W.R. Soepratman, Sejarah Perjuangan


Menguak Refleksi Sejarah Perjuangan W.R. Soepratman

Tidaklah berlebihan jika terdapat slogan bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah bangsanya. Berangkat dari komitmen itulah kita sebagai Bangsa Indonesia merespon positif setiap peristiwa bersejarah untuk memperingatinya. Misalnya dalam kalender tahun 2004 ini kita mempunyai beberapa hari bersejarah yang cukup penting dan di antaranya masih dianggap sakral, yakni peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945).

Sebenarnya setiap peringatan hari besar nasional tersebut tidak bisa dipisahkan dengan nama besar sang Proklamator “Soekamo Hatta”. Lantas bagaimana dengan keberadaan W.R. Soepratman? Memang di antara sederet pahlawan pejuang kemerdekaan di masa pergerakan tersebut W.R.Soepratman memiliki perbedaan dengan para pahlawan lainnya. Jika pahlawan lain melawan penjajah melalui perjuangan fisik, diplomatik dan tekanan politik, W.R. Soeprtaman berjuang lebih mengandalkan ketajaman dari gesekan biolanya yang mampu membakar semangat perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah ketika itu.

Di antara improvisasi lagu lewat gesekan biolanya yang kemudian menjadi sebuah karya spektakuler dan membahana di seluruh Nusantara sepanjang masa adalah Lagu Indonesia Raya, yang hingga kini menjadi lagu kebangsaan kita. Ketenaran lagu ini bukan hanya dalam setiap peristiwa bersejaran di dalam negeri saja, tetapi telah diakui oleh bangsa manca karena syairnya yang mengandung semangat heroisme perjuangan bangsa Indonesia, dan jauh berbeda dengan lagu kebangsaan negara lain di dunia (Ashar, 1996). Lewat daya ciptanya W.R. Soepratman telah membuktikan bahwa perjuangan bisa dilalui lewat sudut mana saja termasuk melalui musik, dan ia memang berjuang dengan caranya sendiri seperti dalam pesan terakhirnya.

Sekiranya untuk memahami daya cipta lagu-lagu perjuangannya itu, tidaklah ideal jika tidak mengetahui siapa sebenarnya W.R. Soepratman sampai dimakamkan di Kota Surabaya, siapa yang merawat makamnya sampai sekarang, dan sampai sejauh mana perhatian pihak pemerintah terhadap orang yang diberi tanggung jawab untuk menjaga tempat bersejarah seperti itu.

Tanpa Istri-Anak
Sosok lelaki tampan itu bernama lengkap Wage Rudolf Soepratman, lahir pada hari Senin Wage tanggal 9. Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Di masa kecilnya ia diasuh oleh kakak iparnya bernama W.M. Van Eldik (Sastrornihardjo). Pemuda Soepratman semasa kecilnya tergolong siswa paling cerdas di sekolahnya namun ia mulai belajar memetik gitar dan menggesek biola ketika diajak kakak iparnya hijrah ke Makasar, Sulawesi Selatan.

Di kota ini ia masuk sekolah guru. Setamat dari sekolah itu ia langsung diangkat menjadi guru. Meski. Seorang guru dan mengajar murid-muridnya di sekolah umum, namun ia pantang meninggalkan musik untuk mengekspresikan hobinya. Guna menyalurkan hobi musiknya di Makasar ia mendirikan kelompok muilk Jazz, namanya Black And White, di bawah binaan W.M. Van Eldik, sampai tahun 1924.

Melalui musik jazz inilah ia mulai mencipta lagu-lagu perjuangan yang tersohor dengan ritme heroiknya itu. Apabila ditelaah secara mendasar memang jenis musik jazz yang masuk ke Indonesia dibawa dan diperkenalkan oleh kebudayaan Barat, khususnya orang-orang Belanda sekitar tahun 1928 (Soepama, 1990). Menurut Soepama, musik jazz masuk ke Indonesia ketika itu bukan dalam bentuk yang asli, tetapi sudah terpengaruh oleh kebudayaan Belanda. Bahkan yang dibawa masuk ke Indonesia dikatagorkan jenis music jazz kelas dua, sedangkan musik jazz kelas satu tetap dipertahankan di negeri Belanda. Secara spesifik musik jazz yang masuk ke Indonesia cenderung musik dansa yang dipergunakan untuk berkumpul para pejabat dan pedagang Belanda masa itu. Meski demikian W.R. Soepratman tetap komitmen pada pendiriannya untuk menciptakan lagu lagu perjuangan dan tidak terpengaruh dari berbagai ornamen musik jazz ala Barat itu.

Sebagai sosok pejuang yang gigih untuk kemerdekaan bangsanya ia berjuang tidak hanya mealalui musik, tetapi juga terjun langsung ke dunia jurnalistik. Hal ini dapat dibuktikan, pada tahun 1924 ia menjadi wartawan surat kabar Kaoem Moeda di Bandung, kemudian tahun 1926 menjadi wartawan Sin Poo di Jakarta. Semasa menjadi wartawan ia sangat rajin mengunjungi rapat-rapat pergerakan nasional di Gedung Pertemuan Gang Kenari Jakarta.

Sejak itu ia mulai mencipta berbagai jenis lagu perjuangan, termasuk lagu Indonesia Raya yang diselesaikan tahun 1928. Sejak itu pula W.R. Soepratman dikejarkejar polisi pemerintah Hindia Belanda. Penghargaan terakhir karya ciptanya pada Kongres Pemuda di Jakarta, 27-28 Oktober 1928. Waktu itu diputuskan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan. Setelah itu pada tahun 1930 W.R. Soepratman dibawa saudaranya pindah ke Surabaya dalam kondisi sakit. Meski dalam kondisi sakit ia pantang berhenti berjuang untuk kemerdekaan bangsanya.

Pada tanggal 7 Agustus 1938, ketika memimpin Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan menyiarkan lagu Mata Hari Terbit di Radio Nirom Jl. Embong Malang Surabaya, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Kalisosok Surabaya. Pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938, W.R. Soepratman meninggal dunia di Jl. Mangga No 21 Surabaya tanpa istri dan anak karena ia belum menikah. Ia dimakamkan secara Islam di Makam Umum Kapasan, Jl. Kenjeran Surabaya.

Dari sejarah singkat biografinya ini bisa dipahami bagaimana kegigihan perjuangan seorang musisi yang mampu menempatkan dirinya sebagai pahlawan pejuang kemerdekaan, dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di bumi pertiwi. Namun sebelum ajalnya ia sempat meninggalkan pesan terakhirnya sebagai berikut:
“Nasipkoe soedah begini. Inilah yang di soekai oleh Pemerintah Hindia Belanda. Biar saja meninggal, saja iclas. Saja toh soedah beramal, berdjoang, dengan tjarakoe, dengan biolakoe. Saja yakin Indonesia pasti merdeka”.

Sementara lagu-lagu yang pernah diciptakan antara lain:
Kebangsaan Indonesia Raya (1928),
Indonesia Ibuku (1928),
Bendera Kita Merah Putih (1929),
Raden Ajeng Kartini (1929),
Lagu Mars Kepanduan Bangsa Indonesia (1930),
Di Timoer Matahari (1931),
Mars Parindra (1937),
Mars Soerya Wirawan (1937),
Matahari Terbit (1938),
dan lagu Selamat Tinggal (1938) belum terselesaikan.

Sementara buku yang sempat dikarangnya antara lain Perawan Desa, Darah Moeda dan Kaoem Panatik (1929). Pada tahun 1930 buku Perawan Desa disita oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dilarang beredar. Sementara pada tanggal 26 Juni 1958 dikeluarkan Keputusan Presiden Nomor 44/1958 yang isinya menetapkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Penjaga Situs
Kendatipun Pemerintah telah memberikan penghargaan, mengangkat W.R. Soepratman sebagai pahlawan Nasional, dan melakukan renovasi berupa pemugaran makamnya menjadi anggun dan berwibawa, tetapi tidak banyak masyarakat umum di sekitarnya yang memahami makna nilai sejarah perjuangannya. Mereka hanya melihat sebuah makam W.R. Soepratman sang pencipta lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dan menyaksikan suatu ketika masyarakat berziarah ke makam tersebut, tetapi kurang memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik sebuah makam yang megah itu bagi perjalanan sejarah sebuah bangsa ini.

Pernahkah masyarakat berpikir jika di masa lampau W.R. Soepratman telah mengorbankan harta bendanya, termasuk hidupnya, hanya semata-mata untuk menebus kemerdekaan bangsa ini. Pernahkah masyarakat berpikir untuk mewarisi nilai sejarah perjuangannya untuk diimplementasikan dalam pola hidup bermasyarakat untuk mengisi kemerdekaan ini.  Semuanya masih serba kurang peduli terhadap nilai sejarah perjuangannya. Fenomena seperti itu dapat tergambar dari kehidupan Matabri (67), penjaga makam W.R. Soepratman di Jl. Kenjeran Surabaya (31/7). Matabri adalah putra almarhum Sukimin asal Bangkalan, juru kunci di makam tersebut sejak zaman Bung Kamo dan meninggal tahun 1996. Matabri adalah pesiunan golongan IIIb dari Departeman Pendidikan dan Kebudayaan ketika itu, terakhir bekerja di Musium Empu Tantular Surabaya, dengan menerima gaji pension Rp 700.000 setiap bulannya.

Matabri tinggal serumah dengan seorang anak dan menantu beserta dua cucu perempuan. Mereka menempati sebuah rumah kecil di pojok SISI barat makam tersebut. Meski hidup tak berkecukupan Matabri yang sangat kental dengan bahasa Maduranya ini toh tetap tabah dan bersabar, sambil menunggu uluran tangan masyarakat. Setidaknya hal itu terlihat dari raut wajahnya yang tetap berusaha senyum ketika menerima tamu.  Selama menjadi juru kunci makam W.R. Soepratman ia mengaku tidak pernah mendapat tambahan apapun dari pemerintah, kecuali dua buah sabit dan satu cangkul setiap tahunnya. Apapun yang terjadi pada dirinya, rnisalnya sakit, atau untuk kepentingan keluarga Matabri cukup tidak cukup hanya mengandalkan gaji pensiunnya.

Namun di balik itu ia berharap kelak setelah meninggal bisa digantikan oleh Gufron, menantunya. Realitas seperti yang dialarni Matabri mungkin tidak jauh berbeda dengan juru kunci di tempat makam pahlawan lainnya. Kondisi ini memang sang at kotradiktif, di satu sisi pemerintah selalu menganjurkan agar masyarakat menghargai dan mewarisi nilai-nilai perjuangan para pahlawan sebagai bangsa yang berbudaya adiluhung. Tetapi di sisi lain kita dihadapkan berbagai permasalahan sosial. Bahkan pemerintah sendiri masih tampak kurang menghargai jasa seseorang yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk menjaga situs bersejarah tersebut. Akankah hal ini akan berlanjut terus? (ar)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 18, Juli – Agustus 2004, hlm. 37

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Sejarah, Surabaya, Wisata Sejarah dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s