Galeri Lukisan


Bambang dan Fathoni Rintis Galeri Lukisan

Produktif di masa pensiun, kenapa tidak? Prinsip inilah yang dipegang dua kawan sejati, Bambang Widagdo dan Fathoni Gazali, sebelum benar-benar nanti memasuki masa pensiun. Pelan tapi pasti, dua orang sejawat ini bekerjasama mulai merintis usaha galeri lukisan dan barang-barang antik. Namanya adalah Galeri Mar’s & BW, untuk sementara bermarkas di Jl. Penjaringan Asri VI No 29 (Penjaringan Sari PS IIF-43) Surabaya dan di Resto Adobe, Jl. Jemursari (Prapen) Surabaya.

BAGI Bambang dan Toni -panggilan akrab Fathoni Gazali- masa pensiun sebenarnya bukanlah masa selesai berkarya. Justru pada saat sudah tidak terikat lagi dengan institusi tempat kerjanya nanti, orang bisa berkarya untuk dirinya, keluarganya, dan bahkan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Bambang dan Toni memang bukan pelukis, tapi punya predikat sebagai orang-orang yang menyukai lukisan. Atau, bisa juga dibilang sebagai kolektor lukisan dari pelukis-pelukis papan atas di bumi nusantara ini. Di antaranya pelukis Mozes Misdi (Banyuwangi), Dendy, Bangun Asmoro (Mojokerto), Anshory  (Jember), Soeboer Dullah, M Toyib, Soedjono Abdullah, dan lain-lain. Khusus pelukis Abdullah, mereka mengaku dalam perburuannya hanya mendapat reproduksinya saja.

Langkah pertamanya, dimulai dengan ikut pameran lukisan yang bertajuk Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) yang dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf, di Balai Pemuda Surabaya tanggal 7 -17 Mei 2010. PSLI ini melibatkan 390 pelukis dari berbagai penjuru tanah air, dan menyediakan 159 stan untuk  menampung karya para pelukis.

Wagub Syaifullah Yusuf juga mengaku menyukai seni, karena bisa membuat hidup lebih indah. “Saya mendukung PSLI ini karena bisa membantu banyak orang melalui aeara seni seperti ini. Terus terang saya tidak mengerti lukisan, tapi untuk menilai sebuah lukisan saya pakai hati. Kalau hati saya bilang bagus, ya saya beli,” kata Gus Ipul, panggilan akrab Syaifullah Yusuf. Program selanjutnya Bambang dan Toni akan tetap konsisten ikut pameran.

Bahkan, mereka sering ditawari teman-teman galeri mengikuti pameran di Jakarta dan Jogjakarta, namun untuk saat ini belum bisa dilakukan karena terbentur tenaga. “Nanti, setelah kami berdua benar-benar sudah pensiun, akan selalu mengikuti pameran di mana dan kapan pun,” ujar Bambang yang disambut anggukan Toni. Bambang dan Toni adalah teman akrab di Ubaya angkatan 77, saat ini masih aktif bekerja. Kalau Bambang di Bank Jatim sementara Toni sebagai PNS di Biro Administrasi dan Perekonomian Pemprov Jatim.

Menurut mereka, koleksi hasil perburuan selama beberapa tahun dari berbagai ragarn gaya lukisan menghasilkan lukisan bercorak ralistis-natural. Misal, lukisan pasar tradisional dengan penjual kembangnya, pemandangan alam, kapal/perahu, hewan (kuda dan harimau) dan masih banyak lagi. Namun, dari 60 koleksi lukisan dengan berbagai ukuran itu setidaknya ada tiga lukisan di antaranya sebuah karya perupa dari Bali yang tertulis tahun pembuatannya 1925, dan dua buah karya perupa asing. Lukisan-lukisan tersebut belum ditunjukkan pada semua orang karena masih mencari info keasliannya.

Prediksi mereka, tiga lukisan yang eksklusif tersebut akan menjadi primadona andai perburuan datanya sudah final dan betul-betul asli. Di bagian bawah lukisan itu tertera nama W. Ramsel yang menggambarkan api unggun (1956) dan suasana perkampungan nelayan karya B. Vilora (1957). Ada lagi karya perupa Belanda dengan inisial R. Menurut Bambang dan Toni, seandainya lukisan itu karya Rembrandt van Rinj, bisa dikatakan luar biasa. “Sebab, kalau menelusuri data sang perupa terkenal di Wikipedia Indonesia, Rembrandt adalah salah satu perupa terkenal dalam sejarah seni Eropa yang lahir 15 Juli 1606 di Leiden, Netherlands,” ujar mereka.

Karya seni yang boleh dibilang langka itu menggambarkan gembala ternak dengan dua ekor domba dan sapi di padang rumput dengan suasana kabut pagi daratan Eropa. Si penggembala duduk di pagar yang terbuat dari papan. Secara samar di lukisan itu tertulis angka 1625 dan dua kata yang salah satunya mengandung huruf R. “Huruf R ini mungkinkah bagian dari nama Rembrandt? Semuanya masih misteri bagi kami,” kata Bambang sambil melirik Toni.

Keunikan lain lukisan gembala ternak tersebut tidak dilukis pada kanvas, tetapi pada jati Belanda berukuran 37×27 cm. Secara detail lukisan itu akan terlihat jelas manakala menggunakan kaca pembesar. Dengan kaca pembesar setiap helai bulu domba dan rerumputan bisa terlihat dengan jelas dan hidup seperti bulu domba dan rerumputan. Andai data pelukis itu sudah diketahui secara valid, Bambang dan Toni yakin kalau lukisan itu karya Rembrandt, harganya akan bisa mencapai miliaran rupiah.ryan

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa TimurSAREKDA Jawa Timur, edisi: 008, 2010, hlm. 38

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Surabaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s