Politik Nusantara Gajah Mada: Persatuan Nusantara di Bawah Panji Majapahit


-2007-

Oleh: Danang Wahyu Utomo, S.S.
Persatuan Nusantara di bawah panji-panji Majapahit ini tidak terlepas dari upaya yang dilakukan oleh Gajah Mada sebagai patih hamangkubhumi. Gajah Mada adalah seorang pejuang sejati karena ia meniti karir benar-benar mulai dari bawah. Mengenai Gajah Mada sendiri tidak banyak yang dapat diungkapkan karena usal-usulnya tidak begitu diketahui dengan jelas. Ia memulai karirnya di Majapahit sebagai bekel, sebuah jabatan yang tergolong rendahan. Karena usahanya yang telah berhasil menyelamatkan pemerintahan raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti, maka sebagai penghargaan atas jasa-jasanya ia diangkat sebagai patih di Kahuripan pada tahun 1319 M. dua tahun kemudian (1421 M) ia diangkat sebagai patih di Kadiri.

Pada tahun 1329 M, patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Lalu ia mengusulkan Gajah Mada yang saat itu masih menjabat patih di Kadiri sebagai penggantinya. Usulan tersebut tidak serta merta disetujui oleh Gajah Mada sendiri tetapi ia akan menerima jabatan tersebut dengan terlebih dahulu ingin membuat jasa pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu tengah melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhimya takluk dan seiring dengan itu Gajah Mada diangkat sebagai patih hamangkubumi di Majapahit pada tahun 1334 M.

Pada waktu pengangkatannya ia mengucapkan sumpah palapa, yakni bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum ia dapat menundukkan nusantara. Dengan kata lain ia baru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang diartikan kenikmatan duniawi jika telah berhasil menaklukkan nusantara. Teks sumpah palapa tersebut dimuat dalam Kitab Pararaton yang berbunyi sebagai berikut:

“sira Gajah Mada pepatih hamangkubhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”.

yang artinya sebagai berikut:
Gajah Mada sang Maha patih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada:
“Selama aku belum menyatukan nusantara, aku tak kan ,menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan pulau Gurun, pulau Seram, Tanjungpura, pulau Haru, pulau Pahang, Dompo, pulai Bali, Sunda, Palembang,Tumasik, aku tak kan mencicipi palapa”.

Pengangkatan Gajah Mada sebagai patih hamangkubhumi terjadi pada masa pemerintahan Tribhuwana Wijayottunggadewi. Kemudian Gajah Mada sempat mendampingi Hayam Wuruk sebagai raja muda (rajakumara) yang mendapat kedudukan Jiwana (Kahuripan).

Sumpahnya tersebut dibuktikan oleh Gajah Mada dengan menaklukkan Bedahulu (Bali) danLombok(1343 M) terjadi dalam masa pemerintahan Tribhuwana Wijayottunggadewi. Kemudian menaklukkan negeri-negeri di Swarnadwipa (Sumatra) yaitu Palembang, Tamiang, dan Samudra Pasai. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung kutei, dan Malano. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389 M), Gajah Mada juga berhasil menaklukkan negeri-negeri di wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo. Diduga tidak semua daerah tersebut ditaklukkan dan dikuasai secara politis melainkan memberikan pengakuan atas kedaulatan Majapahit. Dalam hal ini Majapahit memperoleh legitimasi dari penguasa-penguasa daerah lain sehingga dalam beberapa hal Majapahit dapat dikatakan memberikan pengaruh yang cukup kuat bagi daerah-daerah tersebut, misalnya dalam hal perdagangan.

Menurut Kakawin Nagarakertagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi hampir seluas wilayah Indonesia modern, termasuk daerah-daerah di Sumatra bagian barat, Maluku, Papua bagian timur, dan beberapa Negara Asia Tenggara. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat Majapahit (tidak secara politis), tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli oleh raja.

Mengenai Gajah Mada juga disebutkan dalam prasasti Singhasari yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singhasari, Malang. Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya/candi pedarman yang dilaksanakan oleh Gajah Mada. Pedarman tersebut diperuntukkan bagi tujuh raja diantaranya Sri Tribhuwanottunggadewi dan Sri Maharaja Rajasa Jayawisnuwarddhani beserta Sri Paduka Kertanagara yang gugur bersama-sama semua cucu-cucunya dan para brahmana pemuja Siwa dan Buddha. Alasan dibangunnya pedarman tersebut dimaksudkan agar para keturunannya sepaya berbakti kepada para leluhur. Ini menunjukkan salah satu bentuk loyalitas dan perhatian yang diwujudkan dengan cara berbakti kepada leluhur yang telah tiada.

Kuatnya persatuan dan kesatuan di Majapahit mengilhami seorang pujangga bernama Mpu Tantular menulis sebuah kakawin yang bernama Sutasoma. Kakawin tersebut ditulis dalam lindungan Sri Ranamanggala pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk pada tahun 1385 M, ditulis dalam bahasa Jawa Kuna dan merupakan boddJzacarita (cerita bersifat Buddha). Salah satu yang mendasari penulisan kakawin Sutasoma adalah masalah keagamaan yang rupanya tetap dirasakan aktual pada jaman Majapahit adalah hubungan antara agama Hindu dan agama Buddha Mahayana. Pada jaman Majapahit, agama Hindu dan Buddha Mahayana diungkapkan adanya pemadanan kedewataan Hindu dan Buddha. Ungkapan tersubut tersurat dalam Kakawin Sutasoma pupuh (bab) CXXXIX yang berbunyi sebagai berikut :
” …… … nvaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa bhinneka rakwa ring apan ke parwwanose n mangkaang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal bhinneka tunggal ika tan hana dhanna mangrva ………. “

yang artinya sebagai berikut:
” …. …. .. dikatakan bahwa (mereka) yang terpilih, Buddha dan Wiswa (=Siwa), merupakan dua elemen dasar, tidak tunggal terpisah itu konon, karena dapat segera dibagi dua (padahal) dalam pada itu ke-Jina-an (=kebuddhaan) dan kebenaran Siwa itu tunggal itu terpisah (tetapi juga) tunggal, tak ada kebenaran yang mendua …….. “

Bait tersebut merupakan salah satu gambaran telah terbentuknya rasa persatuan dan kesatuan yang sudah tejalin dengan baik kala itu yaitu tercermin dari kehidupan pemeluk dua agama besar Hindu dan Budha yang hidup rukun berdampingan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Desawarnana, Buletin Arkeologi, No. 04-2007, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala provinsi Jatim, Departemen kebudayaan dan Pariwisata. hlm. 38-40

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Mojokerto, Sejarah dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s