Provinsi Batik


-Agustus 2010-
Provinsi Batik
Beberapa program peningkatan telah dilakukan di antaranya mendeklarasikan batik khas Jawa Timur sebagai salah satu upaya pengembangan industri rumahan yang tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota Di Jawa Timur. Bersamaan dengan itu dibuka pula pusat pameran industri kecil menengah.

Potensi kerajinan batik di Jawa Timur menyebar di seluruh kabupaten/kota. Hampir seluruh daerah Jawa Timur ditemukan sentra kerajinan batik meski hanya skala kecil. Batik yang diproduksi oleh sentra-sentra industri di Jawa Timur ini memiliki ciri khas masing-masing yang secara kasat mata bisa dibedakan. Umumnya masing-masing pengrajin menampilkan motif alam sekitarnya.

Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit, maka batik berkembang di sini. Batik juga berkembang di Tulungagung sebagai daerah pengembangan Kerajaan Majapahit saat itu. Tulungagung yang sebagian wilayahnya rawa-rawa (Bonorowo), saat itu dikuasai oleh Adipati Kalang, yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Majapahit.

Daerah pembatikan di Mojokerto sekarang terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Di luar Kabupaten Mojokerto, batik juga ditemukan di Jombang. Mojokerto sebelumnya dikenal dengan batik Kalangbret. yang coraknya hampir soma dengan batik-batik keluaran Yogyakarta: dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

Tempat pembatikan yang dikenal sejak lebih dari seabad yang lalu di Mojokerto adalah Desa Majan dan Simo. Batik Majan juga mempunyai riwayat sebagai peninggalan zaman peperangan Pangeran Diponegoro 1825. Warna babaran batik Majan dan Simo dikenal unik, merah menyala (yang diperoleh dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom.

Darah Ponorogo pada awal abad XX juga dikenal sebagai daerah batik yang dalam pewornaannya menggunakan nila yang tidak luntur. Akibat batik cop kasor diproduksi secora missal yang dikenal dengan batik cap mori biru, pasoran batik cap kasar Ponorogo terkenal seluruh Indonesia.

Mojokerto, Jombang, Tulungagung, dan Ponorogo yang tidak begitu dikenal dalam peta industri batik, sampai sekarang masih ada sisa jejak kerajinan batik. Batik masih berkembang di Sidoarjo, Madura, Tuban, Blitar, Banyuwangi dan daerah-daerah lainnya.

Batik Madura, memiliki ciri khas dengan motif batik pantai dengan warna cenderung gelap, merah gelap, bahkan dipadukan dengan warna hitam yang merupakan warna yang disukai oleh masyarakat Madura.

Batik Sidoorjo menampilkan motif udang dan ikan serta dedaunan: tapi juga menampilkan warna gelap. Sementara batik Surabaya lebih mengarah pada motif bebas imprisonis meski tetap natural dengan warna-warna terang, abu-abu atau coklat cerah.

Demikian juga Kota Malang, juga tidak mau ketinggalan dalam usaha pelestorian batik. Batik yang diproduksi pora pembatik di kota pendidikan itu memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lain. Motifnya juga tidak jauh-jauh dengan Jombang, Kota Malang, cerabut ‘rambut singa’. Selain itu juga tugu Kota Malang yang menjadi lambang kota tersebut juga tidak ditinggalkan.

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit di Jawa Timur, namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata. Tidak salah jika perkembangan batik di Mojokerto, dan Tulungagung pada masa kemudian lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Batik memiliki basis budaya yang kuat, terutama di masyarakat Jawa. Di Jawa Timur batik tersebar di hampir seluruh daerah kabupatenkotadengan ciri khas yang berbeda-beda sesuai alam dan kemampuan pembatik setempat.

Di Madura, usaha pembatikan terbesar di empat kabupaten. Madura memiliki ciri khas warna gelap dengan ornamen Alam sekitarnya. Tuban dikenal dengan batik gedognya, Sidoarjo dengan Batik Kenongo. Usaha yang sama juga ada di Jombang, Kediri, Banyuwangi, bahkan juga berkembang di kota besar Surabaya, yang masing-masing juga menampilkan ciri khas masing-masing.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Timur (Jatim) Nina Soekarwo telah mendeklarasikan batik khas Jatim. Batik tersebut bermotif ayam Bekisar dan bunga teratai.

Pemilihan motif ayam bekisar dan bunga teratai sebagai motif khas batik Jatim mengingat ayam bekisar adalah ayam yang asalnya dari daerah Sumenep dan sudah dibudidayakan di banyak daerah Jatim. Sementara bunga teratai adalah lambang kedamaian yang digunakan sejak Jaman Majapahit.

Hingga saat ini, dari 36 daerah di Jatim yang memproduksi batik, 18 daerah sudah memiliki ciri khas. Di antaranya batik Surabaya, Sumenep, Bangkalan, Tuban dan Sidoarjo.

Bukan Sekadar Melestarikan
Batik yang sempat diklaim milik negara lain kini mulai kembali menjadi milik masyarakat Indonesia sepenuhnya, setelah pada 2 Oktober 2009 diakui secara resmi oleh UNESCO yang menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi (masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity). Pengakuan Unesco itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari batik nasional yang kembali membangkitkan semangat nasionalisme dan ekonomi para pengusaha batik di Indonesia.

Perkembangan batik di berbagai wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur saat ini cukup signifikan. Ini ditandai dengan bermunculnya industri skala mikro kecil maupun skala rumah tangga yang terus menghasilkan produk dengan motif dan pewarnaan khas yang dipengaruhi oleh karakter daerah masing-masing.

Total industri kerajinan batik di Jawa Timur yang tercatat sebanyak 191 sentra industri keeil dan menengah yang tersebar di kabupaten/kota. Industri batik, dikelompokkan dengan industri bordir, tenun dan produktekstil. Jumlah unit usaha tercatat sebanyak 5.926 dengah tenaga kerja sebanyak 21.000 orang lebih. Total nilai produksi tidak kurang Rp 243 milyar setahun.

Kontribusi industri batik, meski masih skala rumahan, memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Dari 5,01 pertumbuhan ekonomi Jatim 2009, sekitar 53,l % berasal dari Usaha Kecil Menengeah yang mayoritas dari perajin, yang di antaranya adalah pengrajin batik.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan melakukan pembinaan secora khusus kepada perajin untuk meningkatkan kemampuan skill membatik, selain memberikan bimbingan manajemen kepada para pengusaha baik beserta fasilitas untuk mendorong perkembangan usaha, termasuk fasilitas pameran di banyak daerah. Bimbingan teknis membatik diberikan untuk menumbuhkan perojin-perajin boru di kalangan generosi muda selain ibu-ibu rumah tangga yang berminat berwiraswasta atau sekador mengisi waktu senggangnya di sela-sela kesibukan sebagai ibu rumahtangga.

Pameran yang diselenggorakan berkaitan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Gromedia Expo Mei lalu, diberi tajuk “Membangun Ekonomi Jawa Timur Melalui Pengembangan don Peningkatan Kreativitas Kerajinan Batik Sebagai Wujud Pelestorian Budaya, Khas Daerah.”

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggali produk khas Jatim. Tidak hanya batik akan tetapi sulamam, kerajinan kayu, dan kerajinan lainnya. Sebab industri kerajinan ini memiliki potensi yang eukup besar untuk bias berkembang.

Ketua Dekranasda Jatim, Ny. Nina Soekarwo meyakini, bahwa industri kerajinan adalah salah satu industri yang mampu bertahan di tengah himpitan krisis. Hal ini disebabkan karena pelaku industri ini lebih dipengaruhioleh hobi dan tradisi. Sehingga biasanya mereka akan lebih kreatif dalam mengembangkan bisnisnya.

Saat ini ada sekitar 191 sentra Industri Kecil Menengah (IKM) di seluruh Jatim. Sementara pengrajin batik, bordir dan tenun mencapai 5.926 pengrajin yang bisa menyerap sekitar 21.000 tenaga kerja dengan omset meneapai Rp243 miliar per tahun.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim melakukan terobosan untuk menyiasati banyaknya kerajinan yang tersebar di 38 kabupaten/kota se Jatim dengan membuka ruang pamer East Java Craft Centre (EJJC) di Sekretariat Dekranasda, Jalan Kedungdoro, Surabaya.  EJCC ini menjadi jendela usaha kecil dan menengah (UKM) untuk berinteraksi langsung dengan konsumen.

Pembangunan ruang pamer itu dilatar-belakangi sulitnya tamu dari luar Jawa Timur yang ingin membeli oleh-oleh khas Jatim. Di ruang pamer ini dipajang berbagai produk industri kecil dan kerajinan khas Jawa Timur. Lokasi ruang pamer yang berada di jalan protokol itu, diharapkan akan dapat mempromosikan seluruh hasil kerajinan Jatim secara efektif dan efisien.

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim yang sebagian besar disumbang oleh sektor UMKM memacu Dekranasda Jatim untuk memacu pertumbuhan UKM. Upaya lain yang dilakukan adalah mendekatkan para pelaku industri kecil dengan dunia perbankan untuk memperoleh kemudahan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profile Jawa timur: The Great of East Java, Surabaya: Agustus 2010, Hlm. 133-141.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s