Soepeno, Menteri


Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan UUD 1945 serta Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia ditetapkan, para politikus muda mengambil peran melaksanakan tugas-tugas negara. Termasuk Soepeno yang merupakan konseptor berbagai perubahan dalam membentuk badan-badan kelembagaan negara. Bersama para anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dia mengajukan gagasan kepada dwitunggal Soekarno-Hatta, untuk mengadakan sidang KNIP. Usulan tersebut diterima. Lalu dibentuklah Badan Pekerja KNIP, dengan Soepeno sebagai ketuanya. Hal ini terjadi setelah dikeluarkannya Maklumat Negara RI No X pada tanggal 16 Oktober 1945. Pada jaman pendudukan Jepang, Soepeno muda menjadi pegawai Jawa Hokokai. Di tahun 1943 Soepeno menikahi gadis bernama Tien yang hingga kini masih hidup. Ketika itu, Soepeno termasuk pemuda yang aktif dalam organisasi yang menentang penjajah, seperti Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (Baperppi). Aktivitasnya itulah yang membuatnya cukup dekat dengan Bung Karno dan Bung Hatta.

Pada 1947 di saat Bung Hatta memimpin kabinet Presidensiil, Soepeno diangkat sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda. Masa-masa sulit ketika itu menjadi bagian kisah yang tak bisa dihindari oleh para pemimpin negara karena Belanda melancarkan agresi militer kedua pada Desember 1948. Ibukota Yogyakarta sempat diduduki oleh Belanda dan para pemimpin negara ditangkap. Sebagai anggota Pemerintah Pusat yang masih bebas, Soepeno menggerakkan roda Pemerintahan di daerah yang belum dikuasai rakyat. Hal itu membuatnya dia dijuluki sebagai menteri gerilya.

Namun petualangan Soepeno berakhir pada Kamis 24 Februari 1949. Saat itu, Soepeno yang sedang mandi ditembak oleh tentara Belanda. Bersama pejuang lainnya, dia dibawa ke Dusun Ganter, Desa Ngliman, Nganjuk. Soepeno yang memakai baju warok tidak mengaku sebagai menteri ketika diinterogasi. Hal ini demi menjaga negara dan melindungi kawan-kawan seperjuangannya. Tentara Belanda yang sudah menaruh curiga dibuat kesal oleh tindakan tutup mulut Soepeno. Serdadu Belanda menjadi dongkol, lalu meletakan senjata yang ada di tangannya ke pelipis Soepeno sebelah kiri. Walaupun demikian Soepeno tetap tegar. Adegan ini jelas dapat dilihat oleh anggota-anggota rombongan gerilyawan lain yang mengintip dari rumah Kromo Dul. Mereka melihat wajah Soepeno yang mencerminkan ketetapan hati yang kokoh, tiada takut menghadapi bahaya yang dekat. Tiba-tiba terdengar bunyi dor. Serdadu Belanda melepas tembakan dan pelurunya menembus kepala, Soepeno roboh dan bersama enam kawan setianya yang lain dieksikusi oleh tentara Belanda di dusun Ganter di Gunung Wilis. Menteri gugur pada usia 33 tahun. Sekarang ini lokasi penembakan Soepono didirikan monument, yang dikenal sebagai MONUMEN SOEPENO atau MONUMEN GANTER.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Napak Tilas Sejarah Pahlawan Nasional Selama Berjuang di Nganjuk . Nganjuk: Bagian Humas,PDE & Santel Pemerintah Kabupaten Nganjuk, (2007).

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Sosok dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s