Topeng, Jawa Timur


Topeng Keberagaman Nusantara

Giat berlatih. Tetap lestari. Selalu siap tampil bagus di berbagai even. Tentu, termasuk di even Festival Topeng Nusantara (FTN), di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), Surabaya, 23-25 Agustus 2004. Itulah keberadaan topeng dalang  Pewaras, khas Sumenep. Komunitas seniman tari topeng ini eksis di Desa Salopeng, Kecamatan Slopeng. Di desa inilah mereka giat berlatih. Tak kenal letih, meski pagi hingga sore harus bersimbah keringat di tegal dan sawah, bertani.

Bagi seniman topeng dalang Sumenep, bisa tampil di even semacam FTN, merupakan kebanggaan. Meski kesempatan berlatih cuma malam, karena pagi hingga sore harus bekerja, dan itu pun tak terprogram ajeg, mereka tetap berusaha tampil all out. “Maklum, kami ini kelompok seniman tradisional. Baru berlatih kalau ada tanggapan,” kata Santuni (60), ketua topeng dalang Pewaras.

Di even FTN kali ini, kontingen Sumenep mementaskan lakon Perginya Pergiwo. Dalam bahasa Madura, Pergiwo Oncar. Lakon ini mengusung cerita perseteruan klasik antara Pandawa dan Kurawa. Cerita singkatnya, Pergiwo pergi meninggalkan keraton Madigondo karena difitnah Pandita Durna, Aswatama, dan Patih Sengkuni. Lakon berdurasi 20 menit ini tampil pada pertama FTN.

Sang dalang, Siman (63) , mengatakan durasi Pergiwo Oncar lazim dimainkan mulai pukul 21.00 hingga menjelang Subuh. Namun, dalam FTN, durasinya dibonsai, cukup 20 menit saja.” Istilahnya, pethelan (ringkasan) cerita,” ujarnya. Kontingen topeng dalang Sumenep juga didaulat memainkan tari topeng tunggal pada pembukaan FTN, berkolaborasi dengan topeng Ebras dari Malang. Tari tunggal ini memainkan Kelono Tunjung Seto. Menggambarkan perjalanan umat manusia sejak di dalam kandungan hingga masuk liang lahat.

Selain topeng talang, Sumenep di even FTN 2004 juga menampilkan sosok perajin topeng. Dia adalah Ahmad Hasan (40), asal Desa Marengan Laok. Kepiawaian memahat diwarisi dari ayahnya. Kayu bahan baku lazimnya mentaos. Selain murah, proses produksinya mudah. Sebuah topeng biasanya dia selesaikan dalam tempo empat hari. Maklum, sambil bekerja serabutan. Satu paket topeng lengkap berjumlah 30-an buah. Bisa lebih, sampai 40-50 buah, disesuaikan kebutuhan. Misal, lakon Semar Kembar atau Gatotkaca Kembar. Ahmad berharap di even FTN topeng karyanya laku. “Maklum, Mas, di Sumenep topeng sudah mulai pudar popularitasnya,” ujarnya.

Cinta Budaya
FTN 2004 merupakan hasil kerja bareng Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Seni dan Film dengan TBJT Agenda FTN selama dua hari itu, pagelaran seni tari topeng, bursa topeng, workshop topeng, diskusi, dan pameran. Pergelaran seni tari topeng (23/8) di Gedung Cak Durasim. Pesertanya: Sumenep, Madiun, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Bali, Malang, Kalimantan Timur, Maluku, Bengkulu, Jateng, Jogjakarta, dan Makassar. Masing-masing daerah menampilkan karakteristiknya.

Even pameran topeng digelar di pendapa TBJT Peserta even ini berasal dari seluruh propinsi. Tiap propinsi menampilkan lima jenis topeng. Namun, “Tidak semua propinsi memiliki topeng. Maluku, misalnya. Bahkan, tuan rumah Surabaya tidak dapat menampilkan topeng, karena di Jawa Timur hanya Malang dan Sumenep yang memiliki topeng,” ungkap Pribadi Agus S, Kepala TBJT Masing-masing daerah memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bahan, bentuk, ukuran, warna dan ekspresi topeng. Topeng Sumenep misalnya, mayoritas berukuran 17 x 15 cm, diameter 20-an cm, teksturnya halus, didominasi warna merah.

Diskusi ihwal topeng (24/8) diikuti kalangan seniman Surabaya dan perwakilan dari TBJT se-Indonesia. Materi diskusi tentang fungsi filosofi, sosial, dan religius toprng di masyarakat, serta topeng ditinjau dari seni rupa dan seni pertunjukan. Ihwal seluk-beluk topeng mulai dari proses pembuatan hingga watak topeng dari seluruh Indonesia, disajikan di workshop topeng selama dua hari. Diharapkan, pasea FTN, masyarakat mengetahui bahwa topeng bukan hanya ditampilkan saat pertunjukan. Setiap topeng juga punya makna tersendiri. Selain itu, lewat FTN ini masyarakat diharapkan dapat mengetahui keberagaman topeng di Indonesia. Kebhinekaan seni budaya. Kebesaran Indonesia tercinta. Akhirnya, layak diharapkan lahirnya nasionalisme cinta seni budaya sendiri. Semoga begitu. • Adjie, Alida

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 39, 27 Agustus – 10 September 2004, Th.II

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s