Masjid Kuno Jawa Timur: Masjid Donopuro Madiun


-1999-
Secara administrasi Masjid Donopuro terletak di Jalan Asahan Nomor 45, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kotamadia Madiun, Jawa Timur. Kotamadia Madiun terletak di dataran rendah antara 111°_112° BT dan 7°_8° LS. Di sebelah barat masjid terdapat makam kuno. Luas makam dan masjid sekitar 28.960 m2, dan bangunan masjid sendiri berukuran 36 x 47 m. Letak masjid di tengah perkampungan penduduk. Masjid dikelilingi bangunan- bangunan baru yaitu di sebelah utara terdapat Kantor Urusan Agama Kecamatan Taman, di sebelah selatan Kantor Kelurahan Taman dan rumah juru pelihara makam kuno Taman, di sebelah timur jalan arteri primer (jalan Asahan) yang menghubungkan Kotamadia Madiun bagian selatan dengan utara.

Makam kuno yang berada di belakang (barat) masjid merupakan kompleks makam Bupati Madiun. Di dalam kompleks makam terdapat II makam bupati. Kompleks makam mempunyai empat buah pintu masuk, yakni dua pintu masuk sebelah timur dan dua buah di sebelah barat. Pintu masuk sebelah barat dibuka hanya pada waktu banyak pengunjungnya saja, sedangkan pintu sebelah timur dibuka setiap hari. Tiap-tiap makam mempunyai halaman sendiri-sendiri yang dipisahkan oleh tembok pembatas, serta masing-masing makam memiliki gapura atau pintu.

Deskripsi Bangunan
Bangunan masjid berukuran 36 x 47 m, berdiri di halaman seluas 28.960 m2. Masjid ini memiliki ruang utama, serambi, pawestren, dan tempat wudhu.

Ruang Utama
Bangunan mang utama mempunyai ukuran 11,60 x 11,60 m. Lantainya dari tegel berwama abu-abu dengan ukuran 20 x 20 cm. Dindingnya dari tembok. Pada ruang ini terdapat empat buah tiang utama yang terbuat dari kayu jati berbentuk bulat. Selain itu, terdapat lima buah pintu, yaitu tiga buah menghubungkan dengan ruang serambi I, satu buah dengan ruang perpustakaan, dan satu buah dengan ruang pawestren. Di dindingnya terdapat jendela-jendela kaca.

Di dalam ruang utama terdapat mihrab dan mimbar. Mihrab berada di dinding barat ruang utama yang mempunyai ukuran 185 x 330 cm. Mihrab dihiasi tiga tiang bulatan dan bagian atas tiang ini berbentuk bunga teratai. Bagian atas mihrab dihiasi dengan lengkungan dua buah. Mimbar terletak di ruangan mihrab, bentuknya sederhana terbuat dari kayu.

Dinding ruang utama terbuat dari tembok. Dinding asli ruang utama terbuat dari bata yang dipasang dengan tanah liat dan tidak dilepa. Sebagian dinding yang masih asli kelihatan pada bagian luar ruang utama. Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang perpustakaan tempat menyimpan buku-buku keagamaan dan al-Quran. Atap ruang utama berbentuk tumpang tiga terbuat dari genteng dan berpuncak bulan bintang ini terbuat dari sirap dan kemuncaknya berbentuk tempayan terbalik.

Serambi I
Bangunan serambi I berada di sebelah barat serambi II dengan ukuran ruang 10,40 x 11,80 m. Bangunan serambi I telah mengalami perbaikan dan penambahan bagian ruang. Penambahan ini menurut informasi dari masyarakat terjadi pada tahun 1940. Penambahan ini untuk memperluas ruang dengan membuat delapan tiang segi delapan. Tinggi pagar tembok pada serambi I adalah 92 cm dan atap bangunannya terbuat dari genteng. Di sebelah selatan bangunan serambi I terdapat ruang terbuka tempat bedug untuk memanggil jemaah shalat apabila waktunya telah tiba. Bedug ini terbuat dari kayu dan kulit kambing yang keadaannya sudah rusak.

Serambi II
Bangunan serambi II terletak di sebalah barat tempat berwudhu dan menurut informasi dari masyarakat bahwa serambi ini dibangun pada tahun 1989 oleh pengurus masjid karena alasan kebutuhan ruang. Ukuran serambi II 14,93 x 10,00 m. Lantainya dari tegel wama abu-abu (20 x 20 cm). Atap serambi II terbuat dari seng. Beda tingggi serambi II dengan serambi I sekitar 55 cm.

Pawestren
Pawestren adalah bangunan yang berfungsi untuk tempat shalat wanita terletak di sebelah utara ruang utama dan berukuran 17,17 x 6 m. Lantai terbuat dari plesteran yang sekarang ditutup karpet berwarna hijau. Pintunya yang berada di sebelah timur terbuat dari kayu.

Tempat, wudhu
Tempat wudhu terletak di sebelah timur bangunan serambi II, terbuat dari bata dan campuran semen dengan beberapa kran untuk mengalirkan air. Sedangkan kamar mandi dan WC terletak di sebelah utara tempat wudhu tersebut. Menurut informasi dari masyarakat, dahulu tempat wudhu berada di sebelah selatan dari tempat wudhu yang ada sekarang. Tempat wudhu itu berbentuk kolam yang airnya mengalir melalui pipa-pipa lama yang sekarang sudah ditutup oleh jalan Asahan dan sebagian lagi tertutup oleh plesteran halaman masjid.

Latar Sejarah
Masjid Donopuro Taman didirikan oleh Bupati Madiun, Pangeran Mangkudipuro pada tahun 1725 M. Selain mendirikan Masjid Donopuro Taman, beliau juga mendirikan makam keluarga yang berada di belakang masjid. Ketika terjadi pemberontakan Sawo, Pangeran Mangkudipuro diberi tugas untuk memadamkan pemberontakan itu, tetapi usaha pangeran gagal, sehingga ia dipindahkan ke Kabupaten Caruban sebagai bupati. Sedangkan penggantinya adalah Pangeran Raden Ronggo Wedono yang merangkap sebagai bupati wedono di Mancanegara Timur. Tahun 1940 dilakukan perluasan ruangan bangunan serambi I dan pembuatan segi delapan dan pada tahun 1989 pembuatan bangunan serambi II.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.191-193, Deposit : CB-D13/1999-339.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Madiun [Kota], Sejarah, Wisata, Wisata Relegi dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s