Tayub Jawa Timur


Pagelaran Seni Pergaulan Gandrung Tayub Mangangkat Martabat Tayub

Hujan mengguyur sejak sore. Tetapi itu tidak menyurutkan semangat peminat budaya Jawa hadir di Pendapa Jayengrana, Taman Budaya Jawa Timur, medio Maret 2011. Ya, malam itu UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Taman Budaya Jatim mengadakan Pergelaran Seni Pergaulan ‘Gandrung Tayub’ yang menampilkan empat kelompok tayub dari Tuban, Nganjuk, Tulungagung  dan Malang.

Selain keempat kelompok tayub tadi, juga diselingi banyolan Cak Agus Cuprit dan Cak Tawar, pelawak RRI Surabaya, yang sekaligus bertindak sebagai pemandu acara (MC). Kepala UPT Taman Budaya Jatim, Sinarto, S.Kar. MM, mengatakan, pilihan kelompok tayub dari empat kota itu, berdasarkan kondisi riil tayub di daerah tersebut, yang memiliki perbedaan karakter mencolok, selain karena alasan teknis.

Beberapa perbedaan adalah terdapat pada gaya menari. Gamelan atau gending yang mengiringi, serta bagaimana cara menyajikannya. Misalnya kelompok Tayub Nganjuk, menampilkan gaya tari yang jenaka. Grup tayub dari Malang diiringi gending-gending Jawa Timuran. Demikian pula penampilan grup Tayub Tuban dan Tulungagung, memiliki ciri khas yang tak kurang menariknya.

Setelah parade tayub dari empat daerah, perwakilan waranggana  (penyanyi dan penari tayub), tampil bersama-sama mengajak tamu undangan untuk ngibing (menari) bersarna. Termasuk Kepala UPT, Sinarto, ketiban sampur untuk ngibing bersama waranggana. Ia juga memberi uang saweran, dalam amplop tertutup yang ditaruh di baki yang dibawa pelandang (pengatur giliran menari). Tayub biasanya digelar saat orang punya hajatan. Namun bisa juga digelar secara khusus atas alasan tertentu menurut kebutuhan komunitasnya.  Jenis tari pergaulan ini di Jawa Barat disebut jaipong, di Jawa Tengah dinamakan gambyong.

Versi tayub yang berbeda di beberapa daerah Jawa Timur ternyata juga memiliki sebutan yang berlainan. Sebutan  tayub itu sendiri dikenal di Nganjuk, Tulungagung, Kediri, Trenggalek, dan Blitar. Juga di Malang dan Situbondo, meski gayanya berbeda. Di Surabaya dinamakan tandhakan. Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan menyebut dengan istilah sindiran. Masyarakat Banyuwangi menyebut gandrung. Di daerah Lumajang dan Probolinggo tari pergaulan tempo doeloe disebut lengger. Di Madura dinamakan sandur dan tema pagelaran Gandrung Tayub, berarti cinta setengah mati terhadap tayub. Tayub pernah dihebohkan, karena dianggap tarian erotic. Penonton yang ingin menari bareng dengan penari tayub, harus memberikan uang saweran.

Saweran ini istilah Sunda. Di Jawa Timur disebut tembel. Ada juga yang menyebut tombok, yang langsung dimasukkan (maaf) ke kutang atau sela-sela payudara penari.  “Altermatifnya, disediakan tempat khusus seperti baki (nampan) untuk menempatkan tembel. Atau ada juga yang menyediakan semacam toples (tombang),” kata Sinarto. Dalam seni tayub ada beberapa elemen yang mendukungnya.

Penari tayub (waranggana) merupakan elemen utama. Sedang yang mengatur giliran pengunjung menari disebut pelandang atau pramugari (laki-laki). Pemusiknya disebut pengendang dan pembalung, sedang pengunjung yang ikut menari disebut pengibing. Sebetulnya ada yang menarik di Madura, yaitu penarinya dibawakan oleh laki-laki berdandan wanita.

Asal ‘Ndaplang’
Ciri khas tarian ini ditandai dengan penggunaan selendang atau sampur, yang dikenakan penari dan pengibing. Pihak pelandang atau yang mengatur siapa pengunjung yang berhak menari, akan dikalungi sampur sehingga kemudian pengunjung maju ke arena, dan menjadi pengibing. Biasanya dalam hajatan yang disemarakkan dengan tayub, minuman yang disajikan berupa tuwak (arak), dengan menggunakan gelas dari bambu.

Minuman keras ini yang terkadang membawa dampak kurang baik, yakni mendem (mabuk). Meski disebut tari tayub, pertunjukan ini tidak mengutamakan tariannya. Melainkan bagaimana menciptakan suasana yang akrab di kalangan pengunjung. Yakni dengan memberikan kesempatan mereka ikut maju ke arena, menari bersarna waranggana. Sehingga pertunjukan ini disebut tari pergaulan. Tidak heran tayub sering dijadikan sajian penghibur, untuk mencairkan suasana pada acara resmi, yang diadakan sebelum pertemuan formal berlangsung.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dr. Djariyanto, mengatakan, dalam kehidupan bentuk budaya pergaulan itu tidak pemah ada disiplin teknik, “Jadi wong njoged tayub itu asal ndaplang saja nggak ada orang menyalahkan,” ujarnya. Tidak ada pakemnya, tetapi memang ada yang namanya latihan langendriyan. Menurut Jariyanto, tayub itu ada pelatihannya. “Nanti pada suatu saat kalau masyaraklat membutuhkan, akan kita adakan pelatihan langendriyan,” kata dia saat ditemui Derap Desa, di tengah acara pagelaran tayub. la mengatakan, pihaknya ingin menumbuhkembangkan kehidupan gotong-royong, gugur-gunung, kerja sosial bersama-sama, itu bisa ditumbuhkan melalui komunuikasi kesenian sosial seperti ini.  “Makin banyak kegiatan-kegiatan sosial, melalui kesenian yang kita lakukan, makin menumbuhkan rasa kebersamaan diantara kita,” ujarnya.

Berikutnya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Prov Jatim, ingin menumbuhkembangkan kehidupan kesenian pergaulan, khususnya tayub, tandhakan, lengger, dan sebagainya yang ada di daerah-daerah yang selama ini peminatnya makin berkurang. Pemerintah wajib mendorong, untuk melakukan itu supaya ada revitalisasi tentang bagaimana pemutakhiran bentuk kesenian pergaulan seperti ini. ltu menjadi tanggung jawab seniman, pemerintah wajib mendorong dan memfasilitasi, supaya ke depan akan lebih semarak dan memberikan dampak yang positif.

“Kebersamaan, hidup rukun, dan tentrem itu yang penting,” ujarnya. Dijadwalkan agenda festival tayub akan diadakan tahunan. Tidak hanya festifal tayubnya, tetapi juga pemberdayaan terhadap seniman-seniman tayub. Harapan Jariyanto, tayub jangan sampai dimanfaatkan untuk kepentingan lain, yang akhirnya secara sosial tidak disenangi orang. Seperti memakai minuman keras, atau menimbulkan erotis, yang mengakibatkan pandangan masyarakat tayub itu remeh. Tandhak itu dianggap martabatnya kurang bagus. “Nah itu yang harus kita hilangkan, supaya masyarakat akan menilai bahwa seniman tayub itu ternyata punya predikat yang bagus juga,” kata Jariyanto. (eru)

Tayub dan Pengertiannya
Tari tayub atau acara tayuban merupakan salah satu kesenian yang mengandung unsur keindahan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari jaipong dari Jawa Barat. Unsur keindahan diikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan.

Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitan serta acara keberan misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa.

Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 9.00-03.00 pagi.

Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi ledhek. Tari tayub merupakan tarian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. Beberapa tokoh agama menganggap tari tayub melanggar etika agama, karena tarian ini sering dibarengi dengan minum minuman keras. Pada saat menarikan tari tayub sang penari wanita yang disebut ledhek mengajak penari pria dengan cara mengalungkan selendang yang disebut dengan sampur kepada pria yang diajak menari tersebut.

Sering terjadi persaingaan antara penari pria yang satu dengan penari pria lainnya, persaingan ini ditunjukkan dengan cara memberi uang kepada tledek (istilah penari tayub wanita). Persaingan ini sering menimbulkan perselisihan antar penari pria. (jat)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Derap Desa, Edisi 43 Mei 2011, hlm. 42-43

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Beranda, Kesenian dan tag , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Tayub Jawa Timur

  1. chafid cah uin jogja berkata:

    alhamdulilah… kebudayaan indonesia ternyata msaih ada juga yang dilestarikan.. dan saya harap tetap eksis dengan tanpa adanya unsur kemaksiatan seperti minum2 atau bertindak/berjoget terlalu bebas…

    • Trims komentnya, Anda dapat juga memperhatikan pada tarian lainnya seperti Gandrung Banyuwangi dsb…

      • chafid cah uin jogja berkata:

        iya.. saya bangga dengan kebudayaan indonesia salah satunya jawatimuran… saya peduli dengan budaya sendiri, dan saya selalu mencoba mengapresiasinya dengan berbagai hal…sayapun berniat akan ambil konsentrasi kebudayaan nanti dalam materi semester selanjutnya dlm matkul saya..

      • Ya begitu bung, kapan lagi? kita memang seharusnya bangga dengan keanekaragaman budaya banggsa kita, moga sukses…

  2. chafid cah uin jogja berkata:

    iya.. memang betul itu. trimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s