Kapten Kasihin, Pejuang Kemerdekaan


Desa Kedungombo, Warujayeng dijadikan markas oleh Yon 22/Sriti Kompi II pada masa-masa perang kemerdekaan. Di bawah pimpinan Kapten Kasihin sebagai pimpinan Kompi II, desa ini memiliki arti strategis militer tersendiri jika dibandingkan dengan desa lain. Sebab secara geografis letak desa Kedungombo berada di tengah-tengah antara posisi pos-pos militer Belanda dan posisi kompi Yon 22/Sriti. Posisi desa lebih terlindung dan baik untuk pertahanan. Sehingga untuk kepentingan perhubungan dan koordinasi relatif lebih mudah dan cepat.

Desa Kedungombo menjadi daerah basis militer yang ada di sebelah barat sungai Brantas. Beberapa kesatuan lain seperti Seorti CPM, Yon 38 Resimen 34 Surabaya (Marinir), Barisan M, Barisan Rahasia (BARA), dan Batalyon Pancawati (tidak menetap) juga mehetapkan Kedungombo sebagai pusat strategi. Mereka menempati rumah-rumah penduduk setempat yang memungkinkan mereka tempati sebagai markas perjuangan.

Sementara Kapten Kasihin, Letnan Siswohandjojo dan Letnan Joesoef di rumah Bapak Poerwodiharjo Para pejabat pemerintahan Kabupaten Nganjuk ketika itu juga ada disana. Seperti Bupati Nganjuk Mr. Gondowardojo dan Patih Djojokoesoemo di rumah Bapak H. Nur. Wedana Anam di rumah Bapak Dipo dan Camat Afandi di Rumah Bapak Djojosoemarto.

Selama perang gerilya perbekalan sangat sulit untuk dikirim dari markas ke tempat perjuangan. Termasuk di desa Kedungombo juga tidak pernah dikirimi perbekalan. Oleh sebab itu semua kebutuhan dicukupi penduduk setempat, termasuk bahan makanan dan pakaian.

Sedangkan amunisi dan bahan peledak tetap dikirim dari kesatuan. Peran penduduk sangat menentukan dalam perjuangan bangsa. Mereka tidak hanya menyediakan tempat dan makanan, tetapi juga menjadi pelaku langsung dalam setiap perjuangan. Hal ini dibuktikan bahwa yang gugur dalam pertempuran di Kedungombo tidak hanya yang tercatat sebagai tentara resmi, tetapi juga penduduk sipil setempat.

Kira-kira pukul 09.00 WIB Kapten Kasihin bersama dengan pengawalnya yang bernama Susah berjalan dari selatan (Tawangrejo) menuju ke arah utara. Baru berjalan beberapa ratus meter mendapat laporan dari seorang mata-mata Republik, bahwa Belanda sudah berada di Balai Desa (berjarak lebih kurag 600 meter dari tempatnya).  Mendapat laporan demikian Kasihin tidak menghiraukannya dan terus berjalan ke arah utara.

Beberapa menit kemudian terdengar beberapa kali tembakan di pertigaan gang utara SDN Kedungombo I dan ternyata Kapten Kasihin terkena tembakan. Walaupun sudah tertembak ia berusaha lari ke arah timur sejauh lebih kurang 1 km dan masuk ke dalam rumah seorang penduduk di Tawangsari (rumah Bapak Rasio). Di rumah ini Kapten Kasihin mendapat perawatan tuan rumah sekitar 30 menit, sebelum Belanda menemukannya. Belanda yang mengetahui ada orang tertembak terus mengejarnya dan akhirnya menemukan Kapten Kasihin diturunkan di lantai dan kemudian dibunuh di tempat itu juga, sekitar pukul 09.30 WIB.

Menurut penuturan Ibu Parmi (istri Rasio) yang waktu itu di rumah hanya bersama dua orang anaknya yang masih kecil (satu masih digendong), bahwa Kapten Kasihin sebelum diketemukan Belanda sempat minta minum. Saat akan diberi minum itulah Kasihin mengucapkan kata-kata yang terakhir …. .. : Nggih ngeten niki Bu lhae nglabuhi negeri. ….. (Ya begini inilah, Bu, membela negara).

Setelah dibunuh, Kapten Kasihin ditinggalkan begitu saja oleh Belanda (menurut Ibu Parmi ketika Belanda mengetahui bahwa yang dibunuh berpangkat Kapten, mereka kemudian hormat kepada jenazah Kapten Kasihin. Tanda kepangkatan dilepas dan dibawanya). Jenazah Kapten Kasihin kemudian oleh para pejuang bersama rakyat dibawa ke rumah Kepala Desa untuk diberi penghormatan dan setelah itu dimakamkan di makam Kedungombo di dekat makam Kopral Banggo yang sudah dulu gugur di Desa Josaren Kecamatan Tanjung Anom.

Untuk mengenang jasa Almarhum Kapten Kasihin, sekarang ini di alun-alun Kabupaten Nganjuk berdiri kokoh monumen Kapten Kasihin menghadap ke arah selatan Jl. Ahmad Yani.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Napak Tilas Sejarah Pahlawan Nasional Selama Berjuang di Nganjuk. Nganjuk: Bagian Humas, PDE & Santel Pemerintah Kabupaten Nganjuk, (2007).

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Nganjuk, Sejarah, Sosok dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s