Makam Giri, Gresik


Ziarah Sunyi di Makam Giri

Tak bisa dipungkiri, wisata makam makin digemari. Karena banyak masyarakat sudah makin resah dengan Kehidupannya.

Gemeremang dzikir menyelimuti sudut-sudut makam Sunan Giri. Segenap peziarah berada dalam sikap takzim menghantarkan doa-doa. Tak ada suara berisik kecuali sayup-sayup terdengar lantunan kalam Illahi. Sejurus kemudian mereka masuk dalam suasana ekstase yang dahsyat di hadapan Yang Maha Agung. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang kian gersang ziarah ke makam wali. Kerap menjadi pilihan. Begitulah. Suasana makam Sunan Giri yang terletak di Giri Kedaton di kawasan Kebomas Gresik, tak pernah benar-benar sepi. Peziarah datang silih berganti, sendirian, sekeluarga, serombongan dari berbagai daerah. Mereka datang jalan kaki, naik kendaraan pribadi, atau carter bus lewat travel agency. Siang itu, sehabis mengambil air wudlu, Ali Aziz, 36 tahun, langsung masuk ke dalam bangunan di mana Sunan Giri dimakamkan. Ia datang bersama isteri dan anaknya yang baru berusia 2,5 tahun. Ali Aziz mengenakan kemeja putih, bersarung, dan berkopyah. Isterinya, Radliyah, mengenakan jilbab putih sambil menggendong anaknya.

Mereka pun segera bersimpuh di sisi makam dengan khidmat. Setelah setengah jam kemudian mereka keluar untuk melanjutkan perjalanan. Kunjungan kali ini dianggapnya istimewa karena hanya selang tiga hari setelah haulnya Sunan Ciri yang ke-500. Acara haulnya sendiri biasanya diadakan setiap Jumat di bulan Maulid Akhir, yang kali ini bertepatan tanggal 28 April 2006. “Ini hari ketiga saya berkunjung ke sini sejak haul diadakan Jumat kemarin. Saya tidak bisa berlama-lama setelah punya anak kecil. Tidak seperti dulu. Kalau dulu saya bahkan bisa menginap sampai tiga hari suntuk saat haulnya Mbah Sunan. Sekarang saya lihat sudah jarang orang menginap di sini,” ungkap pria asal Manyar Gresik.

Meski demikian, sambungnya, ia selalu melazimkan diri untuk ziarah ke makam Sunan Giri hampir setiap minggunya. Diupayakan setiap kunjungan selalu bersama keluarganya, termasuk anaknya. “Saya ingin mengajari anak saya sejak dini untuk mengenal lebih dekat dengan para wali. Sebab, terhadap wali kan tidak cukup hanya mengetahui saja. Bagi saya, anak-anak perlu mengetahui tempat makamnya, mengirim doa di situ, dan mengharap berkah Allah. Ini perlu dibiasakan,” tandasnya. Ditambahkan, kebiasaan yang dilakukannya seperti itu sarna seperti yang dilakukan keluarganya dulu. “Bapak saya dulu sering mengajak saya berkeliling ke makam-makam para wali. Sehingga, saya pun terbiasa berziarah seperti ini,” ucapnya.

Tak heran, ziarah yang dilakukan Ali Aziz bukan hanya di satu tempat atau di makam Sunan Giri saja. Ia juga kerap menyempatkan diri ke makam-makam lainnya di Gresik maupun daerah lainnya. Baik orang yang dimakamkan itu ada hubungan dengan Sunan Giri atau tidak. Dalam perjalanan kali ini saja, katanya, ia akan melanjutkan ziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim. Di waktu lain ia juga mendatangi makam-makam wali di Tuban, Surabaya, atau Pasuruan. Hari itu, selain Ali Aziz sekeluarga, banyak datang peziarah lain silih berganti. Ada sekitar tujuh anak-anak remaja putri, dua pasang keluarga bersama bayinya, dua pasang keluarga lainnya dengan dandanan modis, dan serombongan peziarah yang berjumlah sekitar dua puluh orang yang sebagian besar perempuan.

Suyanto, 52 tahun, ketua rombongan dari Mojokerto mengatakan, rombongan itu datang menggunakan bus yang dicarter khusus. Rombongan ini datang agak siang karena sebelumnya mampir dulu ke makam Troloyo, Mojokerto. Mereka, yang rata-rata sudah sepuh itu, tampak tak menggubris teriknya mentari. Rombongan ini langsung memilih tempat di sisi timur makam Sunan Giri. Mereka duduk di sela-sela makam lainnya yang juga dinaungi cungkup. Suyanto kemudian memimpin baca surat Yasin dan dilanjutkan tahlil, sebagaimana banyak peziarah membacanya. Sehabis itu, mereka tak segera beranjak. Mereka duduk-duduk dulu sambil selonjorkan kaki, melepas lelah. Ada yang tetap khusyuk, ada yang bercengkerama dengan temannya, dan ada yang langsung berdiri untuk melihat lingkungan sekeliling.

Meski diakui, kunjungan ke makam ini bukan kali pertama. Tapi bagi mereka, kunjungan dengan berombongan seperti itu berarti pula sebagai ajang rekreasi. “Apalagi kalau kunjungannya hanya ke satu atau dua tempat, maka kami bisa berlama-lama menikmati keadaan sekitar,” imbuhnya. Mereka juga rata-rata membawa bontotan makanan sendiri. Alasannya, kata Suyanto, dengan membawa makanan sendiri, mereka tak perlu repot mencari makan siang. Begitulah enaknya, tambahnya, kalau perjalanan ziarah ke lokasi yang dekatdekat saja. Kalau perjalanan ziarah ke makam wali songo yang mencapai beberapa hari. “Paling-paling kita hanya membawa jajan saja,” tukasnya.

WISATA ANDALAN
Jumlah kunjungan ziarah ke makam Sunan Giri, seperti hari itu, memang tak cukup banyak. Menurut M. Hasan Azhar, 55, Sekretaris Yayasan Sunan Giri, paling-paling antara lima puluh hingga seratus pengunjung. Mereka datang dari daerah yang dekat dengan wilayah Gresik. Berbeda dengan hari libur, Jumat Sabtu-Minggu, yang jauh lebih banyak Mereka yang datang bisa dari seluruh Indonesia. Apalagi saat haul, pengunjungnya bisa mencapai ribuan orang. “Kalau dihitung mungkin mencapai ratusan bus rombongan yang datang. Mulai dari sebelum hingga hari haul diadakan” ungkapnya. Karena, selama seminggu diadakan serangkaian acara dalam rangka memeringati Haul Sunan Giri yang ke-500 tahun.

Acara yang diadakan diantaranya, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) se Kecamatan Gresik yang diikuti 112 peserta pada 22 April. Kemudian, pada 26 April khataman Al-Quran dan pengajian untuk ibu-ibu. Disusul kemudian acara yang sama untuk bapak-bapak sehari berikutnya. Pada hari berikutnya, dilakukan tahlil akbar dan pengajian umum yang juga dihadiri para ulama, para pemangku makam, dan bupati. Kemudian acara haul itu ditutup dengan penampilan hadrah yang melibatkan anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah) se-Jawa Timur. Selama seminggu itu, Hasan  mengira, jumlah pengunjung bisa mencapai puluhan ribu orang.

“Mereka datang memang untuk mengikuti acara-acara itu, atau semata-mata ingin ziarah di hari baik tepat pada haulnya Sunan Giri. Macam-macamlah perilaku mereka,” tuturnya. Namun, harapnya, selain hari-hari tertentu seperti haul, hari-hari lain juga tetap banyak kunjungan. Sebab, demikianlah yang juga diharapkan pemerintah. Seperti diceritakan Hasan, beberapa waktu sebelumnya para pengelola wisata makam sempat dikumpulkan pemerintah di Semarang. Intinya, para pengelola makam se Indonesia diharapkan mampu mendongkrak pemasukan, entah bagaimana caranya. Peningkatan pemasukan ini ditekankan mengingat obyek-obyek wisata lain sedang lesu. Obyek wisata alam, misalnya, belakangan dihantam bencana bertubi-tubi. Imbasnya, pendapatan dari obyek wisata ini mengalami penurunan drastis.

Anehnya, katanya, mengapa wisata makam yang ketiban sampur untuk memenuhi target pendapatan daerah, ketika obyek wisata lain sedang minus. “Padahal, kita tidak jual produk. Orang datang ke sini kan untuk ziarah. Terserah masyarakat mau ziarah atau tidak. Tidak bisa ditarget-target sebenarnya,” tandasnya. Masih untung, ungkapnya, pihak yayasan mendapat bantuan dari Imam Utomo, Gubernur Jawa Timur. Ceritanya, sebelum pemilihan gubernur, Imam Utomo sering ziarah ke makam Sunan Giri. Sebelum pulang ia sempat melihat bangunan kecil di sisi selatan makam yang dipakai pengelola sebagai kantor. Kontan ia memerintahkan anak buahnya untuk segera membantu, dan bangunan itu direhab menjadi kantor yang representatif.

Jauh setelah itu, Imam Utomo kembali memberi bantuan untuk membangun musholla wanita di sisi barat makam. Pembangunan musholla itu, ungkapnya, rnenghabiskan biaya senilai Rp 100 juta lebih. “Kami hampir tidak ikut mengeluarkan uang sepeser pun untuk membangun musholla tersebut,” ucapnya.  Sebagai tempat wisata alternatif, sambungnya, penambahan fasilitas seperti itu memang dibutuhkan. Agar masyarakat bertambah nyaman berkunjung ke makam Sunan Giri. “Tak bisa dipungkiri, wisata makam makin digemari. Karena banyak masyarakat sudah makin resah dengan kehidupannya. Orang yang kehidupannya pas-pasan memang yang banyak ke sini. Tapi, tak sedikit orang kaya atau pejabat yang juga dating berziarah,” kesannya.  husnul rn/foto: m ismuntoro

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, Juni 2006, hlm.25

 

 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Gresik, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s