Soerabaia Post, Gedung Tua


Soerabaia Post, Gedung Tua Merana

Ketika misi kebudayaan Bank Dunia jalan-jalan di Kota Surabaya, ternyata keberadaan gedung-gedung tua di Kota Pahlawan ini amat memikat mereka. Keberadaan sejumlah gedung tua itu merupakan cite archeological tempo doeloe yang harus dilestarikan. Sebagai cultural heritage (warisan budaya), keberadaannya bisa menjadi andalan objok dan daya tarik wisata budaya. Contoh, Gedung Parlemen di Ingggris, Gedung Capitol di Amerika Serikat, atau Gedung Sate di Bandung.

Sejumlah bangunan tua di Surabaya termasuk cite archeologcal in tangibel. Sebagian sudah dipugar tanpa mengubah bentuk aslinya. Layak dinikmati wisatawan. Hotel Yamato (Hotel Majapahit), dan Gedung Grahadi adalah sebagian diantaranya. Namun ada satu “sosok” gedung yang tampak telantar, yaitu gedung Soerabaia Post.

Gedung Soerabaia Post  terletak di Jalan Pahlawan No.116, menghadap ke barat. Secara administratif masuk wilayah Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan. Jalan ini dahulu disebut Aloona/aloon Staat, dan termasuk kota atas. Dahulu di depan gedung ini terdapat Stadtuin (taman kota). Sekarang menjadi gedung Bank Indonesia. Sekarang lingkungan di sekitar gedung ini adalah perkantoran, gedung bioskop, dan museum.

Gedung tua ini masih berdiri kokoh, namun kurang terawat. Seluruh dinding luarnya tampak kotor. Lama tak dilumuri cat, njamur di sana-sini. Pagar sisi luar (Iantai dual kusam. Secara keseluruhan gedung ini boleh dibilang tidak terpelihara. Hal yang lebih memberi kesan kumuh adalah, di sekitar gedung banyak terdapat pedagang kaki lima (PKL). Bahkan, posisi berjualan PKL sampai menjorok ke depan, memakan badan jalan, mengganggu pengguna jalan. Ada PKL buku, asesoris, garmen, makanan, dan aneka lainnya. Banyak dan semrawut.

Sekitar 1920

Malang nian gedung segi empat simetris itu. Padahal, artistik. Simak sisi depan dan kiri-kananya, banyak jendela tinggi berjajar, berfungsi sebagai ventilasi udara untuk menyiasati Surabaya yang panas. Jendela-jendela itu tertutup kaca bening. Pintu masuk utama di sisi barat. Tidak terdapat serambi atau porch. Sebagai gantinya terdapat canopy dari logam berbentuk seperempat lingkaran yang menaungi tangga masuk hall. Di kiri kanan masuk ruang utama terdapat tangga ke ruang samping. Tangga masuk ruang utama dari marmer, tangga masuk ruang samping dari kayu untuk bidang datar dan perunggu untuk bidang tegaknya,  Artistik.

Demikian pula pegangan tangga, terbuat dari perunggu yang semuanya bermotif krawangan dan sulur-sulur. Lantainya marmer berukuran 60 x 60 em. Di sisi kiri kanan hall terbagi atas ruang-ruang kecil. Sekarang disewakan untuk counter HP surat kabar, dan sebagainya. Sedangkan hall dipetak-petak dengan pembatas kayu sehingga menjadi ruang-ruang sempit dan pengap. Diperkirakan gedung ini di bangun sekitar tahun 1920-an, bergaya ekletisisme.

Ciri yang khas dari gedung ini adalah, adanya menara segi empat yang terdapat di kiri-kanan pintu masuk utama. Atap tower ditutup kubah logam segi empat berbentuk mahkota pada ujungnya. Sepanjang tower dari atas ke bawah terdapat jendela, pintu, dan lubang-lubang segi empat simetris horisontal dan vertical yang berfungsi mengalirkan udara ke atap dan seluruh ruangan. Pada bidang-bidang datar di bagian atas dihiasi dentil (tonjolan segi empat kecil). Dinding sisi depan pada bagian paling atas di kiri-kanan tower terbagi atas tiga panil. Tiap panil dihiasi sulur. Di atas panil-panil itu terdapat segi tiga berjajar, masing–masing tiga buah di kiri-kanan tower.

Gedung Soerabaia Post tidak diketahui dengan pasti tahun pembuatannya. Namun, menyimak ciri-ciri arsitekturnya, terutama bentuk tower kembar dengan penutup kubah di atasnya, diperkirakan mode arsitekur kolonial Belanda yang berkembang sekitar tahun 1920. Berdasarkan foto-foto lama zaman kolonial Belanda, gedung ini disebut Soerabia Handddelsblad, digunakan oleh Fa Prottel seperti yang tertera pada dinding atas, di antara dua tower.

Pad a zaman penjajahan Jepang, gedung ini digunakan untuk kantor surat kabar Soeara Asia, yang kemudian direbut Jepang dan dijadikan kantor berita Domei. Pada 17 Agustus 1945, dari gedung ini diterima berita Kemerdekaan Republik Indonesia dalam bentuk morsecast, kemudian disebarkan luaskan esok harinya. Gedung ini termasuk bangunan yang dilindungi dan dilestarikan keberadaannya, seperti tertuang dalam SK Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 188.45/251/402104/1996 Sayangnya, yaitu tadi, tidak terawat. GM-BP3

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi  39, 27 Agustus – 10 September 2004, Tahun II 

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya, Wisata Sejarah dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s