Studio Rekaman, Surabaya


Mengurai Sejarah Studio Rekaman di Indonesia

Konon, studio rekaman dimulai dari Surabaya. Lalu berkembang ke Jakarta dan Solo.

Pada mulanya adalah musik klasik dan jazz, lalu gramafon Columbia buatan USA dan peralatan studio rekaman dibawa ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20, lebih 100 tahun silam. Setelah itu baru tercatat berdirinya perusahaan rekaman Odeon, Canary, dan His Master Voice di Surabaya, yang memproduksi piringan hitam untuk orang-orang kaya perkotaan yang jumlahnya tidak seberapa.

Pada perkembangannya, sejarah industri rekaman di Indonesia bisa ditelusuri dari dua tempat: Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta. Lokananta milik pemerintah, dan banyak melahirkan lagu-lagu daerah, sementara Irama milik Suyoso Karsono alias Mas Yos, banyak melahirkan lagu-lagu hiburan, sebutan untuk lagu pop sekarang. Nama seperti Rachmat Kartolo, Nien Lesmana, sampai Patty Sisters pernah rekaman di Irama, yang awalnya hanya studio kecil di sebuah garasi di Menteng, Jakarta Pusat. Peristiwa rekaman itu terjadi di ujung tahun 1950-an hingga memasuki tahun 1960-an.

Lalu, memasuki awal tahun 1970-an, berdiri studio rekaman Dimita, yang dikomandani Dick Tamimi di Bandengan Selatan. Studio rekaman ini juga menjadi pioner rekaman lagu-lagu pop, karena di tempat ini nama-nama tenar Koes Bersaudara, Panbers, Dara Puspita, Rasela, lahir. Setelah itu muncul raja studio rekaman Indonesia, dan kelak dianggap sebagai produser legendaris yang menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia, yakni Amin Widjaja atau biasa disebut Amin Cengli yang memiliki studio rekaman Metropolitan kini Musica Studio’s dan satunya, sang raja adalah Eugene Timothy, mengomandani perusahaan rekaman Remaco. Remaco pernah menjad perusahaan rekaman terbesar di Indonesia, dengan akses kuat ke pergaulan di dunia rekaman Internasional, karena pada saat membuat piringan hitam (PH), seperti Irama, Lokananta, dan Dimita, Remaco masih memakai perusahan pembuat matris pencetak PH di Singapura.

Di Remaco, lahir nama-nama besar Bimbo, D’Lloyds, The Mercy’s dan kelak Koes Bersaudara yang pada tahun 1967 berubah nama menjadi Koes Plus pun pindah ke tempat ini. Tatkala Remaco ambruk pada awal tahun 80-an dan Eugene tinggal mengandalkan sejumlah master rekaman yang masih dimilikinya, baik sejak di era rekaman PH maupun kaset rekaman, Musica ganti menunjukkan dominasinya.

Hingga tahun 1964, perusahaan pemroduksi piringan hitam ini tidak mengalami hambatan berarti kecuali pasar yang lambat berkembang. Apalagi, secara bersamaan industri rekaman Indonesia memasuki era kaset. Teknologi kaset dinilai lebih praktis dan murah, ketimbang piringan hitam yang terbilang mahal dan lebih rumit.

Seperti yang dialami Lokananta. Pada awalnya, Lokananta diresmikan sebagai pabrik piringan hitam (PH) pada 1956. Semua PH hasil rekamannya kemudian disebarkan ke seluruh RRI untuk disiarkan. Perkembangan kemudian, masyarakat meliriknya dan ingin memiliki PHnya. Jadilah Lokananta melayani kebutuhan masyarakat.

Belum lama menikmati keuntungan sebagai perusahaan PH, muncul pita kaset menjadi pesaing dalam usahanya. Sejak 1972 produksi PH dihentikan, karena permintaan pasar menurun. Sejak saat itu hanya memproduksi audio kaset. Pada 1983, usahanya diperluas dengan penggandaan kaset video. Justru ketika ditunjuk sebagai perusahaan pengganda video itulah, perjalanan Lokananta mulai terpuruk. Usia kejayaan kaset video sebagai sarana rekaman ternyata tidak lama.

Usaha tersebut tidak mampu mengangkat Lokananta, bahkan sebaliknya. Kaset video mendadak hilang dari peredaran setelah muncul era compact disk (CD). Sejak saat itu, BUMN tersebut tidak mampu berkutik. Kondisi seperti itu semakin diperparah dengan pembubaran Departemen Penerangan sebagai induk. Teknologi rekaman kaset yang sederhana ternyata menumbuhkan den gan subur industri pembajakan. Sedemikian mengkhawatirkan, sehingga sejumlah pelaku industri musik bersepakat mendirikan organisasi anti pembajakan. Tercatat ada GIRI (Gabungan Industri Rekaman Indonesia), Asiri (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), ataupun APNI (Asosiasi Perekam Nasional Indonesia).

Studio-studio musik yang merekam lagu-lagu barat pun mengalami pasang surut. PT Gema Nada Pertiwi (GNP), misalnya, memproduksi kaset berisi lagu-lagu barat, karena khawatir piringan hitamnya rusak tergores. Oleh Hendarmin Susilo, Presiden Direktur, lagu-lagu yang disenanginya direkam ke pita seperempat inci dengan tape recorder Aiwa M8, yang saat itu, tahun 1969 termasuk paling canggih. Hasilnya ternyata mengesankan. Namun, perusahaan rekaman Hins Collection yang didirikannya tahun 1970 terpaksa ditutup karena tidak memiliki lisensi produksi lagu barat. Hendarmin mulai mengaktifkan GNP tahun 1984 dan produksi pertamanya adalah lagu keroncong yang dinyanyikan Gesang. Bekerja sama dengan Log Zhelebour, Iwan Sutadi Sudarta, perekam lagu barat lainnya, mendirikan Logiss Records tahun 1986. Tetapi baru merasa menikmati sukses bersama kaset Jamrud. Meski demikian, kini Iwan paling berani menerbitkan satu judul kaset untuk setiap label perusahaannya. Satu hal yang sama dilakukan Musica Studio’s. Awal tahun 1970-an Bali Record menjadi Metropolitan dan kemudian Musica Studio’s hingga sekarang. Indrawati Widjaja, anak Amin Widjaja, juga, keponakan nyonya Tjandra Herawati Wijaya, yang mendirikani perusahaan rekaman Atlantic Records (1977), perekam video: Trio Tara (1978), toko kaset dan CD Disctara (1986) dan, pabrik CD pertama di Indonesia Dynamitra Tara (1992).

Ketika industri musik sedang menikmati masa, keemasannya tahun 1997, hampir semua orang tak menyadari kehadiran seorang pelaku industri musik yang baru, Sutanto Hartono, Managing Director Sony Music Indonesia. Hingga grup-grup musik yang ditanganinya berhasil mencetak rekor penjualan kaset jutaan copy. Seperti grup asal Yogyakarta. Sheila On 7, grup asal Bandung /rif, dan 20 grup dan penyanyi Indonesia yang direkrutnya kemudian. Semula, yang ditangani Sutanto adalah lagu-lagu barat. Namun, dia lebih senang bila bisa mengorbitkan penyanyi atau grup musik Indonesia. Kini, bagai sebuah labirin (bangunan berlorong dan gang-gang ruwet), industri budaya sekarang semakin menyesakkan. Hak-cipta dilanggar dimana-mana dan semena-mena. Kepastian hukum nyaris nihil dalam bidang usahanya.  mi husnul m/berbagai sumber

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, november 2005, hlm. 86

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Surabaya dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Studio Rekaman, Surabaya

  1. Pengen rekaman berkata:

    adain studio rekaman di kabupaten sumenep, Madura dong.. :)

  2. bambang nurjaya berkata:

    Untuk pecinta lagu sunda tempo dulu yang ingin merekam ulang lagu sunda karya cipta kosamandjaya bisa menghubungi tlp 081802141297 (bambang nurjaya).lagu karya cipta kosamandjaya diantaranya.Talak Tilu,Bajing Luncat,Bangbung Ranggaek,Cikapundung,Orai Welang,Ngaronda,Pagetreng,Pateupang Dina Impenan,Cinta Lalamunan,Tumila di adu Boxen,Neang Popotongan,Cai Kopi dll.lagu-2 diatas pernah dipopulerkan oleh Upit Sarimanah,taty shaleh,Euis Komariah.Terima Kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s