Sunan Ampel


Melacak Sunan Ampel 
Umat Islam, khususnya yang tinggal di Jawa, pastilah mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama Sunan Ampel. Makamnya di Masjid Ampel (Kelurahan Ampel, Surabaya), sebagaimana makam-makam Walisanga lainnya, menjadi tujuan para peziarah dari seluruh Indonesia, bahkan luar negeri. Pada malam-malam tertentu, terlebih malam likuran di bulan Ramadan, Masjid Ampel diserbu ribuan umat Islam.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel diyakini sebagai perintis penyebaran agama Islam di Jawa. Dia datang ke Jawa tatkala Majapahit masih berkuasa, kemudian mendirikan pesantren di Ampel (Ngampeldenta) di Surabaya. Dari sini Sunan Ampel memupuk kader yang di kemudian hari menyebarkan Islam, bukan saja di Jawa, tapi juga luar Jawa. Sunan Giri dan Sunan Muria adalah dua dari puluhan muridnya.

Bukan itu saja, Sunan Ampel juga mempunyai dua orang anak yang kelak juga menjadi Wali dan mendirikan pesantren untuk penyebaran agama Islam, yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Dibanding Wali-Wali yang lain, informasi otentik tentang Sunan Ampel dalam bentuk prasasti yang diguris di atas batu atau lempengan sama sekali tidak ada. Tidak juga didapati candrasengkala yang menunjukkan tahun pada bangunan masjid, gapura atau makam. Begitu juga naskah atau manuskrip yang ditulis pada masa hidupnya atau agak dekat sesudah wafatnya, sampai sekarang belum ditemukan apabila tidak dapat dikatakan sama sekali tidak pernah ada. Naskah babad baru ditulis pada zaman Mataram dan sesudahnya, seperti Babad Tanah Jawi edisi Olthof (BTJ-Olthof), Babad Demak, dan Babad Mataram. Serat babad yang bercerita tentang Sunan Ampel antara lain Babad Tanah Jawi (BTJ), Babad Tanah Jawi-Mees (BTJ-Mees), Babad Ngampeldenta (BN), Babad Tanah Jawi-Galuh Mataram (BTJ-GM), Babad Resakipun Majaprhit (BRM), Babad Cerbon (BC), Babad Majapahit dan Para Wali (BMPW), Wali Sana Babadipun Parawali (WSBP) dan Babad Tanah Jawi Naskah Bau Wanar/Naskah Drajat (BTJ-NBW IND).

Untuk memperoleh data yang jelas dan rinci tentang Sunan Ampel, paparan berbagai sumber tradisi tersebut perlu telaah interteks. Data itu nantinya akan memberi gambara sejarah Sunan Ampel, setidak-tidaknya menurut tradisi tulis. Tradisi tulis yang beragam, data dan informasinya selain terdapat perbedaan, parelelitasnya hampir dipastikan selalu ada. Kesamaan data atau informasi itu dapat ditangkap sebagai fakta yang mendekati sahih.

Nama dan Gelar
BTJ-Olthof, BN, BTJ-GM, BRM, BNPW, BTJ-NBW/ND, BTJ-Mees, dan BC menyebutkan bahwa nama kecil Sunan Ampel adalah Rahmat. Begitu pula dengan sumber Arab dan Barat. Sejak tahun 1977, Panitia Haul Agung Sunan Ampel menetapkan nama Sunan Ampel dengan Ahmad Rahrnatullah.

Dasar penetapan nama Ahmad Rahmatullah tersebut, pertama berdasarkan pertimbangan bahwa Sunan Ampel bukan orang Jawa, melainkan keturunan Arab. Nama Rahmat tidak dikenal di kalangan bangsa Arab terutama yang berdiam di Indonesia. Nama Rahmat tentu berasal dari bahasa Alquran Rahmatullah yang berarti kurnia dari Allah SWT.
Sedangkan gelar, umumnya tradisi tulis menyebutnya dengan gelar Raden atau Rahadyan. Hanya satu sumber, yakni BC, yang menyebut Pangeran. Dari mana sebutan Raden diperoleh, padahal Sunan Ampel bukan asli Jawa atau bangsawan Jawa? Jawabannya hanyalah sebagai hipotesis.

Kedua, gelar Raden agaknya tidak melekat pada waktu masih di Campa, melainkan baru diperoleh setelah menetap di Jawa. Setelah penduduk mengenal sosok, kepribadian dan kinerjanya sebagai ulama dan menjadi imam di Ampel, orang menghormatinya dengan gelar kehormatan, yaitu Raden.

Ketiga, BN pupuh Asmaradana menyebutkan bahwa Raja Majapahit menganugerahi Sunan Ampel tempat tinggal di Dusun Ampeldenta dan diberi penduduk 800 keluarga untuk menjadi pengikut. Ia juga memberi gelar susuhunan. Hampir seluruh penduduk Ampel telah diislamkan, pengikut pertama yang berada dalam kewenangan sebagai pemimpin komunitas (umat) inilah diduga yang pertama-tama menabalkan gelar Raden sebagai wujud penghormatan kepada Sunan Ampel yang menjadi pemimpin atau tuan mereka.

Keempat, kemungkinan lain boleh jadi masyarakat, lebih-lebih para santrinya, mengetahui bahwa Sunan Ampel bergelar al-Syarif atau Al-Sayyid. Lafaz ‘syarif’ berarti bangsawan, pengertian yang umum adalah untuk keturunan Rasulullah SAW. Gelar syarif atau sayyid dipahami sebagai sebutan untuk kelompok ningrat Arab, lalu dipandang sederajat kedudukannya dengan bangsawan Jawa, karena Raden berarti gelar bangsawan keturunan raja. Keempat, tidak mustahil gelar Raden ditabalkan karena Sunan Ampel mempersunting puteri adipati atau pejabat tinggi daerah di Tuban atas perkenan dan kehendak raja Majapahit.

Gelar Raden agaknya tidak lepas dari padanya, seakan tabu bila menyebut nama kecil Sunan Ampel hanya dengan Rahmat saja. Gelar itu senantiasa melekat pada Sunan Ampel dalam sebutan orang-orang Islam di sekitar makam dan para peziarah.

Sedangkan sebutan sunan, menurut WSBPW, berasal dari susuhunan. Kata susuhunan dalam pengucapan Jawa bisa berubah menjadi “suhun” dan “sunan”. Suhun dan suhunan berasal dari bahasa Kawi yang berarti sunggi, pundhi, mumundhi, pupundhen, berarti sunggi, junjung (di kepala). Pengertian disunggi atau dijunjung di kepala itu bermakna ditinggikan, sangat dihargai, sangat dihormati.  Selain sebutan Wali atau Sunan, masih ada sebutan atau gelar lain untuk Raden Rahmat, yaitu Pangeran Katib dan Wali Qudum atau Wali Maqdum. Gelar ini diberikan oleh Mawlana Ishak, karena Sunan Ampel itu Wali yang pertama-tama menyebarkan agarna Islam di Jawa atau Wali yang mendahului wali-wali yang lain.

Campa
Berbagai sumber tradisi menyebutkan bahwa Raden Rahmat lahir di Campa. Tetapi di manakah letak Campa? Sumber BC dan WSBP menyebutkan bahwa Campa yang dimaksud adalah negeri sekitar Semboja atau Kamboja, Kuci atau Koci (n) Cina. Sumber BTJ-NBWIND menyebut sekitar Kucing dan Kamboja. Kebanyakan sejarahwan juga berpendapat, bahwa Campa terletak di Indocina.

Tetapi ada juga sejarahwan yang berpendapat bahwa Campa terletak di pantai utara Aceh, yang terkenal sekarang dengan nama Jeumpa. Hamka juga berpendapat serupa, karena adanya persamaan bunyi Campa dengan “Jeumpa”. Namun penyebutan Campa menjadi Jeumpa tidak didapati dalam buku-buku yang ditulis oleh penulis Aceh.

Buku Aceh Sepanjang Sejarah yang ditulis oleh H. Mohammad Said juga tidak menyebutkan bahwa Campa sama dengan Jeumpa atau Campa terletak di pantai utara Aceh Utara, sebaliknya Campa terletak di Indocina. Sedangkan Hikayat Aceh memberi petunjuk bahwa Campa berada di sekitar Kamboja, Ciangmai, Lanea dan Cina.

Pendapat lain menyatakan bahwa Campa lebih jauh harus dicari di pantai India-Belakang bagian timur. Pendapat seperti ini diperkuat oleh sastra sejarah Melayu dan Jawa. Cerita Sejarah Melayu memuat riwayat singkat kerajaan Campa. Diceritakan bahwa penduduknya tidak makan atau menyembelih sapi (boleh jadi mereka beragama Hindu atau Budha).

Semula kerajaan itu termasuk wilayah taklukan kerajaan Majapahit. Raja Campa yang terakhir adalah Pau Kubah, yang meninggal dalam peperangan melawan raja Kuci. Dua orang putranya, Pau Liang dan Indra Berma, lolos. Masing-masing melindungkan diri ke Aceh dan Malaka. De Graaf dan Pigeaud menilai bahwa berita Sejarah Melayu lebih dapat dipercaya karena teksnya sudah disusun menjelang perempat abad kedua abad 16, tidak terlalu lama setelah dinasti Campa yang lama runtuh.

Dari sumber-sumber lain dapat diketahui bahwa Campa pada tahun 1471 direbut oleh orang-orang Annam (Vietnam). Tahun tersebut berada dalam rentang tahun pemerintahan Sultan Mansur di Malaka (1458-1477) yang telah memberi perlindungan atau suaka kepada pangeran dari Campa yang melarikan diri. Salah satu alasan mengapa Raden Rahmat bersama adiknya melawat ke Jawa, menurut De Graaf dan Pigeaud, ialah ancaman Annam terhadap Campa tersebut.

Campa sebagai sebuah negara dengan sistem monarki diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-2 sampai abad ke-19. Campa memang pernah berjaya dengan memiliki wilayah lima propinsi dengan dua buah pelabuhan, tetapi nasibnya selalu di ujung tanduk dan jatuh bangun. Silih berganti diserang oleh kerajaan tetangganya, yaitu Vietnam dan Khmer atau Kamboja. Musuh Campa yang paling laten dan lama ialah Vietnam. Vietnam menyapu bersih wilayah kerajaan Campa yang tersisa, yaitu Pandurangga, pada tahun 1834 M.

Peta yang cukup tua yang mencantumkan nama Campa ialah peta Gerhard Mercator, yang dibuat pada akhir abad ke-16 (1512-1594). Nama Campa sebagai suatu wilayah ternyata sudah ada dalam peta Asia tersebut dan letaknya di Vietnam sekarang, dekat dengan Kamboja.

Dengan uraian di atas, negeri Campa sebagai tempat kelahiran Raden Rahmat terletak di India Belakang menjadi jelas. Keragu-raguan terhadap letak Campa, apakah di India Belakang ataukah Aceh, dengan demikian dapat dihilangkan.

Nasab dari Garis Ayah
Delapan dari sembilan sumber tradisi tulis menyebutkan bahwa ayahanda Raden Rahmat bernama Ibrahim. Enam sumber di antaranya menyebut dengan tambahan Asmara. Sumber BN, BMPW, WSBP dan BTJ-GM menyebut dengan gelaran Seh, dua sumber lagi, yakni BTJNEW IND, menyebut Maulana dan sumber BTJ-Olthof dan BRM menyebut Makdum. Tambahan kata Asmara di belakang nama Ibrahim agaknya memang khas Jawa, bukan Arab.

Sumber tradisi BRM, BC, dan BTJNEW IND menyebutkan bahwa Seh Ibrahim Asmara berasal dari negeri Tulen, begitu juga Hikayat Hasanuddin dari Banten. Sumber BTJ-GM dan BMPW menyebutkan berasal dari Arab, sedangkan sumber lainnya tidak menyebutkan negeri asalnya.

Kata “Tulen” tidak jelas apakah suatu kota atau sebuah negeri. Demikian pula tidak ada penjelasan lebih jauh tentang Arab. Di mana letak Tulen tidak diterangkan. Begitu pula dengan kata Arab, tidak jelas letak sebenarnya, apakah wilayah Arab Saudi sekarang, Yaman, atau Hadramaut. Sumber BTJ-GM menyebutkan ayah Raden Rahmat masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Dan alHaddad menyebutkan gelarnya dengan al-Syarif.

Mencermati silsilah Raden Rahmat dengan metode persandingan dan perbandingan yang didukung oleh sumber yang cukup dengan berbagai variable, nasab Raden Rahmat dari garis ayah masih keturunan Nabi Muhammad SAW lewat koridor Sayyida Husain bin Ali KW. Hanya saja dalam dirinya tidak lagi berdarah Arab murni, melainkan sudah bercampur dengan darah dari bangsa atau etnis lain.

Ibu Raden Rahmat
Dari sembilan sumber tradisi, empat sumber yang menyebutkan nama ibunda Sunan Ampel. Sumber BN menyebutkan nama Retna Sujinah, ESBP menyebut Retna Dyah Siti Asmara, BC menyebut Darawati, sedangkan BTJ-NBW/ND menyebut nama Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan. Mana nama yang sebenarnya sulit untuk menetapkannya. Nama-nama itu semuanya versi Jawa, tetapi semua sumber tradisi itu meyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat adalah puteri raja Campa.

Apa benar ibu Raden Rahmat puteri seorang raja? Agaknya tidak diperoleh keterangan data yang memadai. Penuturan sumber tradisi tentang ibu Raden Rahmat sebagi puteri “raja” Campa, boleh jadi memang harus diartikan lain, yaitu bukan sebagai raja dalam arti kata yang sebenarnya raja, melainkan seorang pemuka yang terhormat dari suatu komunitas di wilayah Campa. Penulis babad agaknya ada kecenderungan untuk mengangkat posisi tokohnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi.

Denys Lombard menyebut ibunda Raden Rahmat dengan “anak gadis seorang orang terkemuka setempat”. De Graaf dan Pigeaud menyebutnya dengan “seorang wanita dari keluarga baik-baik, keluarga bangsawan”. Sumber tradisi yang menyebutkan bahwa ibu Raden Rahmat sebagai puteri raja agaknya sulit dibuktikan dengan data sejarah Campa.

Istri dan Kerabat Raden Rahmat
Dari sembilan sumber tradisi, hanya empat sumber yang menyebutkan namanya. Tiga sumber menyebut nama Manila dengan gelaran yang berbeda, yaitu Nyai Gede Manila, Retna Siti Manila, dan Nyai Ageng Manila. Sumber BTJ-NBWIND menyebutkan nama yang sama sekali berbeda, yaitu Candrawati.

Berbagai sumber tradisi menyatakan baha istri Sunan Ampel berasal dari Tuban. Pada umumnya sumber tradisi memberitakan bahwa istri Sunan Ampel puteri Arya Teja. Ada sumber yang menyatakan bukan puteri Afya Teja, melainkan puteri Tumenggung Wila Tikta.

Tentang istri Sunan Ampel yang lain yang bernama Mas Karimah puteri Ki Bangkuning diberitakan oleh sumber BTJ-NBWIND. Sumber BMPW juga menyebutkan adanya istri lain selan istri dari Tuban, tetapi tidak menyebutkan nama dan orang tuanya.

Sumber tradisi Serat Kanda dan Sedjarah Dalem memberitakan bahwa Raden Rahmat puteranya banyak sekali. Putera-puteri Sunan Ampel yang paling banyak disebutkan oleh sumber tradisi tulis yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sedangkan putera-puteri Sunan Ampel lainnya adalah (1) Nyai Ageng Maloka atau Nyi Ageng Sluke. atau Tulaki, (2) Nyai Ageng Manyura atau Panyuran, (3) Siti Hafshah, (6) Nyi Ageng Wilis, (7) Asyiqah, (8) Alawiyah, (9) Mas Murtasyiyah, dan (10) Mas Murtasimah. Sedangkan menantu Sunan Ampel di antaranya Raden Paku atau Sunan Giri dan Raden Patah.

Kader
Sunan Ampel mempunyai banyak keturunan dan murid (santri) yang berabad-abad lamanya berjasa mengembangkan agama Islam, bukan saja di Jawa tapi juga di luar Jawa. Sunan Ampel sebagai perintis penyebar agama Islam di Jawa, agaknya sulit dibayangkan bahwa dia dengan mobilitas tinggi berkeliling kampung-kampung di seantero Pulau Jawa. Dia lebih banyak berperan sebagai pendidik kader, berbeda dengan Sunan Kalijaga yang terkenal dengan mobilitasnya sebagai juru dakwah di tengah-tengah masyarakat pedesaan.

Kader-kader yang ditempatkan oleh Sunan Ampel di berbagai tempat di Pulau Jawa itu kelak berhasil menyebarkan agama Islam secara setapak demi setapak. Kader generasi pertama membentuk kader generasi kedua, kader generasi kedua mendidik kader generasi ketiga dan seterusnya. Sebagai contoh dapat disebutkan kader generasi ketiga ialah Sunan Prapen, cucu Sunan Giri. Sunan Prapen dalam dakwahnya menyebarkan agama Islam ke Pulau Lombok, Sumbawa sampai ke Bima. Pendidikan kader diteruskan oleh kader-kader berikutnya sambung menyambung seperti diberitakan oleh beberapa sumber tradisi.

Di tempat masing-masing kader itu mendirikan surau atau masjid untuk menyebarkan agama Islam, kemudian berkembang menjadi pondok-pondok pesantren. Di antara pondok pesantren yang terkenal adalah pondok pesantren yang diasuh oleh Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Raden Patah. Tempat tinggal mereka berkembang menjadi sentra penyebaran agama Islam.

Di antara mereka, yang paling berhasil dan menjadi pendidik kader terbesar pada abad ke-16 dan 17 adalah Sunan Giri dan penerusnya. Raja Hitu atau Ternate yang bernama Zainal Abidin belajar di pesantren di pesantren Giri. Dia belajar di situ bersama perdana menterinya yang bernama Jamilu Sekembalinya dari Giri, Zainal Abidin membawa mubaligh dari sana. Sejak itu agama Islam tersebar di Ambon dan daerah-daerah lain seperti Tidore, Gilolo, dan Pulau Halmahera.

Di Surabaya sendiri pondok pesantren tertua yang masih tetap eksis sampai sekarang adalah pondok pesantren Sidosermo (Sidoresmo) sebelah timur Wonokromo. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ngusman Jabet (mungkin Usman Zuber). Dalam pesantren ini mulanya berkumpul 400 orang, ditampung dalam pondokan sebanyak 40 rumah.

Sunan Ampel sebagai tokoh sejarah telah berjuang melalui tiga jalur sekaligus, yaitu dakwah, pendidikan dan pembentukan kader. Dia juga guru para Wali di Jawa. Sunan Ampel temyata tidak hanya figure Wali pertama dan utama, tapi juga menjadi perintis pembangunan kota Surabaya yang dimulai dari menata lingkungan yang teratur, bersih dan indah di Ampeldenta, Ampeldenta dan sekitarnya tumbuh. (bud)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Teropong, Edisi 18, Juli – Agustus 2004, hlm. 40

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s