Moroseneng, yang Kian Redup


Lokalisasi Moroseneng yang kian redup, banyak mucikari pilih pindah profesi, Bisnis prostitusi di lokalisasi Moroseneng tidak lagi gemerlap. Banyak pemilik wisma yang memutuskan menutup usaha. Jumlah PSK pun kian menurun dari tahun ke tahun.

Empat mucikari datang ke Kantor Kelurahan Klakah Rejo pada akhir Februari lalu. Mereka hendak menemui Lurah Mochammad Taufik. Setelah menunggu beberapa saat, mereka ditemui Tauflk. Taufik menanyakan maksud kedatangan mereka. “Saya mau tutup tempat (wisma) saya. Saya mau beralih profesi,” kata Taufik menirukan ucapan salah seorang mucikari. “Mereka mau mengajukan pengalihan profesi itu ke pemkot,” imbuhnya.

Tentu, kabar tersebut disambut baik oleh Tauflk serta staf kelurahan. Lurah pun siap membantu pengajuan surat alih profesi ke Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Empat mucikari yang ingin mengajukan alih profesi tersebut, antara lain, Sukiyatin, pemilik wisma di Jalan Klakah Rejo, Gang Buntu Nomor 4, dan Samini, pemilik wisma di Jalan Klalah Rejo Nomor 1. Selain itu, Sri Katemi, pemilik Wisma Sri Rejeki di Jalan Klakah Rejo Gang Barokah Nomor 18, dan Ika Apreliyanti, pengelola Wisma Bogel di Jalan Klakah Rejo, Gang Barokah Nomor 40.

Taufik menyatakan, sebelum memutuskan beralih profesi, kelurahan melakukan sosialisasi ke lokalisasi. Dia dan anak buahnya menjelaskan bahwa pemkot memiliki program bantuan untuk pemilik wisma yang ingin “bertobat” dan beralih profesi. Tidak sekadar bersosialisasi, kelurahan juga membawakan contoh persyaratan permohonan alih profesi. “Kami membawakan contoh surat dari dinas sosial. Kami memfotokopi dan membagikan contohnya kepada para mucikari,” jelasnya.

Nah, dari sosialisasi itulah, hati empat perempuan pengelola wisma tersebut tergerak untuk meninggalkan dunia prostitusi. Sukiyatin, Samini, Sri, dan Ika langsung membuat surat permohonan ke kelurahan. Taufik menuturkan, sebelumnya, dua mucikari di lokalisasi Bangun Rejo mengajukan surat alih profesi kepada wali kota pada 2010. Hasilnya  mereka mendapatkan bantuan dana Rp 17 juta untuk membuka usaha.

Karena keberhasilan dua mucikari itu, pemilik wisma lain ingin mengubah nasib dengan membuka usaha yang halal. Karena empat mucikari memilih beralih profesi, tentu jumlah wisma dan PSK di kompleks lokalisasi tersebut akan semakin sedikit. Kompleks lokalisasi Moroseneng berada di dua kelurahan, Kelurahan Klakah Rejo dan Sememi. Berdasar data di kelurahan, jumlah PSK di dua wilayah tersebut mengalami penurunan. Di Kelurahan Klakah Rejo, ada 304 PSK pada 2009 dan 84 wisma. Pada 2010, ada 247 PSK dan 74 wisma. “Kami belum punya data 2011. Pendataan baru akan dimulai,” jelas Tauflk.  Kondisi di Kelurahan Sememi sedikit beda. Pada 2009, jumlah PSK mencapai 230 orang dengan 28 wisma. Pada 2010, ada 215 PSK dan 31 wisma.

Sekretaris Kelurahan Sememi menuturkan jumlah wisma pada 2010 memang naik. Sebab, pemilik membangun wisma baru dengan cara membagi PSK yang ada. Awalnya, jumlah PSK di tiap wisma sekitar 12 orang. Sekarang hanya ada enam orang. Karena itu, kendati jumlah wisma naik, jumlah PSK justru turun. “Sebab ada larangan menambah PSK bagi mucikari,” jelasnya kemarin. (Ium/byu/c12/fid)

Saya Ingin Hidup Normal
MENGAIS rezeki di kompleks lokalisasi tidaklah mudah. Banyak tantangan yangharus dihadapi para mucikari. Selain harus menyediakan pelayanan yang memuaskan, mereka menanggung anggapan negatif dari masyarakat. “Tidak ada yang mau hidup terus-terusan seperti itu,” kata Sukiyatun, 51, pemilik wisma di Jalan Klakah Rejo, Gang Buntu Nomor 4. Dia merupakan salah seorang di antara empat mucikari yang mengajukan alih profesi.

Selain bertambahnya usia, para pekerja seks komersial (PSK) yang tinggal di wismanya tinggal seorang. “Dia sekarang pulang kampung,” ujarnya saat ditemui di wisma miliknya kemarin. Awalnya, ada empat PSK yang tinggal di wisma tersebut. Karena bertambahnya usia, para perempuan penjaja cinta itu memilih berhenti melayani para pria hidung belang. Mereka pulang kampung dan menikah. Mantan anak buahnya tersebut sekarang hidup normal seperti kebanyakan orang.

Dari situ, hati Sukiyatun terketuk. Dia ingin beralih profesi untuk  berwirausaha. Kebetulan, anak semata wayangnya bersekolah di SMK jurusan otomotif. Dia ingin membuka bengkel. Dia memutuskan mengajukan surat alih profesi kepada pemkot. Dia mengharapkan bantuan untuk usaha barunya tersebut. “Surat itu akan segera saya kirim,”  jelasnya. Keinginan yang sama dimiliki Samini, 41, pernilik wisma di Jalan Klakah Rejo Nomor 1. Menurut dia, alih profesi merupakan jalan satu-satunya untuk memperbaiki kondisi hidupnya. “Saya sudah capek dan ingin hidup normal.” ucapnya.

Setelah berniat tobat, dia rajin mengikuti pengajian. Setelah mendapat siraman rohani, dia selalu merenungi hidupnya. Apalagi, akhir-akhir ini dia sering jatuh sakit dan harus banyak istirahat. Begitu dia memutuskan beralih profesi, anak-anaknya langsung mendukung. (lum/c12/fid)

Pelatihan Dulu, Baru Modal Cair
MUCIKARI yang mengajukan alih profesi  tidak langsung diberi modal oleh pemkot. Mereka lebih dulu diberi keterampilan sebelum dibantu modal untuk usaha. Skill menjalankan usaha akan dilatihkan dan dimatangkan sehingga mereka sudah siap beralih profesi. Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Eko Hariyanto mengatakan, pihaknya sudah menerirna informasi seputar empat mucikari yang mengajukan alih profesi.

“Kami sudah dapat datanya.”  jelasnya. Namun, dia masih menunggu surat resmi dari mereka. Yang sudah masuk ke dinsos hanya data berupa nama dan alamat mereka. Surat permohonan alih profesi belum masuk. Hanya, kata Eko, para mucikari yang mengajukan surat tidak langsung menerima modal. Setelah surat diajukan pihaknya akan mengumpulkan para mucikari dan mendalami keinginan mereka untuk alih profesi.

Ketika sudah jelas profesi yang diinginkan, pihaknya akan memberikan pelatihan. Dalam pelatihan itu, Dinsos Kota Surabaya akan bekerja sama dengan Dinsos Provinsi Jawa Timur. Setelah pelatihan selesai dan keinginan membuka usaha semakin matang, pihaknya baru berusaha mencarikan modal. Mengapa modal usaha tidak langsung diberikan kepada para mucikari? Jika langsung diberikan, dia khawatir modal itu dijadikan untuk mengembangkan usaha mereka sekarang. “Tidak jadi alih profesi, tapi kembali ke profesi yang lama,” jelasnya.

Camat Benowo Edy Pumomo menyatakan, pihaknya menyambut baik keinginan para mucikari untuk beralih profesi. Kecamatan pun siap memfasilitasinya. Jika ada kesulitan di tingkat kelurahan, kecamatan akan membantu. Edy menyatakan, dirinya cukup sering melontarkan ide untuk alih profesi. Boleh saja mereka bekerja di dunia hiburan, tapi pola pekerjaannya diganti. Yang awalnya menjadi mucikari beralih menjadi pemilik kafe. Yang biasanya menjadi PSK beralih menjadi pelayan kafe. “Yang penting tidak menjual diri,” terangnya. Namun, yang paling baik memang jauh dari dunia hiburan. Alih profesi bisa meningkatkan derajat sosial ekonomi mereka. “Perubahan hidup itu membutuhkan proses dan komitmen tinggi,” tutur Edy. (Ium/c2/fid)

Jawa Pos, Rabu, 30 Maret 2011, hlm. 31

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Surabaya, Wisata, Wisata Khas dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s