunjungi adalah Champa (Vietnam), Zhenla, Siam, Malaka, Jawa, Palembang, Samudra Pasai (Aceh), Aru, Naguer, Lambri, Pahang, Kelantan (Malaysia), Lidai dan Sulu. Tujuh ekspedisi besar Cheng Ho tersebut berlangsung antara kurun waktu tahun 1405 sampai 1433. Dampak dari ekspedisi Cheng Ho yang berlangsung selama 27 tahun itu tampaknya menorehkan sejarah emas dengan berubahnya lanskap politik dan agama di Kepulauan Asia Tenggara.

Laksamana Cheng Ho adalah pemimpin armada laut Dinasti Ming (1368-1644). Dari tujuh kali pelayaran itu, tiga pelayaran di antaranya Cheng Ho disertai seorang tokoh penting bernama Ma Huan. Ma Huan bisa disebut tokoh penting di balik sejarah Cheng Ho, karena Ma Huan bertindak sebagai “jurnalis” yang mencatat banyak hal dalam perjalanan Cheng Ho. Dokumen catatan Ma Huan tersebut menjadi sebuah jurnal perjalanan yang berjudul Yingyai Shenglan. Kita semua tahu, bahwa yang namanya catatan, apapun isinya, bisa menjadi petunjuk penting untuk merangkai suatu dugaan kuat untuk mewujudkan fakta sejarah.

Dari jurnal perjalanan Ma Huan itulah terungkap bahwa sang  laksamana lima kali mengunjungi nusantara dan singgah di Sumatera dan Jawa. Lokasi yang dikunjungi Cheng Ho itu adalah Samudera Pasai (Aceh), Palembang, Semarang, dan Cirebon. Banyak misi yang diemban Cheng Ho dan para anak buahnya. Bukan sekedar pamer kekuatan militer kekaisaran Ming, tetapi juga memperkenalkan keluhuran budaya China, dan menata kembali hubungan tributer (tributary relationship) yang terputus, dengan negara-negara di wilayah salatan menjelang runtuhnya dinasti Mongol. Cheng Ho juga diyakini memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam di berbagai wilayah yang dikunjunginya.

Sebelum menjadi laksamana yang disegani, asal mula perjalanan Cheng Ho cukup dramatis. Cheng Ho kecil dilahirkan pada tahun 1371 di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, sebuah wilayah Tiongkok yang sejak lama sudah dihuni masyarakat China pemeluk agama Islam. Cheng Ho adalah anak kedua dari Ma Hazji (Haji Ma) yang beragama Islam. Cheng Ho bersaudara lima orang, dengan seorang saudara laki-laki dan empat perempuan. Kalau menurut garis keturunan, Cheng Ho memang kuat diyakini beragama Islam (mengikut dari bapaknya) dan memang inilah fakta sejarah yang paling dominan bahwa Cheng Ho adalah muslim. Namun di bag ian kata pengantar buku ini yang ditulis  oleh A. Dahana, guru besar studi China Universitas Indonesia, ada cerita yang mengatakan bahwa walaupun Cheng Ho dilahirkan di tengah masyarakat dan keluarga Islam, Cheng Ho sebenarnya pemeluk agama Budha. Anak buah yang dipimpin Cheng Ho dalam ekspedisi itulah yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Para anak buah Cheng Ho yang beragama Islam itulah yang berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah yang disinggahi. Meski demikian tidak dicantumkan lebih lanjut, validitas cerita tersebut, termasuk dari siapa dan darimana cerita ini berasal.

Cheng Ho,  anak kedua dari Ma Hazji (Haji Ma) yang beragama Islam.
Cheng Ho, lima bersaudara, seorang laki-laki dan empat perempuan.
Cheng Ho diyakini beragama Islam (dari bapaknya), ini fakta yang dominan.
Cheng Ho adalah muslim.

 Kembali ke asal muasal Cheng Ho. Cheng Ho lahir di tengah transisi politik yang terjadi saat itu, di mana Dinasti Yuan atau kita kenai dengan nama Dinasti Mongol baru saja runtuh (1279-1368), Kaisar Ming pertama ketika itu mempunyai misi besar untuk mempersatukan wilayah China, namun belum seluruh daratan China bisa dikuasai dengan mulus. Salah satu provinsi yang tak mau tunduk begitu saja kepada Kaisar Ming adalah provinsi Yunnan, tempat Cheng Ho dilahirkan. Tahun 1382, dalam suatu pertempuran ayah Cheng Ho menjadi korban. Waktu itu Cheng Ho sudah berusia 11 tahun. Cheng Ho lantas ditangkap dan dikebiri oleh tentara Ming, lantas dibawa ke Beijing, yang waktu itu masih bernama Peiping.

Arah sejarah Cheng Ho sudah bisa diduga dari riwayat tersebut. Cheng Ho akhirnya besar dan bekerja di kalangan istana, dengan mengabdi pada Raja Zu Di, putra keempat Kaisar Ming sebagai seorang kasim (orang kebiri). Pengabdian dan kerja keras Cheng Ho membuat dirinya makin dipercaya, dari budak biasa meningkat menjadi pejabat tinggi. Bahkan dalam suatu peperangan perebutan wilayah kekuasaan, Cheng Ho mampu menyelamatkan nyawa Raja Zu Di, dan diberi nama keluarga Zheng dari Ma. Raja Zu Di yang naik tahta di kekaisaran Ming akhirnya menggunakan gelar Ming Cheng Zu atau Kaisar Yongle.

Dari sinilah sejarah ekspedisi pelayaran terbesar di China dimulai. Kaisar memilih Cheng Ho untuk menjadi panglima yang akan memimpin ribuan pelaut. Keberhasilan Cheng Ho memimpin ekpedisi perdana ditandai dengan kunjungan balasan dari delegasi luar negeri yang disinggahi Cheng Ho. Mereka memberikan rasa hormat kepada Kaisar Ming sebagai penguasa tertinggi di belahan bumi selatan. Ekspedisi perdana sukses, Cheng Ho pun dipercaya untuk memimpin enam ekspedisi selanjutnya.

Setidaknya ada lima tujuan pokok ekspedisi Cheng Ho. Pertama, pelayaran jelas bermotif politik. Kaisar Yongle yang sudah berhasil merebut kekuasaan sangat ingin mempertahankan kekuasaan dan mendapatkan legitimasi dari dunia internasional. Kedua, adalah pertjalanan misi diplomatik, dengan cara meraih simpati luar negeri melalui konsep perlindungan wilayah dan penjaga perdamaian. Ketiga, memajukan perdagangan luar negeri, yang berarti peningkatan sumber daya ekonomi secara global. Keempat, menabur budaya China dan memajukan pertukaran budaya antara China dan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Kelima, Cheng Ho mempelajari secara ilmiah dunia maritim terdepan yang belum terpetakan, Memang, Cheng Ho dan armada lautnya berhasil membuka jalur laut internasional dari China sampai Afrika, dan membuka jalur laut antara Asia dan Afrika.

Hal tersebut memang sangat memungkinkan dilakukan oleh Cheng Ho, pasalnya armadanya sangat lengkap dan kuat. Berbagai jenis kapal mengikuti ekspedisi Cheng Ho. Ada kapal pengangkut benda pusaka, kapal pengangkut kuda, kapal perang, kapal komando, kapal pengangkut padi dan gandum, serta kapal tanker air. Armada tersebut terdiri dari tiga komponen saling bertaut, yakni komando, pertahanan, dan seremonial. Kokohnya ekpedisi Cheng Ho tersebut ditunjang teknologi navigasi yang canggih, untuk ukuran zaman itu. Keseluruhan faktor penunjang ini mengantarkan Cheng Ho hingga sampai ke Nusantara, bukan untuk menjajah namun membawa misi perdamaian, pertukaran social budaya, penyebaran agama, penguatan ekonomi dan ilmu pengetahuan.  (*) Kharisma, peminat buku tinggal di Surabaya
Judul Buku : Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara
Penulis       : Tan Ta Sen
Penerbit      : Penerbit Buku Kompas, Juni 2010
Tebal          : xxii + 406 halaman

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TEROPONG,
edisi 53, September- Oktober 201 0, hlm. 46.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Legenda, Sejarah, Sosok, Surabaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cheng Ho, Penyebar Islam dari China

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s